Tradisi Iket Sunda Dan Bentuk Pelestariannya Kini

dian Budaya 1,579 views 0 0
iket-kepala
Inibangsaku.com – Berkeinginan melestarikan budaya warisan leluhur, sekelompok anak muda ini melakukannya dengan cara unik, yaitu dengan menggunakan ikat kepala tradisional atau disebut juga iket.

Iket atau totopong (Sunda) atau udeng (Bali) adalah penutup kepala dari kain, merupakan bagian dari kelengkapan sehari-hari pria. Pada masa lalu menjadi keharusan karena dipercaya melindungi mereka dari roh-roh jahat, selain untuk fungsi-fungsi praktis, seperti wadah /pembungkus, selimut, bantalan untuk mengangkut beban di kepala.

Seiring waktu, penggunaan iket kini juga diperuntukkan sebagai aksesori yang merupakan kelengkapan berbusana. Bahkan, bagi pecinta iket yang tergabung dalam Komunitas Iket Nusantara (KIN), penggunaan iket mencirikan sebagai orang yang peduli dalam melestarikan budaya.

KIN adalah silaturahim antarkomunitas budaya di Nusantara yang saling berikatan dalam wadah kesatuan Indonesia melalui pemakaian iket kepala khususnya dan produk seni budaya luhung (warisan leluhur) pada umumnya.

KIN adalah tahap kelanjutan dari KIS (Komunitas Iket Sunda) yang ingin memperluas rasa budaya antarbudaya daerah yang ada di Nusantara. Sejalan dengan perjalanan, pertumbuhan KIS semakin besar. Dari pupuhu KIS dan KISC (Komunitas Iket Sunda Cirebon) menyepakati untuk mengembangkan tahapan lanjutan dari KIS, yaitu Komunitas Iket Nusantara, pada tanggal 3 Oktober 2013.

“Tujuan dibentuknya Komunitas Iket Nusantara adalah silaturahim dan komunikasi antarbudaya lokal di Indonesia dengan dasar Bhinneka Tunggal Ika melalui kegiatan,” ujar salah satu pendiri KIN, Andri Hermawan.

Anggota Komunitas Iket Nusantara adalah semua orang yang mencintai budaya luhur Tanah Airnya (daerahnya) dengan berkegiatan melestarikan budaya tersebut dan mengembangkan untuk diterapkan dalam kehidupan sehari hari.

Sementara itu, agenda kegiatan rutin dari Komunitas Iket Nusantara adalah silaturahim dengan saling mengenal di dunia maya (internet) dan dalam kegiatan pertemuan langsung berupa acara saling berkunjung, kegiatan gathering menampilkan kesenian masing-masing sehingga timbul rasa saling mengetahui keragaman budaya selanjutnya dan menjadi saling menghargai.

“Saat ini, komunikasi masih di media internet pada tahap saling mengenal dan merencanakan hal-hal yang akan meningkatkan hubungan antarbudaya di Nusantara. Bahasan lain saat berkumpul adalah data masing-masing produk iket budaya yang menyangkut sejarahnya, keragaman bentuk, filosofi, motif, dan lainnya,” papar Andri.

Lalu, apa sebenarnya yang menarik dari iket? Andri menjelaskan iket tidak hanya menarik secara fungsi, yakni melindungi kepala, tetapi juga menarik secara estetika karena terlihat unik dan indah saat dipadukan dengan pakaian yang dikenakan.

“Orang tua kita menciptakan iket kepala tentu bukan sekadar fungsi, tapi mengandung esensi, filosofi, dan pesan-pesan moral budi pekerti,” imbuh Andri.

Sementara itu, produk iket yang digunakan KIN adalah iket yang sudah bisa dipergunakan dan yang sudah ada, seperti iket kepala di Sunda, udeng di daerah bali, beberapa iket budaya Madura, beberapa daerah Sumatra, dan daerah lainnya, juga mencoba mengembangkan kreasi baru sehingga tampilan iket kepala lebih trendi dan bisa pantas dipakai dalam kegiatan sehari-hari.

Karena KIN masih tergolong baru, event yang diikuti pun baru sebatas menggelar konsep budaya Iket Nusantara, seperti di event Pasar Seni ITB di Jakarta (Parkir Timur Senayan) bulan November 2013 lalu, dan ini merupakan momen awal mereka untuk mengembangkan Iket Nusantara ini lebih berkembang.

