Tentang Dr. Suharso

dian Sejarah 1,831 views 0 0
Biografi-Dr.-Suharso

Setelah  menyelesaikan pendidikan AMS (setingkat Sekolah Menengah Umum) Bagian B di Yogyakarta, Suharso memasuki Nederlandsch Indische Artsen School (sekolah dokter) di Surabaya. Pada tahun 1939, ia lulus dan bekerja sebagai asisten di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Surabaya. Karena bertengkar dengan seorang suster bangsa Belanda, ia dipindahkan ke Sambas, Kalimantan Barat. Saat Jepang mendarat di Indonesia, ia tetap berada di daerah Kalimantan. Sebagai seorang terpelajar, Suharso masuk dalam daftar tokoh di Kalimantan yang akan dibunuh Jepang karena dianggap berbahaya.

Mengetahui hal itu, Suharso segera berangkat ke Jawa dan bekerja di rumah sakit di Jebres, Solo. Beliau tetap menjadi incaran Jepang, tetapi berhasil selamat. Sesudah Indonesia merdeka, ia menyumbangkan tenaga membantu perjuangan dengan merawat para korban pertempuran. Diantara para korban itu banyak yang kehilangan tangan atau kaki. Suharso merasa iba melihatnya dan tidak ingin mereka kehilangan semangat hidup, terlebih mereka telah berjuang demi bangsa dan negara. Beliau kemudian mencoba membuat tangan dan kaki buatan.

Kebetulan di Perpustakaan Rumah Sakit ia menjumpai buku karangan Dr. Henry H. Kassler berjudul ”Rehabilitation of the hadicspped”. Dari buku itu dan prospektus lain-lainnya Dr.Soeharso memperoleh pengetahuan tentang rehabilitasi orang cacat. Ia lalu cepat-cepat mulai mencari orang yang bisa membuat desain tentang prothese atau tiruan alat tubuh. Pak Sukandar Itulah yang mula-mula membantu Dr.Soeharso dengan membuat gambar-gambar. Hampir tiap malam mereka berdua sibuk membuat rencana untuk mendirikan suatu Rehabilitasi Centrum untuk para penderita cacat.

Kemudian Suroto Reksopranoto membantu membuat kaki dan tangan tiruan. Mulailah Dr Suharso melakukan percobaan secara sederhana. Dr. Soeharso tidak hanya membatasi pada penyembuhan dari penyakit badaniah, tetapi juga memikirkan dan berusaha agar penderita dapat sehat kembali dengan kesanggupan dapat hidup secara layak. Mula-mula Dr. Soeharso menggunakan kayu jati untuk membuat bagian tubuh tiruan, tetapi ternyata terlalu berat. Ialu dipilihnya kayu waru yang tidak terlalu berat yang juga tidak lekas lapuk.

Pada waktu itu, sebagaimana layaknya seorang perintis, Dr. Soeharso terpaksa berjalan ke sana-kemari, menghubungi tokoh-tokoh dan instansi untuk mencari bantuan, perlengkapan dan dana. Beruntunglah, Kepala Rumah Sakit Jebres, Sala mengizinkannya menggunakan ruangan kecil, bekas bengkel mobil untuk bengkel kerjanya. Waktu itu, banyak rekan dokter yang terheran-heran melihat Dr. Soeharso bekerja dengan tekun untuk merehabilitasi penderita cacat. Mereka bertanya, ”Mengapa dokter Soeharso bekerja seperti tukang kayu? Padahal sebagai seorang dokter bedah ia sudah cukup pekerjaan dan dengan keahliannya itu ia tidak akan mengalami kesulitan hidup.”

Usaha beliau mendapat perhatian pemerintah sehingga pada tahun 1950 ditugaskan ke Inggris untuk mendalami ilmu prothese (anggota tubuh buatan). Sekembalinya dari lnggris, ia mendirikan Pusat Rehabilitasi (Rehabilitation Center) bagi para pasien yang kehilangan anggota tubuh di Solo. Pada tanggal 27 Pebruari 1971 Prof. Dr. Suharso meninggal dunia dan dimakamkan di Kelurahan Seboto, Kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali.

You may also like...

0 thoughts on “Tentang Dr. Suharso”

Leave a Reply

Bangsaku TV

FACEBOOK INIBANGSAKU

TWITTER INIBANGSAKU

<