Seorang Syeikh dan Ulama ahli Sastra, Cerdas serta Pemberani

Syaikh Ahmad Rifa’i (bukan Syaikh Ahmad Ar Rifa’i yang karyanya di muat bersambung di Cahaya Sufi). Dilahirkan di desa tempuran Kabupaten Kendal Jawa Tengah pada tanggal 9 Muharram 1200 H bertepatan dengan tahun 1786 M. Ayahnya bernama R.K.H. Abi Suja’ alias Raden Soetjowidjojo, yang menjadi hakim agama di Kabupaten tersebut. Ayahnya meninggal ketika Ahmad Rifa’i berumur 6 tahun. Saudara dekatnya yang paling besar ialah Syaikh Al Asy’ari (suami Nyai Rajiyah binti Muhammad) ulama pendiri/pemimpin Pondok Pesantren Kaliwungu, Semarang Jawa Tengah. Beliaulah yang mengasuh dan membesarkan  Ahmad Rifa’i muda dengan pendidikan keagamaan yang benar selama 20 tahun masa mudanya.

Pada tahun 1230/1816 M, ketika usianya mencapai 30 tahun, Ahmad Rifa’i pergi ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji, dan selama 8 tahun mendalami ilmu-ilmu keislaman di bawah guru Syaikh Usman dan Syaikh Al-Faqih Muhammad Ibn Abd Al Aziz al Jaisyi, kemudian melanjutkan belajarnya ke Mesir selama 12 tahun di Kairo, dia belajar kitab-kitab fiqh mazhab Syafi’i, demikian dilakukan dengan petunjuk dan arahan guru-guru agung dan dua diantara guru-gurunya adalah Syaikh Ibrahim al Bajuri dan Syaikh Abdurrahman al Misry.

Pulang Ke Indonesia

Menurut riwayat, setelah 20 Tahun belajar di Timur Tengah, kemudian Ahmad Rifa’i pulang ke Indonesia bersama Syeikh Nawawi Banten dan Syaikh Muhammad Kholil Bangkalan Madura. Dan pada waktu ingin kembali ke Indonesia ketiganya duduk berkeliling memusyawarahkan untuk menyatakan menyebarkan ilmu yang di perolehnya dalam bentuk tulisan, maka mereka bersepakat untuk mengamalkan kewajiban menyampaikan diantara ketiga ulama tersebut yaitu:

  • Pertama, kewajiban menjalankan amar ma’ruf nahi mungkar
  • Kedua, menterjemahkan kitab-kitab berbahasa Arab ke dalam bahasa pribumi untuk mencapai kesuksesan dakwah islamiyah.
  • Ketiga, mendirikan pondok-pondok pesantren
  • Keempat, Jihad fi sabilillah untuk mengusir penjajah Belanda dari tanah air.

Mereka sepakat bahwa setiap individu wajib mengembangkan ajaran, pendidikan dan keaagamaan Islam. Maka Muhammad Kholil Bangkalan bertanggung jawab untuk menyusun kitab-kitab tentang Tauhid, syaikh Nawawi Banten bertanggung jawab menyusun kitab-kitab mengenai Tasawuf dan Syeikh ahmad Rifa’i di beri tanggung jawab untuk menyusun kitab-kitab Fiqih. Kedua ulama dari ketiganya memutuskan untuk hidup di tanah airnya, adapun Syaikh Nawawi Banten pada kesempatan lain pergi ke Mekah dan hidup disana sampai wafatnya dan di kuburkan di Ma’la. Syaikh Ahmad Rifa’i kemudian memilih tinggal di Desa Kaliwungu Kendal, agar bisa memusatkan perhatiannya merealisasikan pengajaran ilmu-ilmu keagamaan dan mengarang kitab-kitab Tarajumah(terjemahan/ saduran dari bahasa Arab ke bahasa Jawi). Di samping kesibukannya dalam urusan pengajaran dan mengarang kitab, Ahmad Rifa’i bekerja keras menanamkan keislaman dan patriotisme non cooperative kepada pemerintah colonial khususnya kepada murid-muridnya dan kepada masyarakat pada umumnya. Pada waktu itu pemerintah kolonial dan antek-anteknya baru saja menyelesaikan perang Diponegoro (1825- 1830) yang ber- larut larut itu dan menguras keuangan kompeni. Maka kemudian mereka mulai mengeruk kembali kekayaan tanah Jawa dan menjarah penduduk dan tanah airnya untuk menambal kerugiannya itu dan membawanya ke negeri kincir angin Belanda.

Perlawanan Terhadap Colonial Belanda

Ahmad Rifa’i memandang, bahwa mereka itu adalah orang-orang yang bertanggungjawab atas kesengsaraan yang telah menimpa umat islam pada waktu itu. Gerakan Ahmad Rifa’i telah menyebabkan harus berhadapan dengan pemerintah kolonial. Karena takut, pemerintah Belanda memanggil Ahmad Rifa’i dan memasukkannya ke penjara Kendal dekat Semarang tanpa alasan yang masuk akal, gara- gara dia menolak “SEBO” terhadap pembesar negeri. Sebo adalah berjalan sambil jongkok tatkala menghadap seorang pembesar/ Belanda.

