Penguasa 72 Negri

Sultan Baabullah merupakan generasi ke-5, putra dari Sultan Khairun, dengan silsilah sebagai berikut; Sultan Zainal Abidin (1485-1500). Generasi pertamanya adalah Sultan Bayanullah (1500-1522), kedua Sultan Maharani Noekila (1522-1532), ketiga Sultan Tabarija (1532-1536), dan keempat Sultan Khairun Janil (1536-1570).

Saat diangkat menjadi sultan Ternate yang ke-25, usia Sultan Baabullah saat itu sudah terhitung matang, yakni sekitar 42 tahun. Segenap penghuni kerajaan sudah tak ragu lagi sebab ia telah terlatih di berbagai medan pertempuran pada masa pergolakan pemerintahan Ayahandanya Khairun Janil dalam melawan Portugis.

Kematangannya dalam hal berperang telah didapatkan Sulatn Baabullah sejak masa muda. Ia telah digembleng kemiliteran oleh Salahaka Sula dan Salahaka Ambon. Keduanya merupakan panglima Kerajaan Ternate. Berkat bimbingan kedua tokoh inilah, dalam usia relatif muda Sultan Baabulla telah diangkat menjadi Kaicil Paparangan alias panglima tertinggi angkatan perang.

Sehingga perlawanan melawan Portugis semakin garang di masa pemerintahannya. Di dalam benaknya selalu teringat saat-saat duka dodora ketika ia membopong jenazah Sultan Chairun yang hancur, ia dibunuh ketika diajak berunding oleh Belanda di benteng Sao Paulo, diambil jantungnya oleh serdadu Portugis untuk dipersembahkan kepada Rajamuda Portugis di Goa India (1570).

Strategi perang Sultan Baabullah dalam melawan Portugis diatur berdasarkan pada pembagian tugas teritori kesultanan, dengan Tomagola bertanggungjawab atas kawasan Ambon-Seram. Toraitu bertanggungjawab atas kepulauan Sula, Baca, Luwuk, Banggai, dan Buton. Jougugu Dorure dan Sultan Jailolo termasuk koordinator penghancuran di Halmahera dan Sulawesi.

Sultan Baabullah Datu Syah (1570-1583), dengan kepemimpinannya telah berhasil mengusir penjajah portugis pada tahun 1575 dengan Armada Ternate yang terkenal perkasa. Ditambah kapal-kapal dari Jawa (Jepara), Melayu, Makasar, Buton, membuat armada Portugis yang lengkap persenjataannya seakan tak berarti apa-apa. Akhirnya benteng Fort Tolocce (dibangun tahun 1572), Santo Lucia Fortress (1518), dan Santo Pedro (1522), jatuh ke tangan laskar kora-kora Ternate.

Kekuatan armada perang Kesultanan Ternate begitu menakutkan bagi kerajaan-kerajaan disekitarnya dan juga pada saat itulah kesultanan Ternate berhasil memperluas wilayah kekuasaannya. Kesuksesan  Sultan Baabullah ini, menjadikan dirinya sebagai sultan yang berjulukan penguasa 72 pulau/negeri.

Pada masa kejayaan Sultan Baabulah Datu Syah, kesultanan Ternate berambisi memperluas wilayah kekuasaannya dengan dalil penyebaran agama Islam. Sebagai pemimpin 72 negeri, Sultan Baabullah menempatkan 6 sangaji di Nusa Tenggara, yaitu; sangaji Solor, Sangaji Lawayong (NTT), Sangaji Lamaharra, Sangaji Kore (NTB dan Bali), Sangaji Mena, dan Sangaji Dili (Timtim).

Di pulau Jawa ada 4 Sangaji: Sangaji Lor, Sangaji Kidul, Sangaji Wetan, dan Sangaji Kulon. Di Sumatra ada Sangaji Palembang. Sementara di Irian ada 5 Sangaji, yaitu: Sangaji Raja Ampat (Kolano Fat), Sangaji Papua Gamsio (Sorong), Sangaji Mafor (Biak), Sangaji Soaraha (Jayapura), dan Sangaji Mariekku (Merauke).

Di Sulawesi ditempatkan di kerajaan Goa Makasar, Bone, Buton Raha, Gorontalo, Sangir, Minahasa, Luwu, Banggai, dan Selayar. Di Kalimantan ada kerajaan Sabah, Brunai, Searawak, dan Kutai. Begitu pula di Filipina, terdapat di kerajaan Mangindano, Zulu-Zamboango.

Sementara di kepulauan Maluku sendiri ada Sangaji Seram, Ambon, Sula, Maba, Pattani, Gebe, dll. Bahkan sampai di Mikronesia dekat pulau Marshal kepulauan Mariana, ada Sangaji Gamrangi. Begitu pula di Polinesia dan Malanesia. Begitu luas wilayah kekuasaannya, sehingga banyak yang menyebut bahwa Ternate masa Sultan Baabullah adalah model negara Islam pertama di Nusantara.

Selama pemerintahannya, Sultan Baabullah telah banyak memberikan keharuman bagi Ternate dan Islam, selain itu ia pun dikenal sebagai sultan yang bijak, pengampun terhadap musuh perang yang telah menyerah, dan banyak memberi inspirasi dan semangat dalam melawan kolonialisme eropa.

Ia adalah tonggal awal perlawanan Nusantara terhadap kolonialisme barat. Sehingga ketika Sultan Baabullah mangkat pada tanggal 18 Ramadhan 991 H atau 25 Mei 1583 dalam usianya yang ke-53 tahun, duka dodora melanda bumi ternate. Meski penyebab dan tempat kematiannya masih diperdebatkan, kematian Sultan Baabullah sebagai putera kebangga Maluku telah meninggalkan duka mendalam bagi rakyatnya.

 

Sumber :
wacananusantara.org

 

Tags

You may also like...

0 thoughts on “Penguasa 72 Negri”

Leave a Reply

Bangsaku TV

FACEBOOK INIBANGSAKU

TWITTER INIBANGSAKU

<