Sebagai rencana kegiatan ke depan, KIN secara bertahap akan mencoba mengadakan pameran, workshop, diskusi, dan panggung hiburan seni budaya yang dihadiri oleh pemakai iket kepala beberapa daerah.

“Selain itu, juga membuat website yang bisa dijadikan media komunikasi efektif antar-member, saling berkunjung/ silaturahim untuk mempererat/ memperkuat kegiatan selanjutnya,” ungkap Andri.

Khusus kepada pemerintah, KIN berharap agar mendapatkan dukungan berupa kesempatan dalam pameran-pameran budaya atau produk budaya sehingga masyarakat mengetahui kegiatan Iket Nusantara dan akhirnya bisa ikut serta menjadi anggota atau mendukung media promosi sehingga penyebaran tujuan komunitas ini lebih cepat berkembang.

Rupa-rupa Iket Sunda

Iket, totopong, atau udeng adalah tutup kepala yang terbuat dari kain dengan corak khas budaya Sunda. Fungsi utama iket Sunda ini adalah sebagai pelindung kepala dari panas matahari, angin, dan cuaca, tetapi lebih terkenal sebagai pelengkap atau aksesori busana Sunda.

Sebagai salah satu hasil seni budaya Jawa Barat ini, keberadaan iket harus tetap dilestarikan sehingga tetap dikenal oleh anak-anak muda generasi penerus suku Sunda. Kang Mochamad Asep Hadian Adipradja di Pulasara Iket membagi rupa iket menjadi tiga kategori.

1. Iket Reka-an Baheula

Iket Réka-an Baheula adalah rupa iket yang penggunaannya sudah menjadi tradisi sehari-hari dan sudah ada sejak dulu di kampung-kampung adat Sunda tanpa dipengaruhi unsur seni dari luar. Contoh rupa iket ini adalah yang biasa dipakai oleh orang tua. Mereka sudah mengenakan rupa iket ini sejak remaja (anak-anak), dan sampai sekarang pun tetap memakainya.

Adanya beberapa kunjungan wisata dari kota/tempat lain di mana para pengunjung tersebut mengenakan iket budaya lain yang sedikit berbeda terkadang dapat memengaruhi suatu rupa iket Sunda, bahkan tertarik untuk menirunya yang pada akhirnya terjadi transformasi bentuk. Mochamad Asep mengambil patokan tahun yang dikatakan rékaan baheula adalah sebelum tahun 1999 karena pada tahun tersebut Museum Sri Baduga telah membuat beberapa artikel mengenai penutup kepala. Yang termasuk Iket Réka-an Baheula ialah sebagai berikut.

1. Iket Barangbang Semplak
2. Iket Julang Ngapak
3. Iket Kuda Ngencar
4. Iket Parekos Nangka
5. Iket Parekos Jengkol
6. Iket Kekeongan (Borongsong Keong : Banten)
7. Iket Maung Heuay
8. Iket Porteng

2. Iket Reka-an Kiwari

Iket Réka-an Kiwari adalah rupa iket hasil karya dari sendiri (pribadi) sesuai dengan ide, inspirasi, dan kreasi yang disenanginya. Namun, prinsipnya, tetap menggunakan jenis kain yang sama, yaitu kain juru opat (segi empat). Iket Reka-an ini merupakan bentuk dari penemuan, imajinasi, atau surup-an dari hal hal tertentu, bahkan mungkin saja rupa Iket Reka-an ini adalah hasil dari rupa iket Buhun yang dilahirkan kembali setelah bertahun-tahun tidak diketahui. Hal itu bisa dibuktikan melalui beberapa saksi hidup dari dari generasi penerusnya.

Menurut Mochamad Asep Hadian Adipradja dari Pulasara Iket, rupa Iket Rekaan Kiwari ini mulai banyak di temukan pada tahun 2011 hingga sekarang. Yang termasuk Iket Réka-an Kiwari ialah sebagai berikut.

1. Iket Candra Sumirat
2. Iket Maung Leumpang
3. Iket Hanjuang Nangtung

3. Iket Praktis

Iket Praktis ini adalah rupa iket tinggal pakai atau sudah jadi sehingga para pengguna tidak lagi perlu mengikat atau membentuk iket dengan teknik-teknik tertentu, tetapi dapat langsung dipakai. Rupa Iket Praktis ini mulai dikenal sejak tahun 2008. Sama seperti rupa iket lain, rupa Iket Praktis ini memunyai corak dan warna yang bervariasi tetapi masih sama menggunakan kain juru opat (segi empat). Contoh rupa Iket Praktis di antaranya sebagai berikut.

