Tempat Pembacaan Proklamasi yang Tinggal Kenangan

monpro

Inibangsaku.com – Republik  Indonesia lahir bukan karena hadiah Pemerintah Kerajaan Belanda atau Sekutu. Melainkan perjuangan dan pengorbanan jiwa dan raga rakyat. Namun, selepas 70 tahun negara ini bebas dari cengkereman penjajah, banyak sisi yang terlupakan dan juga tidak bisa dinikmati oleh sebagian masyarakat.

”Pada 17 Agustus 1945 dibacakan Proklamasi di Pegangsaan Timur yang sekarang berdiri di sana Gedung Pola. Maka di muka Gedung Pola itu ada tugu, tugu itu ditaruh persis di tempat yang dulu saya injak membacakan Proklamasi itu. Jadi kalau Saudara-Saudara ingin mengetahui tempat yang saya membacakan Proklamasi 17 Agustus 1945, tugu Pegangsaan Timur 56 itulah tempatnya. Di atas tugu itu diadakan gambarnya petir, gambar bledek, oleh karena di tempat itu dulu dibacakan naskah proklamasi. Dan naskah proklamasi itu memang boleh dikatakan petir, geledek, yang didengarkan oleh 5 benua dan 7 samudera!’’ (Pidato Bung Karno pada pembukaan Kongres Nasional ke-8 BAPERKI di Istana Olahraga Senayan, 14 Maret 1963)

Hampir setiap orang tahu bahwa naskah Proklamasi Kemerdekaan RI kali pertama dibacakan di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta, dan di tempat itu pula Bendera Pusaka yang dijahit Ibu Fatmawati kali pertama dikibarkan. Tapi, tidak semua orang mengetahui persis dimana letak bangunan itu, bagaimana sejarahnya, dan seperti apa keadaannya kini.

Bagi orang Jakarta yang lahir setelah generasi 1950-an pun barangkali tidak semua bisa mengenali dimana letak gedung tempat pengibaran Sang Merah Putih yang fotonya tak asing lagi karena terpampang di hampir semua buku yang mengupas sejarah berdirinya RI. Rumah yang jendelanya nyaris tertutup dengan kanopi kain bergaris seperempat lingkaran.

Jalan Pegangsaan Timur memang masih ada sampai sekarang. Tapi, ruas jalan yang namanya sangat melegenda itu sangat pendek, dan jangan harap menemukan nomor 56. Yang bisa kita lihat di sepanjang jalan itu adalah Stasiun Layang Cikini di seberang jalan yang di bawahnya dimanfaatkan sebagai tempat penjualan keranjang parsel terlengkap di Jakarta.

Lalu, dimana sesungguhnya posisi situs bersejarah itu? Ada, tapi letaknya di Jalan Proklamasi, bukan di Jalan Pegangsaan Timur. Bisa ditebak, Jalan Pegangsaan Timur dulunya memang membentang dari ujung Jl Cikini Raya hingga persimpangan sebelum Jl Pramuka, memotong Jl Diponegoro.

Nah, di sisi barat Jl Diponegoro tetap dipertahankan sebagai Jl Pegangsaan Timur, sedangkan yang di ruas sebelah timur Jl Diponegoro dimana dulunya terdapat nomor 56, diabadikan sebagai Jalan Proklamasi.

Sungguh pun demikian, bangunan bersejarah itu tidak akan kita temukan. Sebab, sudah lenyap dan berubah bentuknya. Tempat aslinya adalah rumah besar kediaman Bung Karno dan Ibu Fatmawati yang berarsitektur kolonial.

Di tempat inilah kedua Proklamator kita, Ir Soekarno-Drs Moh Hatta mendeklarasikan kemerdekaan RI pada Jumat Legi 17 Agustus 1945, bertepatan pada bulan Ramadan, ketika Bung Karno sedang menderita sakit malaria. Di rumah itu pula bendera Merah Putih (kini Bendera Pusaka) dijahit oleh Ibu Fatmawati.

Merobohkan

Namun, sejak akhir 1950-an, bangunan itu dirobohkan. Ironisnya, perobohan rumah itu dilakukan atas suruhan Bung Karno sendiri. Sebagai gantinya, berdiri Monumen Proklamasi dengan Monumen Petir setinggi 17 meter di tempat Bung Karno membacakan teks Proklamasi 67 tahun lalu. Terdapat pula patung dua tokoh proklamator Bung Karno dan Bung Hatta yang dibangun pada 1980-an.

Sebelum disulap menjadi Tugu Proklamasi, seperti sekarang, di pekarangan bekas rumah itu dulu sempat didirikan sebuah tugu kecil untuk memperingati peristiwa pembacaan proklamasi. Tapi, sekali lagi tugu ini pun turut dirubuhkan bersamaan dengan rumah itu.

Bung Karno menyetujui usul Wakil Gubernur Daerah Chusus Jakarta (DCI) Henk Ngantung agar rumah tersebut direnovasi. Kala itu Presiden Soekarno sudah bermukim di Istana Negara. Ternyata, renovasi tidak terealisasi. Di lokasi ini, Presiden Soekarno pada 1 Januari 1961 melakukan pencangkulan pertama tanah untuk pembangunan tugu, ”Tugu Petir”, yang kemudian disebut tugu proklamasi. Tugu ini berbentuk bulatan tinggi berkepala lambang petir, seperti lambang Perusahaan Listrik Negara (PLN). Di bawah tugu itu terdapat batu prasasti hitam bertuliskan ”Disinilah Dibatjakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada Tanggal 17 Agustus 1945 djam 10.00 pagi oleh Bung Karno dan Bung Hatta”.

Sebenarnya, Wali Kota Jakarta saat itu, Sudiro menentang rencana Bung Karno untuk membongkar rumah di Jl Pegangsaan Timur 56 tersebut untuk dijadikan Gedung Pola. Dia menganggap rumah itu sangat bersejarah bagi rakyat Indonesia.

Mengapa Bung Karno sampai merubuhkannya, sampai sekarang masih menjadi misteri.

Beberapa tahun setelah lenyapnya bangunan bersejarah itu, belakangan sempat muncul gagasan untuk membangun kembali rumah itu sesuai aslinya. Pembangunan itu dianggap penting, baik dari sisi sejarah maupun pewarisan nilai-nilai Kemerdekaan 1945 pada generasi muda. Di masa pemerintahan Orde Baru, Presiden Suharto hanya membangun patung Soekarno-Hatta di halaman Gedung Pola dan diresmikan pada 16 Agustus 1980. Di masa itu dikabarkan pula diajukan usulan untuk membangun kembali rumah bersejarah Bung Karno. Tapi Presiden RI kedua itu cuma tersenyum dan menjawab, ”Kan sudah ada patungnya.”

You may also like...

0 thoughts on “Tempat Pembacaan Proklamasi yang Tinggal Kenangan”

Leave a Reply

Bangsaku TV

FACEBOOK INIBANGSAKU

TWITTER INIBANGSAKU

<