Mengenal Observatorium Bosscha, Lembang Tentang Mewujudkan Mimpi

Mengenal Observatorium Bosscha, Lembang bermula dari seorang astronom Belanda bernama Dr Joan George Erardus Gijsbertus Voûte bermimpi bisa membangun pusat penelitian antariksa di pulau Jawa.
Pada masa yang sama seorang pemilik perkebunan teh Malabar dan Pangalengan, bernama Karel Albert Rudolf Bosscha juga mempunyai mimpi yang sama.
KAR Bosscha selain pemilik perkebunan juga pemerhati pendidikan bagi anak-anak pribumi, sehingga ia mendirikan sekolah dasar terutama bagi anak-anak karyawan dan buruh perkebunan.

Ketika pemerintah Hindia Belanda mendirikan perguruan tinggi Technische Hoogeschool te Bandung, yang sekarang menjadi Institut Teknologi Bandung, Bosscha adalah Ketua College van Directeureun (Majelis Direktur) yang mengurus kebutuhan material mulai dari pembangunan hingga kegiatan akademik.
Kecintaan Bosscha pada ilmu pengetahuan termasuk astronomi membawanya menjadi penyandang dana pembangunan Observatorium yang telah lama diharapkan oleh Nederlands-Indische Sterrenkundige Vereeniging (NISV), Perhimpunan Pengamat Bintang Hindia Belanda.

Lokasi Observatorium Bosscha, Lembang

Mengenal Observatorium Bosscha berada pada ketinggian 1310 m dari permukaan laut, atau pada ketinggian 630 m dari plato Bandung. Nama Observatorium ini diambil dari nama sponsor utamanya, Karel Albert Rudolf Bosscha (1865-1928), seorang pemilik tanah yang memiliki perkebunan teh di daerah Malabar.
Lokasi observatorium dipilih dengan memperhatikan geomorfologi area di sekitar kota Bandung, yaitu dipilih kota Lembang. Kota Lembang sendiri terletak di patahan sesar Lembang sehingga pemilihan lokasi memperhatikan peta geologi, di atas bukit batu yang lebih stabil.
Pembangunan observatorium melibatkan arsitek C.P. Wolff Schoemacher yang mendesain dengan amat cermat dan penuh perhitungan. Desain dan konstruksinya memakan waktu lima tahun, sejak 1923 hingga 1928.

Fasilitas di Kompleks Observatorium Bosscha

Bosscha pun melengkapi observatorium ini dengan teleskop raksasa Refraktor Ganda Zeiss dengan diameter masing-masing 60 cm dan panjang 11 meter yang khusus dipesan ke Jerman. Perusahaan optic ternama Carl Zeiss Jena membutuhkan waktu tujuh tahun untuk menyelesaikan pesanan teropong sesuai spesifikasi. Teleskop ini dibawa oleh Rotterdamsche Llyod berlabuh di Batavia, kemudian diangkut oleh dua puluh tujuh peti kemas berbobot 30 ton dengan kereta api ke Bandung. Dari Bandung dibawa ke Lembang dengan bantuan batalyon Genie, Angkatan darat Hindia Belanda.
Biro Bangunan Perusahaan Jawatan Kereta Api (S.S) merupakan pelaksana pembangunan bangunan beton berkubah dengan instrumennya yang canggih, termasuk bantalan rel untuk memutar kubah dan lantai tempat meneropong yang bisa dinaik-turunkan.
Fasilitas Observatorium Bosscha.

Gedung observatorium terletak di tanah seluas 6 hektar, sumbangan dari keluarga Urzone, seorang pengusaha susu di Lembang. Lokasinya terletak di ketinggian 1300 dml, 15 km dari kota Bandung, dengan koodinat 1070 36’’ Bujur Timur dan 60 4” Lintang Selatan.
Waktu itu saya datang ke Observatorium bersama rombongan Historical Trips, Bandung. Kami lapor ke loket pembelian tiket dan berkumpul terlebih dahulu di lapangan tak jauh dari situ untuk mendengarkan penjelasan tentang tata surya. Sesudahnya kami berjalan menuju ke Gedung Kubah yang merupakan bangunan utama di kompleks Observatorium Bosscha.

Gedung Kubah

Gedung Kubah merupakan bangunan berbentuk silinder beratap kubah menghadap ke timur. Bangunan terdiri dari dua bagian, yaitu badan bangunan dan atap kubah yang bisa berputar dan terbuka atap kubahnya menyerupai celah selebar 3 meter. Atap kubah beratnya 56 ton dan diameternya 14.5 meter, penutup atap lapisan luar terbuat dari baja setebal 2 mm dan bagian dalamnya berlapis asbes.
Bagian pintu masuk (entrance) merupakan area penerima yang tidak terlalu luas. Denahnya sendiri merupakan lingkaran berdiameter 11 meter, terdiri dari lantai tempat meneropong dan jalur sirkulasi selebar 1.5 meter mengelilingi lantai teropong.
Lantai teropong beratnya 12 ton dapat dinaik-turunkan sesuai kebutuhan pada saat meneropong menggunakan motor listrik. Sedangkan membuka celah kubah agar teleskop dapat meneropong langit luas cukup dengan memutar roda katrol dengan tangan.
Pada waktu celah kubah terbuka yang ada adalah keseruan decak kagum pengunjung observatorium.

Jenis-jenis Teleskop

Mengenal Observatorium Bosscha tentunya harus mengenali bangunan-bangunan lain yang berderet di depan gedung kubah ternyata bukan rumah tinggal, tetapi merupakan rumah untuk teleskop lainnya.
Ada beberapa teropong yang ada di kompleks Observatorium Bossha:

  • Teleskop Refraktor Ganda Zeiss
  • Teleskop Refraktor Zeiss dari R.A. Kerkhoven
  • Teleskop Schmidt Bima Sakti
  • Teleskop Refraktor Bamberg
  • Teleskop Cassegrain GOTO
  • Teleskop Refraktor Unitron
  • Teleskop Refraktor Secretan

Fasilitas Penunjang

Fasilitas penunjang lainnya di kompleks Observatorium Bosscha adalah ruang audivisual, ruang baca, toko souvenir, toilet dan wc umum, dan mushola.
Selepas melihat cara mengoperasikan teleskop, peserta Historical Trips kemudian berfoto bersama dan menuju ruang audiovisual untuk mendengarkan penjelasan tentang astronomi dan menonton film pendek. Filmnya menceritakan adanya teori kehidupan lain selain di bumi, kemungkinan besar planet Mars. Jadi, siap-siap dalam waktu dekat sebagian mahluk bumi bisa pindah ke Mars. Selepas itu acara bebas, teman-teman pun menyambangi toko souvenir untuk membeli cenderamata khas Observatorium Bosscha.

Penutup

Karena padatnya perkembangan kota Lembang sebagai daerah tujuan wisata di Kabupaten Bandung membuat terang langit di malam hari terganggu dengan banyaknya cahaya lampu dari rumah atau gedung-gedung.

Sekarang ini Indonesia telah membangun sebuah observatorium di Gunung Timau di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi tempat observatorium terbesar di Asia Tenggara.
Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) memaparkan alasan wilayah Kupang memiliki waktu langit cerah paling banyak dalam setahun dibanding tempat-tempat lain di Indonesia.

Sedangkan Observatorium Bosscha di Lembang tetap difungsikan sebagai fasilitas penelitian dari kampus dan bangunannya dikategorikan sebagai bangunan Cagar Budaya Nasional

Semoga bermanfaat.

Tinggalkan komentar