Songket Silungkang Kekayaan Budaya Minang

songket-silungkang

Sumatera Barat merupakan tempat penghasil kain tenun yang sangat berharga, yakni Songket Silungkang. Songket yang merupakan ciri khas daerah Silungkang, Kota Sawahlunto, Kekhasannya terletak pada motifnya yang lebih beragam. Ada songket ikat, songket batabua, penuh, benang dua dan songket selendang lebar.

 

Asal

Pada sekitar abad 19, dalam perjalanan perdagangan penduduk desa Silungkang, ke daerah Pahang, mereka tertarik pada tenun songket yang ada di sana. Mereka kemudian membawanya ke daerah mereka sendiri, tak hanya itu lantas mereka pun memproduksinya.

 

Oleh karena itu, mereka berusaha mempelajari proses pembuatannya dan mempersiapkan alat-alat yang dibutuhkan seperti alat tenun, benang sampai pewarna bahan. Semenjak itu, mereka mulai membuat kain yang sekarang dikenal sebagai Songket Silungkang.

 

Alat & Bahan

Peralatan yang digunakan untuk membuat tenun songket Silungkang digolongkan menjadi dua macam, yaitu:

  • Peralatan Pokok

Peralatan pokok pembuatan songket Silungkang adalah seperangkat alat tenun yang disebut dengan ‘panta’, yang berukuran 2 x 1,5 meter. Panta terdiri dari gulungan (alat yang digunakan untuk menggulung benang dasar tenun), sisia (alat yang digunakan untuk merentang dan memperoleh benang tenunan), pancukia (alat yang digunakan untuk membuat motif songket), dan turak (alat yang digunakan untuk memasukkan benang lain ke benang dasar).

 

  • Peralatan pendukung

Peralatan pendukung digunakan sebelum dan sesudah proses pembuatan songket. Di antaranya adalah ani (alat yang digunakan untuk menggulung benang) dan alat penggulung kain berbentuk kayu bulat dengan panjang sekitar 1 meter dan diameter 5 cm.

 

  • Bahan pembuatan songket
  1. Benang lusi atau lungsin : digunakan sebagai bahan dasar kain tenun songket
  2. Benang makao atau benang pakan : digunakan sebagai hiasan songket

 

Motif

Tidak dapat dipungkiri bahwa kekayaan alam di Sumatera Barat sangat mempengaruhi pola-pola yang terbentuk pada songket Silungkang. Sekalipun kain ini tercipta dari peralatan dan bahan yang sederhana, keindahan motif yang dihasilkan menjadikan songket Silungkang bernilai jual sangat tinggi.

 

Beberapa nama motif tenun songket Silungkang adalah motif Kaluak Paku, Ilalang Rabah, Pucuak Rabuang, Bungo Malur, Kudo-Kudo, Kain Balapak Gadang, Pucuak Ranggo Patai, Pucuak Jawa, Pucuak Kelapa, dan lain-lain. Sedangkan untuk nama hiasan tepi kain tenun tersebut antara lain Bungo Tanjung, Lintahu Bapatah, Bareh Diatua, dan lain-lain.

 

Seperti halnya kain batik, kain tenun songket Silungkang pun memiliki makna pada setiap motifnya. Misalnya, motif kaluak paku (lekuk pucuk pakis muda) yang dapat diartikan “Sebelum mengoreksi orang lain, hendaknya melihat ke dalam diri kita sendiri terlebih dahulu”, motif ilalang rabah (rebah) yang artinya “Kewaspadaan, kehati-hatian dan kecermatan seorang pemimpin adalah hal yang utama” dan motif pucuak rabuang (pucuk rebung) yang berarti “Waktu muda berguna, apalagi ketika dewasa

 

Berdasarkan proses pembentukan motifnya, songket Silungkang dibedakan menjadi dua:

  1. Songket dari benang emas

Karena harganya yang mahal dan pemakaiannya hanya pada peristiwa-peristiwa atau kegiatan-kegiatan tertentu (misalnya, perkawinan, penobatan penghulu dan penyambutan tamu-tamu penting), pemasaran kain songket jenis ini relatif terbatas.

 

  1. Songket yang bukan dari benang emas

Sebaliknya, kain tenun jenis ini tidak hanya digunakan untuk busana tradisional saja, melainkan untuk bahan yang lain (misalnya kemeja, selendang dan lain-lain). jadi, jangkauan pemasarannya lebih luas.

 

Songket Silungkang dan Songket Pandai Sikek

Selain Songkat Silungkang, Propinsi Sumatera Barat juga terkenal dengan Songket Pandai Sikek. Keduanya menggunakan latar warna yang sama, yakni merah tua, hijau tua atau biru tua. Namun, sekalipun berasal dari provinsi yang sama, kedua jenis songket ini memiliki beberapa perbedaan, yaitu:

  1. Benang tenun songket Silungkang tidak serapat dan seberat songket Pandai Sikek. Karena penggunaan benang emasnya tidak terlalu banyak. Songket Silungkang lebih ringan dan mudah dimodifikasi
  2. Alat tenun yang digunakan songket Silungkang lebih besar dibandingkan alat yang digunakan untuk pembuatan songket Pandai sikek.
  3. Motif songket Silungkang lebih sederhana dibandingkan dengan motif songket Pandai Sikek.

 

Songket Silungkang khas Propinsi Sumatera Barat hanya satu dari rangkaian produk kerajinan yang lahir dan berkembang di tengah kesahajaan masyarakat Indonesia. Hasil karya kerajinan seperti ini adalah cerminan dari masyarakat di mana karya-karya tersebut dihasilkan. Selama hasil karya itu masih dipertahankan, artinya masyarakat setempat masih menjungjung tinggi nilai-nilai budaya dan kesakralan yang diyakini tertuang dalam karya kerajinan tersebut.

 

Sebaliknya, ketika karya seni tradisional ini punah, berarti masyarakat tidak lagi memegang teguh norma adat yang direpresentasikan oleh karya kerajinannya. Sekali lagi, Songket Silungkang Sumatera Barat bukanlah suatu kerajinan komersil semaja, melainkan representasi dari kekayaan budaya lokal. (Putri Cahya Ningtyas)

Tags

You may also like...

0 thoughts on “Songket Silungkang Kekayaan Budaya Minang”

Leave a Reply

Bangsaku TV

FACEBOOK INIBANGSAKU

TWITTER INIBANGSAKU

<