1. Iket Praktis Parekos
2. Iket Praktis Makuta Wangsa
3. Iket Praktis Mancala Putra

Makna Filosofis Iket Sunda

Kalimat “…saceundeung kaen” mengandung arti selembar kain yang sering digunakan sebagai penutup kepala. Di Tatar Sunda, kain itu disebut totopong, iket, ataupun udeng. Pemakaian iket berkaitan dengan kegiatan sehari-hari.

Tidak ada bukti tertulis mengenai sumber sejarah tentang penamaan iket atau yang sekarang disebut rupa iket.

Akan tetapi, dalam perkembangan zaman, penamaan untuk rupa iket menjadi bagian dari kebudayaan yang mengandung nilai dan makna tersendiri. Penamaan atau rupa iket dikategorikan sesuai zamannya, yaitu iket buhun (kuno) dan iket kiwari (sekarang).

Untuk iket buhun, ada yang berupa bentuk iket yang telah menjadi warisan secara turun-temurun dari para leluhur, ada pula rupa iket yang lahir dari kampung adat. Sementara itu, untuk iket kiwari, iket tersebut merupakan rekaan dari beberapa orang yang memiliki rasa kebanggaan terhadap budaya iket buhun dan kreativitas dari nilai kearifan lokal.

Bahkan, beberapa rupa iket kiwari itu masih memiliki cirri-ciri yang mengacu pada pola rupa iket buhun. Beberapa nama rupa iket buhun yang dikenal oleh sebagian besar umumnya adalah Barangbang Semplak, Parekos Jengkol, Parekos Nangka, dan Julang Ngapak.

Parekos atau paros memiliki arti “menutup”, artinya tipe rupa iket yang menutup bagian atas kepala atau hampir membungkus.Dalam perupaan iket, di dalamnya terkandung filosofi. Hal inilah yang membuat iket itu menjadi salah satu warisan leluhur yang mengandung nilai yang begitu tinggi adanya.

Seperti filosofi yang terkandung dalam rupa iket Julang Ngapak yang konon dahulunya dipakai khusus oleh para pandita kerajaan atau disebut purahita. Filosofi yang terkandung berdasar pada laku hidup seekor burung julang.

Tipe burung ini, sebelum mendapatkan sumber air tersebut, mereka tidak akan berhenti mencari. Karakter inilah yang diadopsi menjadi simbol Julang Ngapak, yaitu bahwa kita jangan pernah lelah mencari sumber kehidupan (ilmu, darma, dan jati diri) sebelum mencapai hasil yang diinginkan.

Di luar rupa atau penamaannya, iket Sunda mengandung nilai filosofi yang dikenal dengan sebutan Dulur Opat Kalima Pancer. Dulur Opat merupakan empat inti kehidupan, yaitu api, air, tanah, dan angin, sementar Kalima Pancer mengandung makna berpusat pada diri kita sendiri.

Secara garis besar, Dulur Opat Kalima Pancer memiliki arti bahwa empat elemen inti tersebut terdapat pada diri kita dan berpusat menyatu sebagai perwujudan diri. Mengenai iket kiwari yang telah berkembang saat ini, penamaan dan bentuk tetap berdasar pada pola rupa iket buhun.

Tanpa mengurangi nilai luhur dari warisan leluhur, begitu pun iket kiwari memiliki nilai-nilai filosofi di dalamnya. Hal inilah yang menjadi bagian dari pelestarian budaya yang bersifat kreatif, tetapi tetap memegang teguh nilai kearifan lokalnya.

Terutama di kalangan generasi muda. Mereka memiliki cara pandang yang berbeda dalam membentuk iket, tetapi tetap memiliki acuan terhadap satu garis penciptaan karya buhun (kuno). Komunitas Iket Sunda (KIS) merupakan bentuk kreativitas sebagai wadah untuk melestarikan dan memperkenalkan budaya iket pada kalangan muda.

You may also like...

0 thoughts on “Tradisi Iket Sunda Dan Bentuk Pelestariannya Kini”

Leave a Reply

Bangsaku TV

FACEBOOK INIBANGSAKU

TWITTER INIBANGSAKU

<