Sunan Kalijaga

Bangsawan Jadi Begawan

Sunan Kalijaga adalah salah satu dari wali penyebar agama Islam di Indonesia. Kalijaga putera Adipati Tuban yang pada masa mudanya geram menyaksikan kesewenang-wenangan pejabat pemerintah yang menindas rakyat jelata.

Apalagi ketika musim kemarau panjang, hasil panen yang berkurang, dan pajak mencekik dibebankan pada pundak rakyat. Jelas membuat Raden Said nama dari Sunan Kalijaga muda memberontak.

Jika pada umumnya putera-puteri bangsawan memilih menikmati hidup nyaman di dalam sangkar emas, tidak demikian yang terjadi pada Raden Said. Pada malam hari, ia menyelinap keluar dari rumah megahnya. Bak Robin Hood, ia menyatroni lumbung-lumbung padi atau hasil bumi lalu membagi-bagikannya kepada rakyat.

Lama-kelamaan perbuatan itu diketahui dan membuat murka ayah kandungnya. Raden Said pun terusir dari kadipaten Tuban. Dibuang dari rumah dan meninggalkan kehidupan nyaman, justru membuatnya semakin leluasa menekuni “profesi” nya sebagai perampok baik hati pembela rakyat jelata. Hutan Jatiwangi kemudian menjadi tempat pelariannya setelah terusir dari Tuban.

 

 Berdakwah

Dalam pengembaraannya, ia bertemu dengan calon korban kejahatannya yang akhirnya membelokkan jalan hidupnya. Pria yang kelak menjadi gurunya itu adalah Sunan Bonang. Namun Sunan Bonang hanya mau menerima Raden Said sebagai murid, jika ia lolos dalam ujian, yaitu bersemedi menjaga tongkat miliknya di tepi sungai atau kali. Konon Raden Said menunggui tongkat itu sampai selama tiga tahun. Itulah yang merupakan asal-usul namanya menjadi Sunan Kalijaga atau berarti  menjaga sungai.

Tiga tahun kemudian Sunan Bonang menepati janjinya untuk mengangkat Raden Said sebagai muridnya. Di bawah bimbingannya, Raden Said mempelajari ilmu agama secara mendalam agar kelak dapat menjalankan tugasnya untuk menyebarkan agama Islam di Jawa.

Dalam menjalankan dakwah Sunan Kalijaga tidak semerta-merta memaksa masyarakat untuk menerima ajaran Tauhid. Untuk menyebarkan agama Islam dan menajdikan masyarakat memeluknya ia melakukan pendekatan dengan kesenian. Kemudian memasukkan unsur-unsur Islam ke dalam tradisi lama masyarakat. Strategi tersebut ternyata efektif, terbukti dengan banyaknya bangsawan di Jawa yang kemudian bersedia memeluk agama Islam.

Sunan Kalijaga banyak memberi warna Islam pada kesenian teater, wayang, dan musik. Beliau mengubah bentuk wayang hingga seperti yang kita lihat saat ini. Karena dalam Islam diharamkan “membuat” mahkluk-mahkluk bernyawa seperti hewan dan manusia. Karena dianggap berusaha menyerupai Sang Maha Hidup. Sunan Kalijaga pula yang mengarang lakon Petruk Dadi Ratu atau Petruk Menjadi Raja yang banyak memuat ajaran-ajaran Islam. Salah satu lagu ciptaan beliau yang sangat terkenal bahkan hingga zaman sekarang adalah lagu berbahasa Jawa yang berjudul Lir-ilir. Lagu ini bahkan pernah diaransemen ulang oleh musisi mancanegara dan dipentaskan pada sebuah konser jazz yang ekslusif. Opick, salah seorang penyanyi terkenal, juga tidak ketinggalan menggubah ulang lagu legendaris ini dalam salah satu albumnya.

Berikut adalah lirik lagu Lir-Ilir,

Lir-ilir, lir-ilir, tandure wis sumilir

Tak ijo royo-royo, tak sengguh penganten anyar

Cah angon-cah angon, penekno blimbing kuwi

Lunyu-lunyu yo penekno, kanggo mbasuh dodotiro

Dodotiro-dodotiro, kumitir bedhah ing pinggir

Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore

Mumpung jembar kalangane, mumpung padhang rembulane

Yo surak-o… surak hiyo…

Terjemahan bebas lirik lagu tersebut kira-kira sebagai berikut,

Bangkitlah, bangkitlah, tanaman kita telah tumbuh menghijau

Menghijau segar, bagaikan kebahagiaan pengantin baru

Anak gembala, anak gembala, panjatlah pohon belimbing itu

Walaupun licin tetaplah kau panjat, karena buahnya untuk mencuci baju

Oh bajuku – oh bajuku, robek pinggir bajuku

Jahitlah, perbaikilah, nanti sore kau menghadap mengenakan baju itu,

mumpung sekarang banyak waktumu terluang,

Mumpung sekarang bulan bersinar terang,

Bersoraklah, berbahagialah

Tembang ini memang seolah hanya lagu permainan anak-anak saja, namun sebenarnya memiliki arti mendalam yang mengandung nasihat-nasihat bagi umat manusia. Pada lagu ini kita dinasehati untuk bangkit, hijrah dengan lebih memperdalam ke-Islaman dan menjalankan kewajiban shalat 5 waktu (dilambangkan dengan buah belimbing yang bersudut 5). Walaupun sulit dan berat demi membersihkan jiwa kita yang terkoyak-koyak terpapar godaan duniawi.

Dengan menjalankan kewajiban Islam kita dapat memperbaiki keadaan jiwa kita sehingga nanti kita menghadap Tuhan dalam keadaan jiwa yang baik dan bersih. Kita juga dianjurkan untuk memperbaiki jiwa kita sesegera mungkin dengan beribadah, mumpung sekarang kita masih hidup, mumpung Tuhan masih memberi karunia nafas dan tubuh yang sehat. Kita disarankan untuk menjalankan nasehat-nasehat itu agar hidup kita bahagia di dunia dan di akhirat. Begitu luar biasa makna dari lirik lagu sederhana ini.

Sunan Kalijaga yang diperkirakan meninggal pada usia yang sangat lanjut, lebih dari 100 tahun, dimakamkan di Kadilangu, Demak. Sampai saat ini makamnya masih ramai dikunjungi oleh para peziarah. Baik yang hanya ingin melakukan wisata sejarah, atau yang mendoakan agar segala jasanya dalam menyebarkan agama Islam dan amal ibadahnya diterima oleh Allah SWT. (Berbagai Sumber)

 

Oleh: Suryo Paksi

Tags

You may also like...

0 thoughts on “Sunan Kalijaga”

Leave a Reply

Bangsaku TV

FACEBOOK INIBANGSAKU

TWITTER INIBANGSAKU

<