Rokok Kretek Identitas Indonesia

Foto: tipspetani
Foto: tipspetani

Ketika ayah saya menyelesaikan studinya di Cardiff, Wales, ia selalu minta dikirimkan satu slof rokok kretek merk tertentu yang berwarna merah setiap dua minggu. Pada awal tahun 1970-an, rokok belum mendapatkan pembatasan seperti sekarang. Rokok kretek yang dibawanya itu menjadi ‘bancakan’ teman-temannya sesama mahasiswa disana yang nota bene berasal dari berbagai bangsa. Mereka menyukai aroma yang ada pada rokok kretek.

Beberapa tahun kemudian kala kami menengok adik bungsu kami yang tinggal di Brussel, Belgia, saya dan ayah saya yang tengah menikmati kepulan asap rokok kretek di luar apartemen adik saya itu. Kami didatangi oleh seorang laki-laki bule berbadan tegap dengan wajah sumringah langsung berkata; ‘ha…kretek, Indonesia’. Kami hanya tersenyum dan mengiyakan, ia meminta sebatang rokok kretek dari kemasan berbungkus kuning. Si bule itu menikmati setiap tarikan rokok kreteknya. Dari percakapan kami, ia mengatakan bahwa ia lebih menyukai rokok kretek bukan hanya karena aromanya saja, namun juga rasanya yang lebih tebal seperti cerutu. Sayangnya menurutnya rokok kretek sangat mahal harganya dan hanya ada yang berfilter.

Rokok kretek bukanlah sekedar rokok saja melainkan identitas bangsa Indonesia sejak jaman kebangkitan nasional. Rokok kretek menunjuk langsung pada eksistensi bangsa Indonesia dan rokok seperti ini tidak ada di negara lain. Dinamakan rokok kretek karena bunyi cengkeh yang terbakar ketika bara api menyentuhnya. Bunyi yang dalam bahasa Jawa diistilahkan ‘kemeretek’ itu kemudian menjadi kretek.

Bila rokok lainnya yang diproduksi di luar rokok kretek, terdiri dari dua atau tiga campuran jenis daun tembakau. Namun rokok kretek selain memiliki campuran cengkeh, juga terdiri dari lebih 30 jenis daun tembakau yang berasal dari seluruh Indonesia.Meskipun demikian tembakau memang bukan tanaman asli Indonesia. Menurut pakar sejarah, tembakau didatangkan dari benua Amerika oleh bangsa Portugis. Hal ini mengacu pada penyebutan tembakau yang memiliki kesamaan bunyi dengan ‘tumbaco’ dalam bahasa Portugis. Tembakau mulai ditanam di Indonesia sejak abad 17.

Dalam buku ‘History of Java’ oleh Sir Thomas Stamford Raffles, disebutkan bahwa orang-orang di Jawa mulai menghisap tembakau sebagai rokok sekitar awal tahun 1600-an. Mengacu pada sebutan rokok dalam bahasa Belanda adalah ‘rokken’. Bukan mustahil bahwa yang memperkenalkan tembakau sebagai rokok adalah bangsa Belanda. Sultan Agung Hanyokrokusumo, penguasa Mataram, adalah seorang perokok berat. Dalam naskah ‘Babad Ing Sangkala’ disebutkan juga kehadiran tembakau sebagai rokok setelah era pemerintahan Panembahan Senopati. Begitu juga di Aceh, disebutkan bahwa para elit pemerintahan di Aceh sudah menghisap tembakau.

Masih menjadi misteri kemunculan rokok kretek yang ada sampai saat ini. Namun cerita yang diyakini kebenarannya adalah cerita Haji Djamhari dari Kudus. Rokok kfretek sama halnya dengan resep minuman cola, pada awalnya dianggap memiliki khasiat terhadap batuk dan lainnya. Haji Djamhari menurut cerita mengalami sesak napas dan mencoba pengobatan dengan minyak cengkeh, kemudian mengunyah cengkeh yang ternyata dapat meredakan sesak napasnya.

Kemudian ia mencoba hipotesa memasukan khasiat cengkeh langsung ke pernapasan. Untuk itu ia kemudian merajang halus cengkeh dan mencampurkannya pada rokok yang ia hisap. Sejak saat itu sesak napasnya kemudian berangsur mereda. Sejak saat itu rokok Haji Djamhari diterima masyarakat sebagai salah satu cara pengobatan yang ampuh. Misteri rokok kretek ini juga sama dengan misteri hadirnya industri rokok kretek itu sendiri. Namun yang jelas rokok kretek kemudian berkembang menjadi identitas bangsa Indonesia.

Tags

You may also like...

0 thoughts on “Rokok Kretek Identitas Indonesia”

Leave a Reply

Bangsaku TV

FACEBOOK INIBANGSAKU

TWITTER INIBANGSAKU

<