Perancang Pesawat Masa Depan

Nama Reindy Allendra mungkin belum familiar bagi sebagian besar dari Anda, tapi coba saja ketik namanya di search engine Google. Baru 5 huruf terketik, namanya akan muncul sebagai salah satu topik yang paling sering dibicarakan. Belakangan wajahnya juga mulai menghiasi layar kaca beberapa TV nasional yang mengundangnya sebagai narasumber. Siapa sebenarnya sosok Reindy Allendra?

Reindy Allendra

Reindy Allendra

Terlahir di Kota Kembang Bandung, 27 tahun silam, Reindy kecil sangat dekat dengan sang ayah. Dari sang ayah, Reindy mengenal konsep produk atau industrial design. “Sampai terdoktrin untuk suka,” ujarnya.

Sejak SMP Reindy sudah tahu jurusan kuliah apa yang akan dia ambil. Menurutnya, penting untuk mengenal apa minat kita sejak dini. “Sebelum lulus SMU, sebaiknya kita tahu jurusan apa yang akan diambil supaya kita bisa menjalani dengan passion. Passion akan membuat semuanya lebih mudah,” tambahnya

Setelah sempat kuliah di jurusan Desain Produk Universitas Trisakti selama satu tahun, pada 2004 Reindy hijrah ke Malaysia. Di Negeri Jiran tersebut ia mengambil program Industrial Design dari Swinburne University of Technology Melbourne. Selepas lulus di tahun 2008, ia sempat bekerja sebagai desainer lepas untuk beberapa perusahaan. Karyanya beraneka ragam mulai dari sepatu, perlengkapan furniture, sampai alat trasportasi seperti sepeda, bahkan pesawat.

“Pada prinsipnya Industrial Design sama dengan product design, cuma di luar lebih common disebut Industrial Design sedangkan di Indonesia lebih common disebut product design. Industrial Design mungkin lebih fokus ke barang mass product seperti barang elektronik, sedangkan yang saya lihat product design di Indonesia lebih fokus ke barang home industry. Ini berdasarkan pengalaman saya waktu kuliah di Trisakti dulu, cuma mungkin sekarang sudah lebih luas,” jelas pria berambut ikal ini.

 

Pesawat Masa Depan WB-1010

Salah satu obsesi Reindy adalah backpacker-an keliling Eropa bersama seorang temannya. Temannya tersebut kemudian memberitahukan tentang lomba desain yang diadakan KLM Airlines Indonesia, berhadiah paket perjalanan ke Amsterdam, Belanda, tempat di mana KLM Airlines berbasis. Dengan motivasi untuk dapat berkeliling Eropa secara gratis, Reindy memutuskan untuk menjawab tantangan KLM Design Contest yang diadakan dalam rangka ulang tahun KLM ke-85: menciptakan disain pesawat yang akan digunakan 85 tahun ke depan.

Reindy mulai melakukan riset mengenai teknologi transportasi udara, membuat ratusan sketsa hingga menemukan bentuk yang tepat, terinspirasi dari bentuk ikan paus biru. Tidak butuh waktu lama, dalam 2 minggu saja Reindy mampu menciptakan desain sebuah pesawat masa depan yang ia beri nama WB-1010 (WB diambil dari singkatan Wright Brothers).

Reindy membayangkan 85 tahun ke depan populasi manusia akan semakin membludak, karena itu dibutuhkan alat transportasi massal yang mampu mengangkut banyak penumpang dengan kecepatan maksimal. WB-1010 diharapkan mampu menjawab kebutuhan tersebut.

WB-1010 dirancang untuk dibuat dari bahan serupa GLARE (Glass-Reinforced) yang terdiri dari lapisan tipis berbagai macam logam dan serat kaca, seperti yang digunakan pada pesawat Airbus A380. Tubuh pesawat diinjeksi dengan helium, yang menjadikan bobot pesawat menjadi lebih ringan dan dapat terbang dengan kecepatan lebih tinggi. Kaca jendela dibuat dengan mengunakan “smart glass” yang mampu menyerap energi angin dan mengubahnya menjadi energi  listrik.

Balon udara raksasa ini mampu mengangkut 1500 penumpang sekaligus, dengan kecepatan hampir mencapai 1000 kmph. Tidak hanya sampai di situ, ada satu keistimewaan lagi dari pesawat WB-1010 rancangan Reindy. Tidak seperti pesawat biasa yang membutuhkan lahan super luas sebagai landasan pacu, WB-1010 mampu mendarat secara vertikal, tanpa landasan pacu.

WB-1010 berhasil membawa Reindy ke Amsterdam, sebagai juara KLM Indonesia Aircraft Design Competition 2009. Tidak hanya ke Eropa gratis, Reindy juga berkesempatan mengunjungi hanggar tempat KLM membuat pesawatnya.

