Silsilah Raja-Raja Kasunanan Surakarta

dian Sejarah 10,026 views 0 0
ib

IniBangsaku – Pemberontakan Pangeran Mangkubumi yang tidak menyetujui kebijakan kakaknya, Pakubuwana II  yang terlalu menguntungkan pihak penjajah menyebabkan terjadinya perang saudara, sampai akhirnya terjadi perjanjian Giyanti pada tanggal 17 Februari 1755. Perjanjian ini berisi kesepakatan yang membagi wilayah kekuasaan Kerajaan Mataram menjadi dua pemerintahan, yaitu Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta.

Kasultanan Yogyakarta dikuasai oleh Pangeran Mangkubumi yang kelak bergelar Sri Sultan Hamengkubuwono I, sedangkan Kasunanan Surakarta dikuasai oleh Pakubuwana III, putera dari PakubuwanaI I, karena pada waktu perjanjian Giyanti ditandatangani, Pakubuwana II telah mangkat. Berikut ini adalah raja-raja keturunan dari Raja Pakubuwana III.

 

Sri Susuhunan Pakubuwana III (1755-1788)

Sri Susuhunan Pakubuwana III memiliki nama asli Raden Mas Suryadi. Beliau adalah raja yang menandatangani Perjanjian Giyanti bersama pamannya Pangeran Mangkubumi dan Belanda. Raja kedua ini mengalami cobaan yang sangat berat pada waktu pemerintahannya, seperti pemberontakan dan perang saudara, kudeta karena sikap politiknya yang lemah dan selalu dikendalikan oleh bangsa penjajah. Kekacauan dari luar dan dalam istana yang terus merongrong ini bahkan belum reda hingga saat mangkatnya, yaitu pada tahun 1788.

 

Sri Susuhunan Pakubuwana IV (1788-1820)

Putera mahkota yang menggantikan kedudukan Raja Pakubuwana II adalah raja yang cerdas, tegas, taat beragama, dan pemberani, dan  memiliki nama asli Raden Mas Subadya. Raja muda ini konon memiliki wajah yang rupawan, sehingga beliau dipanggil Sunan Bagus. Sri Susuhunan Pakubuwana IV ini bercita-cita mempersatukan kembali kerajaan-kerajaan yang terpecah dalam satu kedaulatan, yaitu Kerajaan Mataram. Selain sebagai seorang negarawan yang ulung, ternyata sang Raja juga seorang yang memiliki jiwa sastra. Salah satu buah karyanya adalah tulisan berjudul Serat Wulangreh. Setelah mangkat pada tahun 1820.

 

Pakubuwana V (1820-1823)

Penerus tahta berikutnya hanya memiliki masa kekuasaan yang pendek, yaitu selama 3 tahun. Pakubuwana V yang bernama asli Raden Mas Sugandi ini, memiliki julukan lain yaitu Sunan Sugih (raja yang kaya), karena selain memiliki harta yang banyak, ia juga memiliki banyak ilmu kesaktian. Pada masa pemerintahannyalah Serat Centhini, karya sastra Jawa kuno  yang sangat terkenal itu ditulis. Beliau mangkat pada tahun 1823 dan tahta dilanjutkan oleh puteranya, yaituPakubuwana VI.

 

Pakubuwana VI

Putera mahkota yang kelak bergelar Pakubuwana VI ini terlahir dengan nama Raden Mas Sapardan. Sang Raja terkenal memiliki kegemaran bersemedi sehingga memiliki nama panggilan Sinuhun BangunTapa. Beliau diketahui memiliki hubungan yang akrab dengan Pangeran Diponegoro dan banyak berjasa dalam membantu perjuangannya melawan penjajah.

Setelah Pangeran Diponegoro ditangkap, beliau pun tak lama kemudian ikut ditangkap dan diasingkan ke Ambon. Raja Pakubuwana VI wafat pada usia 42 tahun dan mendapat gelar pahlawan nasional dari Pemerintah Indonesia. Belanda yang membunuh beliau dengan menembak dahinya, berusaha menutupi penyebab kematian sang Raja dengan menyatakan, bahwa raja meninggal mengalami kecelakaan di laut.