Setelah keluar dari penjara Ahmad Rifa’i pindah ke desa Kalisalak (Kalisasak). Di desa tersebut dia menikahi janda Demang Kalisalak yang solehah bernama Sujinah, setelah istri pertamanya, Ummil Umrah meninggal dunia. Kalisalak adalah desa terpencil yang terletak di kecamatan Limpung kecamatan Batang, Jawa Tengah. Di desa tersebut pertama kali Ahmad RIfa’i mendirikan lembaga pondok pesantren yang namanya semakin terkenal di kalangan orang banyak dankemudian berdatanganlah  para murid dari berbagai daerah seperti Kendal, Pekalongan,Wonosobo, dan daerah lainnya.

Kaderisasi

Untuk memperkuat dan melestarikan pengajarannya selama-lamanya, Ahmad Rifa’i RA  mempersiapkan murid-muridnya dengan cara- cara khusus seperti pengkaderan untuk masa depan tentang pemikiran dan pergerakannya. Mereka itu orang-orang yang dibelakang hari akan mengembangkan kitab-kitab terjemah/ saduran dari kitab- kitab berbahasa Arab yang telah dikarang oleh Ahmad Rifa’i tersebut dan mereka di kenal sebagai para Penerus Generasi Awal. Di antara mereka adalah Abdul Hamid bin Giwa alias kiai Hadits (Wonosobo), Abu Hasan (Wonosobo), Abdul Hadi (Wonosobo), Abu Ilham (Batang), Ilhan bin Abu Ilham (Batang), Maufura bin Nawawi (Batang), Idris bin Abu Ilham (Indramayu), Abdul Manaf dan Abdul Qahar (Kendal), Iman Tsani (Kebumen),Muharar (Purworejo), Muhsin (Kendal), Muhammad Thuba bin Rodam (Kendal), serta,Abu Salim (Pekalongan) dan sejumlah murid lainnya yang masih banyak.

Diasingkan ke Ambon

Ketika pemerintah penjajah mengetahui bahwa gerakan syaikh Ahmad Rifa’i lambat laun semakin banyak pengikutnya dari daerah lain, maka pemerintah colonial segera sadar bahwa gerakan ini dapat mengarah kepada perlawanan social kepada pemerintah colonial. Oleh karena itu dengan berbagai cara mereka merekayasa dan kemudian menangkap dan mengasingkan Ahmad Rifa’i ke Ambon pada tanggal 16 Syawal 1275 Hijriah (19 Mei 1895). Tuduhannya sangat sumir, yakni “membahayakan keamanan Negara”, dalam hal ini pemerintahan colonial Hindia Belanda.

Tidak hanya itu, untuk melawan ketenaran beliau dan mematikan karakternya (Character Assasination), kemudian mereka merekayasa sebuah karya sastra berbentuk tembang Jawa sesuai budaya Jawa yang masyarakatnya suka URO- URO (menyanyikan tembang Jawa sambil berbaring menunggu padi menguning atau sambil menggambalakan kerbau) yang dengan cara itu citra buruk Syaikh Rifa’I dicoba ditebarkan ditengah masyarakat Jawa yang suka tembang itu, dan nampaknya media itu cukup berhasil menjatuhkna citra beliau diantara masyarakat kecil. Karya sastra ini kemudian terkenal dengan Judul “ Serat Cebolek” .

Maka Ahmad Rifa’i kemudian menjadi terasing dari khalayak ramai karena dibuang ditempat yang masyarakatnya tidak seagama, tetapi beliau tidak patah semangat, beliau tidak meninggalkan jihadnya mengarang kitab sebagai wahana untuk dakwah islamiyah. Kini kitab karangan beliau tidak berbahasa Jawa tapi berbahasa Melayu. Perlu diketahui seluruh karya Ar Rifa’i di Jawa menggunakan bahasa Jawa sebagian besar dalam bentuk sya’ir. Menurut keterangan bahwa beliau mengarang 4 judul kitab dan 60 kebet (2 halaman bolak- balik)  “Tanbih” (peringatan) dalam bahasa melayu ketika berdakwah di Maluku yang kitab-kitabnya kemudian dikirimkan ke murid-muridnya di Jawa melalui kurir rahasia. Kemudian Ahmad Rifa’i dipindahkan ke Kampong Jawa Tondano kabupaten Minahasa, Menado dan meninggal dunia disana setelah berumur 89 tahun, dan dikuburkan bersama para pahlawan nasional lainnya seperti P. Diponegoro dan Kiyai Mojo di Bukit Tondasa Tondano, Menado. Disini beliau sempat berkeluarga lagi dan sampai kini keturunannya bertebaran di Tondano dan dikenal dengan Marga Rifa’i.

 

Sumber :

tanbihun.com

Tags

You may also like...

0 thoughts on “Seorang Syeikh dan Ulama ahli Sastra, Cerdas serta Pemberani”

Leave a Reply

Bangsaku TV

FACEBOOK INIBANGSAKU

TWITTER INIBANGSAKU

<