Tabuik Pariaman

Semangat Juang Husein bin Ali bin Abi Thalib

Ada yang menarik bila Anda mengunjungi Pariaman pada penanggalan Islam, 1 Muharam hingga 10 Muharam. Pariaman menggelar perayaan Tabuik atau yang dikenal dengan nama Tabuik Pariaman. Perayaan ini untuk memperingati Hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah. Pun untuk mengenang Husein bin Ali bin Abi Thalib yang syahid dalam perang Karbala di Irak di tahun 61 H (680 M).

Tradisi perayaan Tabuik telah dilakukan oleh masyarakat Kota Pariaman sejak tahun 1829. Tabuik Pariaman bukan hanya semata ritual keagamaan. Upacara ini juga mengandung unsur budaya masyarakat di Kota Pariaman. Perayaan Tabuik inipun sudah masuk dalam Kalender Wisata Propinsi Sumatera Barat maupun Kalender Wisata Nasional.

 

Asal-Asul Istilah Tabuik

Ada beberapa versi mengenai pengertian Tabuik. Salah satu sumber menyebutkan bahwa istilah Tabuik diambil dari Bahasa Arab Tabut, yang berarti mengarak. Sumber lainnya menyatakan bahwa Tabut berasal dari bahasa Arab Melayu yang berarti peti atau keranda berlapis emas.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Tabut adalah peti dari anyaman bambu yang diberi hiasan kertas warna-wani. Sedangkan bagi masyarakat Pariaman, Tabuik adalah keranda dari bambu, kayu, atau rotan yang diberi hiasan bunga dan diibaratkan sebagai keranda Husein yang gugur di medan perang.

Pembuatan Tabuik dilakukan secara kerja sama, bukan hanya oleh masyarakat Kota Pariaman, namun juga melibatkan ahli budaya dan sejarah. Biaya pembuatan Tabuik mencapai puluhan juta Rupiah.

Yang biasanya ada dalam perayaan ini adalah Daraga yakni rumah Tabuik. Masyarakat mempersiapkannya beberapa hari sebelum prosesi puncak perayaan Tabuik. Fungsinya sebagai tempat pemasangan Tabuik. Bentuknya mirip makam, yang melambangkan Makam Husein.

Bagian atas Tabuik yang diarak warga Pariaman bukanlah sebuah peti kayu berlapis emas seperti definisi awalnya. Bagian atas Tabuik adalah keranda mirip menara tinggi yang dihiasi bermacam-macam ornamen seperti payung besar di bagian puncak dan delapan payung kecil di bagian samping tubuh Tabuik. Payung-payung ini melambangkan bungo salapan atau delapan kuntum bunga. Di bagian puncak payung yang besar ditancapkan hiasan patung merpati putih.

Komponen lainnya yang harus ada adalah Buroq, kuda berkepala manusia dan memiliki sayap. Sebagian umat Islam percaya bahwa jenazah Husein yang tewas di Perang Karbala dibawa terbang ke langit oleh Buroq.

 

Perayaan Tabuik

Puncak perayaan Tabuik diselenggarakan pada Tanggal 10 Muharram setiap tahunnya. Namun, sesungguhnya, prosesi Tabuik telah dimulai sejak tanggal 1 Muharram

Pada tanggal 1 Muharam dilakukan prosesi mengambil tanah, sebagai lambang tanah makam Husein. Prosesi pengambilan tanah dilakukan oleh dua kelompok. Dua kelompok inilah yang nantinya akan membuat dua buah Tabuik. Yakni Tabuik Pasa yang melibatkan 12 desa yang ada di sekitar Pasar Pariaman. Kemudian Tabuik Subarang yang melibatkan 14 desa lainnya.

Kemudian di tanggal 5 Muharram dilakukan prosesi menebang batang pisang diyakini sebagai suatu simbol gugurnya Husein di medan Perang Karbala.

Dilanjutkan pada tanggal 7 Muharram terdapat prosesi Maantam yang hampir sama dengan proses meratap, sebagai lambang kesedihan atas gugurnya Husein. Maantam dilakukan dengan mengelilingi daraga. Sedangkan maarak jari-jari dilakukan dengan membawa tiruan jari-jari tangan Husein yang sudah terpisah dari tubuhnya akibat dirusak tentara musuh.

Lantas pada tanggal 8 Muharram melakukan Maarak sorban. Hampir sama dengan prosesi sebelumnya, sorban diarak sebagai lambang penutup kepala Husein yang tewas di Perang Karbala.

Sampai pada tanggal 10 Muharram yang merupakan puncak perayaan Tabuik, kemudian mempertemukan Tabuik Pasa dan Tabuik Subarang. Lalu dua Tabuik dengan tinggi 13 hingga 15 meter ini, diarak ke jalan. Setiap tabuik diarak oleh hingga 20 orang pria sambil menggoyangkan-goyangkan atau memutar tabuik yang mereka angkat.

Arak-arakan dimulai dari pusat Kota Pariaman hingga Pantai Gondoriah, Kota Pariaman. Arak-arakan ini juga diiringi oleh alat musim Tambur, Rabab Pariaman, dan Gendang Tasa.

Pembuangan Tabuik biasanya selesai bertepatan dengan terbenamnya matahari, atau sekitar pukul 16.00 WIB.  Menurut kisah gugurnya Husein di Perang Karbala, pada saat matahari terbenam itulah kendaraan buraq membawa jenazah Husein terbang ke syurga. Lalu, kenapa dibuang kelaut? Bagi masyarakat Pariaman, pembuangan Tabuik ke laut adalah simbol “buang sial”.

Prosesi perayaan Tabuik berakhir dengan hanyutnya tabuik ke laut, diringi oleh rasa haru puluhan ribu pengunjung yang menyaksikan perayaan. Tabuik Pariaman hanyalah satu dari ritual peringatan kematian Husein di Perang Karbala. Perayaan ini telah menjadi suatu budaya turun-temurun.

 

Oleh: Sasmita Siregar

 

Tags

You may also like...

0 thoughts on “Tabuik Pariaman”

Leave a Reply

Bangsaku TV

FACEBOOK INIBANGSAKU

TWITTER INIBANGSAKU

<