Desain Istana Negara Untuk Ibu Kota Negara di Kalimantan Timur

Desain Istana Negara yang rencananya akan dibangun di calon Ibu Kota Negara ramai dibahas dan mendapat kritikan dari berbagai pihak. Ini pertama kalinya memang Indonesia akan membangun sebuah istana negara untuk presiden. Selain itu ini juga pertama kalinya Indonesia akan mendesain sebuah ibu kota negara di tempat baru, rencananya dipindahkan dari Jakarta di pulau Jawa ke Kalimantan Timur.
Apa-apa yang telah digunakan setelah lebih dari 76 tahun Indonesia merdeka adalah warisan dari pemerintah kolonial Hindia Belanda.
Nah, lepas dari kontroversi perlu tidaknya harus memindahkan ibu kota negara, atau ngabisin duit aja membangun istana negara baru. Yuk kita simak saja desain Istana Negara tersebut ya…

Sejarah Istana Negara

Istana Koningsplein

sumber: Tropen Museum

 

Menurut sejarahnya, istana negara sejak Presiden pertama Ir. Soekarno hingga presiden ke-7 yang dijabat oleh Ir. Joko Widodo, menggunakan Istana Merdeka.
Istana Merdeka ini awalnya dibangun tahun 1873 di masa pemerintahan Gubernur Jenderal James Loudon, menghadap ke arah Koningsplein (sekarang Medan Merdeka). Istana ini diberi nama Paleis te Koningsplein (Istana Koningsplein) dirancang oleh Jacobus Bartholomeus Drossaers, diresmikan tahun 1879 pada pemerintahan Gubernur Jenderal Wilhelm van Lansberger yang menelan biaya 360.000 gulden.

Ketika Indonesia menyatakan kemerdekaannya, Istana Koningsplein menjadi saksi sejarah penandatanganan kedaulatan Republik Indonesia dan pengibaran bendera Merah Putih pertama kali pada tanggal 27 Desember 1949. Pekik kegirangan Merdeka! Merdeka! Menjadi awal istana ini menjadi awal dinamakan Istana Merdeka.

Selama Indonesia merdeka, presiden yang mendiami Istana Merdeka adalah Presiden Sukarno, Presiden Abdurrahman Wahid, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dan Presiden Joko Widodo.
Kini Istana Merdeka digunakan untuk penyelenggaraan acara-acara kenegaraan, antara lain Peringatan Detik-detik Proklamasi, upacara penyambutan tamu negara, dan penyerahan surat-surat kepercayaan duta besar negara sahabat.

Desain Istana Negara Menang Sayembara

Desain Istana Negara untuk Ibu Kota Negara baru di Kalimantan ini menuai pro dan kontra. Ada 5 organisasi profesi yang menyatakan kekecewaannya dengan ditetapkannya sebuah desain Istana Negara oleh Presiden Joko Widodo. Organisasi profesi tersebut adalah Asosiasi Profesi Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), Green Building Council Indonesia (GBCI), Ikatan Ahli Rancang Kota Indonesia (IARKI), Ikatan Arsitek Lanskap Indonesia (IALI), dan Ikatan Ahli Perencanaan Wilayah dan Kota (IAP)
Menurut informasi dari beberapa media online, desain ini dipilih dari hasil sayembara Istana Negara oleh Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Di sisi lain, seniman Nyoman Nuarta menjadi sosok dibalik desain patung Garuda yang dipilih dari hasil sayembara Istana di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) Ibu Kota Negara oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).
Nuarta mengungkapkan, dirinya mendapatkan undangan yang ditandatangani oleh Direktur Bina Penataan Bangunan, Ir Diana Kusumastuti, MT. Dalam lampiran surat tertanggal 25 Februari 2020 tersebut, disebutkan nama-nama pejabat dan ahli yang diundang di antaranya Ketua Satgas Perencanaan Pembangunan Infrastruktur IKN, Ketua Bidang Penataan Kawasan, Gregorius Antar Awal (IAI), Gregorius Supie Yolodi (IAI), Isandra Matin Ahmad (IAI), Sibarani Sofian (MUDO), Nyoman Nuarta, Pierre Natigor Pohan, Grace Christiani, Dian Ratih N Yunianti, M Iqbal Tawakal dan Achmad Reinaldi Nugroho.

Pertama kali memang waktu melihat hasil desain berupa burung Garuda tersebut masyarakat, termasuk saya, heran, kok bangunan berupa bentuk burung ya?
Dalam ilmu Arsitektur mendesain bangunan yang bentuknya menyerupai bentuk alam dinamakan analog. Sedangkan menyerupai atau mengambil hanya sebagian saja dinamakan metafora.
Ternyata bentuk burung Garuda tersebut bukan ujud bangunannya, Istana Negara ada di baliknya. Apa yang kita lihat sebagai bentuk burung tersebut merupakan elemen luar ruang.

Nyoman Nuarta Desainer Istana Negara

Masyarakat Indonesia mungkin tak asing lagi dengan nama I Nyoman Nuarta sebagai pematung kelahiran Tabanan, Bali, lulusan Institut Teknologi Bandung tahun 1979. Karya-karya beliau yang terkenal adalah Monumen Proklamasi Indonesia, Monumen Jalesveva Jayamahe, dan Garuda Wisnu Kencana.

Beliau menetap di Bandung dan bagi kalian yang berkunjung ke Bandung bisa mengunjungi Museum NuArt Sculpture Park. Museum adalah sebuah museum galeri seni patung yang memamerkan karya-karya Nyoman Nuarta dan kisah perjalan beliau berkarya.
NuArt Sculpture Park ini berlokasi di Jalan Setraduta KII/11, Bandung, Jawa Barat ini merupakan lokasi wisata seni yang ada di Bandung, lengkap dengan Cafe, Restoran, dan panggung diskusi.

Desain karya tim Nyoman Nuarta memang telah ditetapkan dikembangkan lebih lanjut menjadi Istana Negara di Ibu Kota Negara yang akan datang. Untuk itu sebagai proyek besar tidak mungkin beliau kerjakan sendiri, berbeda dengan karya patung sebagai karya monumen.

Penutup

 

Menurut program kerja pembangunan Istana Negara maka akan melibatkan berbagai tim ahli mulai dari profesor, dokter, ahli struktur, ahli green building, ahli jalan, ahli jembatan, dan profesi lain yang kompeten.
Bukan hanya Istana Negara saja yang akan didesain, akan ada bangunan-bangunan lain yang rencananya juga disayembarakan agar memberi peluang seluas-luasnya kepada warga negara Indonesia untuk turut serta mewujudkan Ibu Kota Negara yang bernama Nusantara.

Bangunan-bangun tersebut antara lain, Istana Wakil Presiden, komplek DPR/MPR/DPD, Mahkamah Agung, Kementerian/Lembaga, masjid, gereja Katolik dan Protestan, pura, wihara, dan kelenteng. Seluruhnya terdapat 12 konsep gedung yang disayembarakan. Yang akan menempati Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP).

Semoga bermanfaat.

 

Pro Kontra Desain Istana Negara

Tinggalkan komentar