Tradisi Meugang

meugang

Inibangsaku.com – Bangsa yang besar selalu dicirikan kekayaan budaya dan adat istiadat. Kekayaan ini dapat bermakna mempunyai keanekaragaman bentuk maupun kedalaman nilai yang terkadung dalam adat budaya dimaksud. Aceh sebagai satu bangsa yang memiliki sejarah panjang memiliki berbagai tradisi yang kaya nilai. Tradisi yang berkembang dalam masyarakat pada umumnya merupakan bentukan budaya yang tersarikan dari nilai-nilai agama. Dari sinilah kemudian muncul hadih maja: Adat ngon hukom lagee zat ngon sifeut. Hadih maja tersebut menuturkan adanya integrasi antara nilai ajaran Islam dengan tradisi yang berkembang dalam masyarakat.

Satu tradisi yang unik dan kaya nilai yang tetap hidup dalam tatanan masyarakat Aceh adalah tradisi meugang. Tradisi ini hanya ada dalam adat budaya masyarakat Aceh, tidak ditemukan dalam tatanan adat di daerah lain. Secara sederhana tradisi meugang ini dipahami sebagai tradisi atau kebiasaan masyarakat Aceh mengonsumsi daging secara serentak dua atau satu hari menjelang datangnya bulan Ramadhan dan menjelang hari raya. Tradisi unik ini ditandai dengan penjualan daging secara massal hampir di setiap pasar bahkan di setiap persimpangan jalan yang dilalui masyarakat banyak.

Sejak mulai pagi hari masyarakat secara berbondong-bondong turun ketempat penjualan daging untuk merayakan tradisi meugang ini. Di sini dikatakan secara serentak dan massal, ini karena memang semua orang Aceh menjadikan tradisi “berdaging ria” ini sebagai sebuah kewajiban adat, baik kalangan orang kaya maupun kalangan miskin. Mungkin tradisi meugang (makan daging serentak) ini juga yang menyebabkan harga daging lembu di Aceh menjadi harga daging tertinggi di dunia.

Semiskin apa pun sebuah keluarga, pasti jauh-jauh hari sudah mempersiapkan uang seadanya walau hanya untuk membeli satu kilogram daging pada hari meugang (uroe makmeugang). Seorang ayah akan merasa gagal menjadi seorang ayah bila tidak dapat membeli daging pada hari meugang. Apalagi bagi seorang penganti baru akan menjadi hal yang memalukan sekaligus aib jika tidak membawa pulang daging ke rumah mertuanya. Dengan kata lain, tradisi meugang ini tidak hanya sebatas tradisi tapi juga masalah harga diri atau gengsi.

Harga diri
Mungkin karena difahami sebagai gengsi atau harga diri, terkadang masyarakat Aceh dari jauh hari telah mempersiapkan bekal yang cukup untuk hari meugang sekaligus untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan. Sebab ada juga sebuah prinsip yang muncul dalam masyarakat Aceh bahwa bulan Ramadhan bukan saatnya mencari rezeki melainkan hanya untuk meningkatkan ibadah, sehingga sering kita dengar ungkapan sithon mita sibuleun pajoh. Kita mencari nafkah selama selama setahun dinikmati selama bulan puasa.

Meskipun dalam kenyataannya ada juga sebagian masyarakat yang memanfaatkan bulan Ramadhan sebagai momen yang tepat untuk mencari nafkah, sebab mencari nafkah yang halal juga merupakan bagian dari ibadah. Dalam konteks tradisi meugang sebagai harga diri ini terkadang muncul ironi. Mendekati datangnya tradisi meugang biasanya akan terjadi beberapa ironi sosial, tingkat pencurian, perampokan, penodongan dan segala macam tindak kriminal bermotif ekonomi cenderung meningkat.

You may also like...

0 thoughts on “Tradisi Meugang”

Leave a Reply

Bangsaku TV

FACEBOOK INIBANGSAKU

TWITTER INIBANGSAKU

<