Juara KLM Design Contest bukan satu-satunya prestasi Reindy dalam bidang Industrial Design. Sebelumnya, di tahun 2007 ia berhasil meraih juara favorit dalam Furniture Kampus Design Award lewat rancangan kursi kolam renang buatannya. Kemudian bersama dua orang teman, Christilla Yovero dan Yopi Djauhari, Reindy berhasil meraih Juara ke-2 Samsung LCD Monitor Design Competition di Malaysia dengan design monitor yang disertai “magic rotation”  untuk memungkinkan monitor berputar 90 derajat.

Lantas bagaimana dengan kelanjutan dari WB-1010? Apakah hanya menjadi sekedar rancangan? Tidak dipungkiri, sebagian besar orang mungkin bertanya-tanya sejauh mana rancangan tersebut dapat diwujudkan menjadi nyata. Reindy menjelaskan bahwa ranah yang ia geluti adalah “concept design”. “Jadi rata-rata desain yang saya buat hanya sampai tahap konsep,” jelasnya.

Untuk saat ini WB-1010 memang baru sebatas konsep, teknologi dan bahan yang yang digunakan belum lazim digunakan di masa sekarang atau bahkan tidak mungkin terwujud. Namun sekali lagi ditegaskan bahwa pesawat ini dirancang untuk 85 tahun ke depan. Tentu saja banyak yang akan terjadi selama 85 tahun, teknologi yang semakin maju salah satunya. Tengok saja film-film yang dibuat puluhan tahun lalu, teknologi yang saat itu hanya sebatas impian banyak yang saat ini dapat kita nikmati.

 

Mengawinkan Fungsi dan Estetika

Salah satu hasil karyanya berupa tas kamera bermerk Sirius telah diproduksi dan dipasarkan secara luas di Indonesia. Reindy berhasil menciptakan sebuah tas kamera yang jauh dari kesan tas kamera pada umumnya yang biasanya kurang fashionable, kaku, dan berwarna gelap membosankan.

Fotografi saat ini memang sangat erat dengan fesyen, bahkan kamera sendiri sudah dapat dikatakan sebagai sebuah  benda fesyen. Sirius rancangan Reindy dibuat dari perpaduan material kulit asli dan kanvas yang ringan, dengan beberapa pilihan warna yang elegan. Functional yet fashionable.

Menurut nya desain tidak seperti ilmu matematika yang memiliki nilai mutlak. Baginya desain yang berhasil adalah desain yang memenuhi tujuan dibuatnya produk itu sendiri. “Namanya juga desain (perencanaan), ada barang yang dibuat untuk lebih condong ke arah estetika, ada barang yang lebih condong ke arah improvement fungsi barang tersebut. Namun kita juga tidak bisa naif kalau di industri desain yang bagus adalah desain yang menghasilkan uang,” ujarnya seraya tersenyum.

Satu hasil karya lain Reindy yang tidak kalah menarik adalah “I-Bike”, sepeda masa depan yang dirancang untuk produsen sepeda Polygon. Selain desain yang futuristik, kelebihan sepeda ini adalah dilengkapi iPod yang baterenya dapat terisi ulang otomatis dari gerakan mengayuh sepeda.

Desain Reindy Allendra

Rancangan Reindy Allendra

Ditanya mengenai gayanya dalam berkarya, Reindy mengaku memang menyukasi desain futuristik. Sebagian besar karyanya simple dan mengambil inspirasi dari alam. “Kalau ditanya aliran saya apa, saya lebih prefer dibilang Biomimicry….mengambil inspirasi dari alam,” jelasnya.

 

Berkarya dari Rumah

Keberhasilan Reindy menjuarai KLM Aircraft Design Contest menarik perhatian sebuah perusahaan Riset dan Teknologi asal Amerika Serikat, Airship Earth. Perusahaan yang masih berafiliasi dengan NASA tersebut kemudian mengajak Reindy untuk bergabung. Meskipun bekerja secara penuh waktu Reindy diperbolehkan untuk menetap di Indonesia dan bekerja di rumah.

Salah satu karya Reindy bersama Thomas Grimm dan Dr. Gregory Smedler, Archangel, telah dibeli hak patennya oleh Airship Earth. Archangel adalah sebuah konsep pesawat masa depan yang berfungsi dalam penanggulangan bencana. Archangel dirancang untuk dapat menjangkau area bencana di mana saja dengan cepat, meskipun akses dengan kendaraan lain sudah tidak mungkin dilakukan. Selain untuk penanggulangan bencana, pesawat ini juga dirancang untuk dapat dijadikan pesawat wisata yang dilengkapi hotel dan restoran.

