Pemakaman Unik Trunyan, Bali

dian Budaya 1,794 views 0 0
trunyan

Inibangsaku.com – Trunyan, sebuah nama desa yang sudah sangat terkenal bukan hanya di telinga masyarakat Bali maupun di Indonesia namun hingga ke mancanegara. Trunyan adalah sebuah desa yang berada di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali, Indonesia. Terunyan merupakan suatu tempat yang terdapat di Danau Batur, Kintamani. Di daerah ini terdapat adat pemakaman yang cukup unik. Warga yang telah meninggal jenazahnya dimakamkan di atas batu besar yang memiliki tujuh buah cekungan. Jenazah hanya dipagari bambu anyam secukupnya.

Di desa Trunyan ini ada tiga kuburan (sema) yang diperuntukan bagi tiga jenis kematian yang berbeda yaitu Sema Wayah, Sema Bantas dan Sema Muda. Sema Wayah merupakan lokasi pemakaman bagi jenazah warga Terunyan yang meninggal secara wajar. Jenazahnya akan ditutupi kain putih, diupacarai, kemudian diletakkan tanpa dikubur di bawah pohon besar bernama Taru Menyan. Sema Bantas merupakan lokasi pemakaman bagi jenazah warga terunyam yang penyebab kematiannya tidak wajar seperti karena kecelakaan, bunuh diri, atau terbunuh. Sedang Sema Muda diperuntukkan bagi jenazah bayi dan anak kecil, atau warga yang sudah dewasa tetapi belum menikah.

Desa Trunyan merupakan sebuah desa kuno di tepi danau Batur. Desa ini merupakan sebuah desa Bali Aga Bali Mula dengan kehidupan masyarakat yang unik dan menarik. Bali Aga berarti orang Bali pegunungan, sedangkan Bali Mula berarti Bali Asli. Kebudayaan orang Trunyan mencerminkan satu pola kebudayaan petani yang konservatif. Masyarakat Trunyan mempersepsikan diri dan jati diri mereka dalam dua versi.

Versi pertama, orang Trunyan adalah orang Bali Turunan. Mereka mempercayai bahwa leluhur mereka ‘turun’ dari langit ke bumi Trunyan. Terkait dengan versi ini, orang Trunyan mempunyai satu mitos atau certa suci mengenai asal-usul penduduk Trunyan adalah seorang Dewi dari langit. Sedang versi kedua menyebutkan bahwa orang Trunyan hidup dalam sistem ekologi dengan adanya pohon Taru Menyan, yaitu pohon yang menyebarkan bau-bauan wangi. Dari penyatuan kata “taru” dan “menyan” berkembang kata Trunyan yang dipakai nama desa dan nama penduduk desa tersebut.

Udara desa Trunyan sangat sejuk, suhunya rata-rata 17 derajat Celcius dan dapat turun sampai 12 derajat Celcius. Danau Batur dengan ukuran panjang 9 km dan lebar 5 km merupakan salah satu sumber air dan sumber kehidupan agraris masyarakat Bali selatan dan timur. Di sebelah utara desa Trunyan terdapat sebuah tempat pemakaman desa, mereka meyebutnya kuban. Di kuban ini jenazah tidak dikuburkan atau dibakar, melainkan diletakkan di bawah pohon setelah dilakukan upacara kematian. Tempat pemakamanan ini dipenuhi oleh tulang-tulang, dan bisa jadi kita menemukan jenazah yang masih baru. Masyarakat Trunyan mempunyai suatu tradisi dalam memakamkan orang yang meninggal. Ada yang dikubur tapi ada juga yang tidak dikubur tapi hanya diletakkan di bawah pohon besar. Pohon tersebut adalah pohon menyan. Tetapi ada syarat-syarat tertentu tentang pemakaman di desa trunyan. Ada dua cara pemakaman di desa trunyan.

Cara pertama adalah Mepasah, yaitu meletakkan jenazah di atas tanah dibawah udara terbuka. Orang-orang yang dimakamkan dengan cara mepasah adalah mereka yang pada waktu matinya termasuk orang-orang yang telah berumah tangga, orang-orang yang masih bujangan dan anak kecil yang gigi susunya telah tanggal.

Cara kedua adalah dikubur atau dikebumikan. Orang-orang yang dikebumikan setelah meninggal adalah mereka yang cacat tubuhnya, atau pada saat mati terdapat luka yang belum sembuh seperti misalnya terjadi pada tubuh penderita penyakit cacar, lepra dan lainnya. Orang-orang yang mati dengan tidak wajar seperti dibunuh atau bunuh diri juga dikubur. Anak-anak kecil yang gigi susunya belum tanggal juga dikubur saat meninggal.

Untuk mencapai Desa Wisata Trunyan, kita dapat berperahu motor dari desa Kadisan, Kintamani yang terletak sekitar 65 kilometer arah utara Kota Denpasar. Di Kintamani sendiri, kita akan dipuaskan oleh sajian panorama alam yang sangat eksotis. Perpaduan antara kilau air Danau Batur yang biru dengan latar belakang Gunung Batur yang menjulang. Ditambah dengan suhu udara yang sejuk, membuat suasana bertambah indah.

Desa Trunyan memiliki lima banjar (dusun), yang letaknya relatif berjauhan. Pusat desa ini adalah Trunyan, sebuah perkampungan yang terletak di tepi timur Danau Batur. Empat banjar lainnya adalah Banjar Madya, Banjar Bunut, Banjar Mukus, dan Banjar Puseh. Banjar Madya dan Banjar Bunut berada di sebelah selatan Desa Trunyan dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Karangasem. Dari Desa Trunyan ke Banjar Bunut butuh waktu sekitar dua jam berjalan kaki. Itu pun melewati jalan setapak dan mendaki Bukit Abang.

Setelah berperahu kurang lebih 30 menit dari Desa Kadisan Kintamani, kita akan tiba di sisi lereng Bukit Abang yang menjulang kokoh bak sebuah benteng istana. Dari Desa Trunyan sendiri, kita mesti berperahu menyusur kaki bukit Abang menuju lokasi kuburan, sekitar sepuluh menit. Kita akan tiba di sebuah pura yang terletak di kaki lereng Bukit Abang bagian barat, di tepi Danau Batur. Pura Dalem, namanya. Tidak jauh dari pura tersebut berdiri sebuah dermaga kayu yang berada persis di depan sepasang candi gerbang menuju lokasi Sema Wayah.

Tags

You may also like...

0 thoughts on “Pemakaman Unik Trunyan, Bali”

Leave a Reply

Bangsaku TV

FACEBOOK INIBANGSAKU

TWITTER INIBANGSAKU

<