Soeharto, Mistik dan Kekuasaan

Soeharto_1

JAKARTA, inibangsaku.com – Selain dikenal sebagai penguasa tunggal Orde Baru, Presiden Soeharto juga identik dengan penguasa yang menjaga tradisi alias kebudayaan. Maka tidak mengherankan selama berkuasa 32 tahun, pria kelahiran Kemusuk, 8 Juni 1921 tersebut banyak meninggalkan peninggalan-peninggalan, baik dalam bentuk materi maupun non materi.

Dalam pandangan Seoharto yang dimaksud dengan budaya tidak hanya dipahami dengan tari-tarian, alat musik semata. Melainkan penguasa Orde Baru tersebut memahamai budaya dan tradisi dalam konteks luas, harmonisasi, keseimbangan antara dunia lahir dan batin, termasuk pemahaman mendalam soal dunia kebatinan orang Jawa.

“Soeharto adalah pribadi yang banyak dihubungkan dengan wilayah kejawen. Soeharto sendiri juga ngelakoni seperti puasa, tidak makan dan tidak minum dalam waktu tertentu dan melakukan upacara selamatan bagi keluarga,” kata budayawan terkemuka asal DIY, Arwan Tuti Artha seperti dikutip dalam bukunya berjudul “Dunia Spiritual Soeharto” Menelusuri Laku Ritual Tempat-Tempat dan Guru Spiritualnya.

Soeharto, Klenik dan Kekuasaan

Sungguh berbeda memasuki dunia Soeharto melalui dunia klenik, sebab dunia kebatinan orang Jawa lebih menekankan kepada rasa batin dan sulit untuk dijangkau akal, namun eksistensi ada. Berbeda dengan dunia politik yang terang benderang, dan nampak jelas.

Dunia klenik dan kebatinan yang tidak diajarkan dibangku-bangku sekolah menjadi dunia tersendiri yang masih hidup dalam alam modernisme. Dan Soeharto sebagai seorang Jawa mempunyai komitmen untuk menjaga harmonisasi alam, sebab salah satu inti dari dunia kebatinan adalah untuk menghindarkan terjadinya disharmoni.

“Soeharto adalah seorang yang mempercayai klenik kebatinan Jawa pedalaman yang demikian kental, sebuah klenik yang hanya mengakui Islam dalam bentuk yang lebih esoteris dan hukum agama hanya mempunyai kekuatan kecil. Dalam dunia inilah Soeharto menemukan kedamaian batin,” kata Sejarahwan terkemuka asal Australia, MC Ricklefs dalam bukunya berjudul “Sejarah Indonesia Modern 1200-2004”.

Untuk meraih kekuasaan setidaknya diperlukan 6 M. Apa sajakah hal itu? Media, massa, money, market, momentum dan yang terakhir adalah mistik.

Fenomane mistik dalam dunia politik untuk meraih dan mempertahankan kekuasaan bukanlah hal baru. Fenomena tersebut sudah berlangsung sejak lama, bahkan sebelum bangsa Indonesia merdeka. Bahkan tak jarang dukun-dukun atau orang pintar yang tinggal di daerah pedalaman dan terpencil kerap diburu banyak orang untuk dimintai bantuan, tak terkecuali bantuan untuk menopang kekuasaan politik.

Kepercayaan mistik dalam ranah politik bukan hanya terjadi di Indonesia, melainkan terjadi di seluruh dunia, bahkan Amerika Serikat (AS) yang identik dengan negara modern juga mengenal hal tersebut. Presiden Ronal Reagen misalnya yang mempunyai pasukan khusus yang terdiri atas dukun, paranormal dengan tugas khusus sebagai konsultan spiritual dalam menjalankan roda pemerintahan.

Bukan hanya itu, pemimpin NAZI yang amat terkenal Adolf Hitler juga dikabarkan menggunakan jasa paranormal untuk menopang kekuasaannya. Hitler disebut-sebut mempunyai sebilah pusaka berupa tombak yang konon dipakai oleh pasukan Romawi untuk menusuk perut Jesus.

Sementara itu, Soeharto sendiri juga menaruh minat mendalam dalam perkara tersebut. Seoharto sendiri dipercaya banyak orang mempunyai banyak dukun-dukun diberbagai pelosok tanah air. Bahkan tak jarang Soeharto kerap menyambangi tempat-tempat keramat seperti dikawasan Gunung Srandil, Cilacap, Jawa Tengah, Gunung Lawu, Solo, Jawa Tengah dan masih banyak lagi. Tujuan kedatangan Soeharto adalah untuk bersemedi, menyepi dan memusatkan kekuatan spiritual untuk tujuan politiknya.

“Soeharto sendiri pernah membawa Topeng Gajah Mada dari Bali ke Istana Merdeka,” tambah Arwan Tuti Artha menegaskan.

Gajah Mada sendiri adalah seorang Mahapatih dari Kekaisaran Majapahit yang amat disegani dan merupakan otak sekaligus konseptor dari perluasan dalam skala besar yang dilakukan kerajaan Majapahit pada abad ke 14.

Tidak sampai disitu, Soeharto juga mengumpulkan bebergai jenis pusaka yang berasal dari berbagai keraton di tanah air, sebut saja keris, tombak, gong dan sebagainya.

Semua hal itu dilakukan Soeharto untuk menyerap kekuatan dibalik benda-benda yang dikumpulkan. Ditengah-tengah tuah yang bertebaran disekeliling Soeharto semakin mengukuhkan posisi Soeharto sebagai penguasa. Sebab dalam pandangan Jawa Klasik, kekuasaan seorang pemimpin adalah inheren dan melekat erat dalam dirinya sendiri. (IB/Berbagai Sumber).

Sumber Foto : Istimewa

 

 

Tags

You may also like...

0 thoughts on “Soeharto, Mistik dan Kekuasaan”

Leave a Reply

Bangsaku TV

FACEBOOK INIBANGSAKU

TWITTER INIBANGSAKU

<