Tradisi Kubur Tempayan di Lolo Gedang, Jambi

Kubur tempayan dalam khasanah arkeologi Indonesia merupakan kuburan manusia dengan menggunakan wadah tempayan dari tanah liat. Penelitian terdahulu menunjukkan kubur tempayan antara lain ditemukan di Melolo, Nusa Tenggara Timur (Heekern,1956), Lambanapu, Nusa Tenggara Timur (Yuliati,1998), Gilimanuk, Bali (Soejono,1969), Plawangan, Jawa Tengah (Prasetyo,1994), Kunduran dan Muara Betung, Sumatera Selatan (Soeroso,1998), Muara Payang, Sumatera Selatan (Indriastuti,2002), Padang Sepan, Bengkulu (Indriastuti,2003).

Di Jambi kubur tempayan ditemukan di Lebak Bandung, Kota Jambi (Widiatmoko,1997), Renah Kemumu, Merangin (Bonatz,2005; Budisantosa,2006), Lubuk Mentilin, Merangin (Budisantosa,2007), dan Lolo Gedang, Kerinci (Sudaryadi,2007). Di luar Indonesia, kubur tempayan ditemukan di Vietnam dan Filipina.

Lolo Gedang merupakan sebuah desa yang berada sekitar 23 km di sebelah tenggara dari Sungai Penuh, ibukota Kabupaten Kerinci. Di desa Lolo Gedang ditemukan juga benda megalit yang disebut ?batu gong?. Benda megalit berada 1,5 km di sebelah selatan dari kubur tempayan. Juga, ditemukan alat-alat obsidian ?mikrolit? di area perkebunan Belanda yang bernama Danau Gedang Estate (Heekern,1972) dan yang sekarang berubah nama Kebun Baru Lolo.

Baru-baru ini tim penelitian dari Balai Arkeologi Palembang yang dipimpin oleh Tri Marhaeni S. Budisantosa melakukan ekskavasi kubur tempayan di Lolo Gedang. Eksksvasi membuka sepuluh kotak ekskavasi berukuran 2×2 meter. Dalam lima kotak di antaranya ditemukan kubur tempayan. Keadaannya pecah atau retak. Tempayan cenderung rebah atau miring ke arah bawah lereng (timur). Hal itu diduga karena proses alamiah, yaitu gaya tekan tanah dari arah lereng atas ke bawah yang berlangsung secara terus menerus. Namun, tanah yang mengisi tempayan diduga telah berlangsung sejak tempayan ditimbun tanah karena tempayan tidak ditutup. Jadi, yang ditemukan di Lolo Gedang merupakan tempayan tunggal, bukan tempayan sepasang sebagaimana ditemukan di Melolo, Gilimanuk, Plawangan, Kunduran, dan Muara Betung. Kubur tempayan di Lolo Gedang bervariasi dalam hal ukuran, kedalaman, dan artefak yang berada di dalamnya.

Tempayan besar cenderung berada lebih dalam daripada tempayan kecil. Dalam tempayan ditemukan sisa tulang yang telah hancur serta arang. Juga, ditemukan benda bekal kubur berupa wadah tembikar berbentuk buli-buli dan cawan. Sebelumnya penduduk menemukan kendi tanpa cerat dalam tempayan. Dalam tempayan ditemukan satu jenis wadah saja. Benda bekal kubur lainnya adalah benda perunggu berukuran kecil yang diduga liontin karena pada salah satu ujungnya berlobang. Dalam tempayan penduduk juga menemukan miniatur nekara perunggu. Hancuran benda perunggu hampir ditemukan dalam seluruh tempayan yang ditemukan. Jenis benda bekal kubur ketiga yang ditemukan adalah benda bulat seperti koin. Koin tersebut dibuat dari tanah liat hitam halus. Pada sisinya dihias goresan berbentuk bunga mekar berkelopak delapan. Salah satu koin hanya dihias pada satu sisi saja. Benda berbentuk koin hanya ditemukan dalam satu tempayan.

Secara umum kubur tempayan Lolo Gedang memiliki persamaan dengan daerah lainnya di Indonesia. Kubur tempayan di Lolo Gedang tampak perbedaan dalam ukuran, kedalamannnya dalam tanah, dan bekal kubur yang semuanya menunjukkan perbedaan cara penguburan dalam suatu komuniti. Perbedaan tersebut boleh jadi berkaitan dengan umur individu, jenis kelamin, dan status sosialnya. Selain itu, keberadaan bekal kubur menunjukkan kepercayaan adanya kehidupan setelah mati.

Sumber :

www.wacananusantara.org

Tags

You may also like...

0 thoughts on “Tradisi Kubur Tempayan di Lolo Gedang, Jambi”

Leave a Reply

Bangsaku TV

FACEBOOK INIBANGSAKU

TWITTER INIBANGSAKU

<