 

Pakubuwana VII

Terlahir dengan nama Raden Mas Malikis Solihin, beliau bukanlah putera dari Pakubuwana VI, melainkan pamannya. Pada waktu raja terdahulu dibuang ke Ambon, beliaulah yang naik tahta untuk menggantikan. Masa pemerintahannya berlangsung aman, tentram dan damai, sehingga geliat sastra meningkat di Surakarta. Beliau mangkat tanpa meninggalkan putera mahkota, sehingga tahtanya diambil alih oleh Pakubuwana VIII yang merupakan kakaknya dan naik tahta pada waktu sudah berusia 69 tahun.

 

Pakubuwana VIII

Pakubuwana VIII memiliki nama asli Raden Mas Kusen, ia adalah seorang raja yang hanya memiliki seorang permaisuri tanpa selir-selir yang lain. Masa pemerintahannya hanya tiga tahun dan beliau pun wafat tanpa memiliki putera mahkota, sama seperti adiknya. Yang kemudian menggantikannya untuk menjalankan pemerintahan adalah putera dari Raja Pakubuwana VI.

 

Pakubuwana IX

Raja Pakubuwana IX memiliki nama asli Raden Mas Duksino. Ayahnya adalah Raja Pakubuwana VI,  seorang pahlawan yang gigih membela tanah air melawan penjajahan Belanda bersama Pangeran Diponegoro. Sebenarnya sang Raja adalah raja yang adil dan bijaksana, hanya saja bangsawan-bangsawan di sekitarnya adalah orang-orang yang gemar mencari keuntungan bagi dirinya sendiri, sehingga pemerintahan Raja Pakubuwana IX tidak membawa banyak kemajuan. Setelah mangkatnya, beliau digantikan oleh puteranya sendiri yang kelak bergelar Pakubuwana X.

 

Pakubuwana X

Sampeyan dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakubuwana X adalah gelar lengkap dari Raden Mas Malikul Kusno setelah dilantik menjadi raja. Beliau memerintah selama 46 tahun dan pada masa pemerintahannya Kerajaan Surakarta memasuki era modernisasi. Tidak banyak terjadi perang atau peristiwa politik yang menggemparkan. Pada masa tersebut justru banyak dibangun infrastruktur modern, seperti stasiun, pasar, stadion, dan sebagainya. Beliau mangkat dan mendapat gelar Sunan Panutup dari rakyatnya, yang berarti raja besar yang terakhir.

 

Pakubuwana XI

Putera mahkota penerus tahta berikutnya terlahir dengan nama Raden Mas Antasena, dan selanjutnya menjadi raja dengan gelar Pakubuwana XI.  Berbeda dengan sang ayah, beliau menjalankan pemerintahan pada masa-masa berat perang dunia ke-2, dan pergantian bangsa yang menguasai kedaulatan Indonesia. Pemerintahan beliau terjadi pada masa penjajahan Jepang.

 

Pakubuwana XII

Setelah Pakubuwana XI, Pakubuwana XII menggantikan posisi ayahandanya menjadi raja Surakarta. Keadaan masih belum aman saat itu, apalagi Republik Indonesia sedang bersiap untuk memproklamasikan kemerdekaannya. Setelah wafatnya, terjadi keributan di istana antara Pangeran Hangabehi dan Pangeran Tejowulan yang memperebutkan tahta. Keributan yang terjadi antara dua pangeran itu disebabkan karena raja terdahulu tidak memiliki permaisuri yang sah. Tetapi akhirnya, Pangeran Hangabehi sebagai putera tertua dan atas restu seluruh keluarga kerajaan, membuat beliau yang dinobatkan sebagai Pakubuwana XIII, sedangkan adiknya menjadi maha patih. Perselisihan itu dianggap selesai dan kini kedua kakak beradik itu bekerja sama untuk memajukan keraton sebagai warisan budaya khususnya budaya Jawa dan penjaga tradisi luhur masyarakat Jawa.

 

   Sumber: rudydewanto.com

Tags

You may also like...

0 thoughts on “Silsilah Raja-Raja Kasunanan Surakarta”

Leave a Reply

Bangsaku TV

FACEBOOK INIBANGSAKU

TWITTER INIBANGSAKU

<