Saat ini bersama Airship Earth, Reindy sedang menangani proyek pengembangan energi Biofuel. “Agak melenceng memang dengan major saya, cuma tetep menyenangkan karena saya mendapat banyak informasi tentang teknologi  yang belum tentu semua orang tahu,” jelas pria yang sempat menghabiskan masa remajanya di Kota Pekanbaru ini.

Bagi pria yang lebih suka menghabiskan waktu bersama keluarga dibandingkan nongkrong-nongkrong di café ini, bekerja di rumah memiliki sisi positif sekaligus negatif. Positifnya, ia merasa beruntung tidak perlu bermacet-macet di jalan untuk menuju kantor setiap harinya. Negatifnya, terlalu banyak di rumah membuatnya terkadang merasa kurang bersosialisasi. “Kalau enggak pintar-pintar mengakalinya bisa cepat jenuh. Buat ngakalinnya saya kerja pindah-pindah tempat menggunakan laptop,” ujarnya.

Pekerjaan seorang desainer erat kaitannya dengan seni, dan bagi Reindy seni bukanlah sesuatu yang bisa dipaksakan. Kehabisan ide seringkali terjadi, dan saat itu terjadi, alih-alih memaksakan diri, Reindy lebih memilih untuk rehat sejenak dengan berjalan-jalan. Menurutnya inspirasi bisa datang dari mana saja, terutama dari alam. Hal itulah yang membuatnya mengagumi konsep Biomimicry, di mana alam sebenarnya sudah memberikan design solution.

“Seru deh, tinggal kitanya aja yang observing. Sebagai contoh, bagaimana bentuk hexagonal di sarang lebah bagus untuk inspirasi design arsitektur,” terangnya. Cara lain untuk mendapatkan inspirasi dengan efektif adalah melihat-lihat karya desainer lain melalui internet.

Untuk menghasilkan sebuah karya Industrial Design, waktu yang diperlukan bervariasi tergantung dari barang yang akan dirancang. Ada yang membutuhkan riset mendalam ada yang tidak. “Sebagai contoh mobil bisa menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk desain prosesnya, sedangkan barang yang lebih simple bisa cuma sebulan bahkan harian,” tegasnya.

Menurut Reindy, kemampuan menggambar menjadi hal mutlak yang harus dimiliki seorang desainer. “Karena menjelaskan sebuah ide atau bentuk itu lebih mudah dalam bentuk visual,” jelasnya. Sementara itu kemampuan untuk mengoperasikan program komputer seperti 3D software bisa menjadi nilai tambah.

Ditanya mengenai desainer idolanya, Reindy mengaku karya concept designer Scott Robertson banyak menginspirasi dan memotivasinya. “Selain dia, ada juga James Dyson yang punya merek vacuum cleaner Dyson, dan Jonathan Ive, Industrial Designer-nya Apple,” tambahnya.


Berkarya Untuk Bangsa

Meskipun lebih banyak bekerja untuk perusahaan asing, keinginan terbesar Reindy adalah berkarya untuk Indonesia. “I hope I could share my skill and experiences to younger designers and also hopefully I could see my own designs in our Country bukan cuma di luar,” jawabnya saat ditanya apa goal-nya 20 tahun ke depan.

Bagaimana jika ditantang untuk mengatasi kemacetan Jakarta yang makin hari makin menjadi?  “Enggak usah mikirin mobil terbang, kereta terbang atau mungkin teleport deh, saya mau mulai dari hal kecil, yaitu lampu merah,”  jawabnya. “Bayangin kalau semua lampu merah di Jakarta berfungsi bukan bedasarkan waktu lagi, tapi punya sensor jumlah arus kendaraan sehingga dia bisa dengan sendirinya mengatur. Tapi balik ke karakter dan kedisiplinan orang-orangnya, kalau masih seperti sekarang mau pakai mobil terbang juga, Jakarta tetap aja berantakan,” tambahnya.

Meskipun ia sendiri mengenyam pendidikan di luar negeri, menurut Reindy anak Indonesia dengan pendidikan lokal juga mampu bersaing di dunia internasional seperti dirinya. Baginya, dari mana kita diluluskan tidak menjadi jaminan akan menjadi apa kita di masa depan. Semua kembali ke individu masing-masing. “Love what you do and do what you love,” ujarnya. Klise, tapi saat kita melakukan sesuatu untuk orang yang kita cinta, semua tidak akan terasa berat. Demikian juga dalam melakukan pekerjaan. “Intinya have passion in whatever you do,” tambahnya lagi.

 

Tags

You may also like...

0 thoughts on “Perancang Pesawat Masa Depan”

Leave a Reply

Bangsaku TV

FACEBOOK INIBANGSAKU

TWITTER INIBANGSAKU

<