Pakilia, Tradisi Menyambut Keluarga (Baru) di Mentawai

Di provinsi Sumatera Barat terdapat satu suku yang memiliki banyak kekhasan. Suku tersebut adalah suku Mentawai. Suku Mentawai terdapat di kepulauan Mentawai yang terdiri dari pulau-pulau yaitu Siberut, Sipora, Pagai Utara dan Pagai Selatan. Dalam beberapa pandangan tentang asal usul masyarakat Mentawai, ada yang mengatakan bahwa masyarakat Mentawai berada dalam garis orang polisenia. Menurut kepercayaan masyarakat Siberut, nenek moyang masyarakat Mentawai berasal dari satu suku/uma dari daerah Simatalu yang terletak di Pantai Barat Pulau Siberut yang kemudian menyebar ke seluruh pulau dan terpecah menjadi beberapa uma/suku.

Pada masyarakat Mentawai terdapat kebudayaan yang menjadi kebiasaan di dalam masyarakat Mentawai. Kebudayaan itu adalah upacara Pakilia. Upacara tersebut diadakan pada saat upacara pernikahan. Upacara ini tidak bisa dilaksanakan setiap ada pernikahan berlangsung. Upacara pakilia bisa dilaksanakan dengan ketentuan bahwa orang yang akan melaksanakan memahami susunan dan sukat yang akan dikumandangkan oleh sikebbukat uma dan yang tahu itu tinggal satu suku yaitu suku Sikaraja.

Pakilia adalah upacara menyambut keluarga (baru) pada sebuah keluarga atau suku. Pakilia akan mulai dilakukan setelah pemberkatan pernikahan di gereja. Upacara pakilia dilakukan bagi masyarakat Mentawai yang beragama Katolik. Sesudah dari gereja maka pihak sikebbukat uma dan juga sabajak dan sakamaman mulai mempersiapkan bahan-bahan untuk prosesi Pakilia. Seperti ayam yang masih muda (simanosa) empat ekor, katsaila empat buah, gendang (gajeumak), ayam jantan satu ekor.

Pelaksanaan upacara Pakilia dilaksanakan pada saat pengantin dan pendamping yang memakai pakaian adat Mentawai berbaris satu bajar. Bagian depan, nomor satu dan dua adalah pendamping yang memakai pakaian adat. Nomor tiga adalah pengantin perempuan dan yang terakhir adalah pengantin laki-laki. Permulaan upacara Pakilia dilakukan dimulai dari jembatan rumah mempelai laki-laki karena mempelai perempuan akan ikut keluarga mempelai laki-laki. Ini berdasarkan garis keturunan ayah atau patrilineal. Pendamping dan mempelai akan  diberikan katsaila dan tangan kiri masing-masing diberikan ayam simanosa di bagian tangan kanan masing-masing. Sebelum berjalan dengan iringi bunyi gajeuma, sikebbukat uma memotong ujung paruk ayam agar mengeluarkan darah. Darah itu akan dititikkan pada salah satu bagian di wajah pendamping dan mempelai. Bisa di kening, bisa di pipi kiri atau kanan, atau juga bisa di hidung.

Saat semua siap, sikebbukat uma akan memegang ayam jantan dan mengucapkan sukat pakilia sambil mengangkat ayam jantan. Sukat yang mau dikumandangkan sikebbukat uma tersebut yang tidak diketahui dan dipahami oleh sikebbukat uma lain.

Sukat yang diucapkan sikebbukat uma adalah:

Ekeu kina Toiten,

Sibalu takkakna,

Elek simaoingo buana,

Abe kabuntenna

Simatoroimianan, elek sigereibagana

Sigerei bagamai.

Ekeu kina oinan

Elek atak tirikna

Rapakerek tubum

Ubun sikatirikna

Elek abe kamongana

Elek rokui-rokui

Elektak sigerei bagana

Sigeri bagamai.

Ekeu kina repdep

Raik-raik gajuna

Elek abe kabuntenna

Elek simakuiramman

Elektak simairam mata

Maila matamai

Tak sigerei bagana

Sigerei bagamai

Luluou…….

Cara pengucapan dan gaya membaca sukat diatas berbeda dari biasanya dan makna sukat tersebut yaitu paragraf pertama menceritakan tentang sebatang pohon kelapa yang punya tangga dan berbuah lebat dan manis. Artinya dalam kehidupan sehari-hari dalam berumah tangga meniti kehidupan perlahan dan pertahap untuk menciptakan keluarga yang rukun dan sejahtera, bahagia.

Paragraf kedua menceritakan tentang air sungai yang mengalir dari hulu menuju hilir dan pintu muara sungai. Artinya dalam kehidupan berumah tangga selalu ada awal dan akhir kehidupan yang diwarnai berbagai macam cobaan, namun selalu satu tujuan yaitu kehidupan yang baik. Paragraf ketiga menceritakan tentang sejenis pohon tebu yang tumbuh di tepi sungai. Artinya dalam kehidupan berumah tangga jangan membuat rasa malu karena sikap dan tingkah laku yang tidak baik sehingga membuat keluarga dan saudara menjadi malu. Namun menjadi panutan dan kebanggan keluarga sehingga panutan atau contoh yang diberikan itu menjadi kebanggaan keluarga.

Sesudah Sukat dilapalkan, gajauma berdentang. Pendamping dan pengantin mulai berjalan dengan cara menginjit-nginjitkan kaki. Dalam berjalan pendamping mempelai tidak memakai sandal agar memudahkan mereka menginjitkan kaki diatas papan yang telah disediakan. Lama berjalan dengan menginjitkan kaki ini bisa mencapai setengah jam atau satu jam. Tergantung jarak antara jembatan dan jenjang rumah.

Selama proses berlangsung pihak keluarga, saudara dan famili membuat yang lucu-lucu agar menimbulkan rasa tawa dan semarak. Mereka bergoyang dengan mengambil pasangan, atau ada yang bergoyang dengan membawa kuali, sendok gulai atau hal lainnya. Hal itu dilakukan agar upacara menjadi lebih meriah.

Proses tersebut akan terhenti saat pendamping yang paling depan menginjakkan kakinya dijanjeng rumah yang disambut dengan teriakan  Luluou secara serempak. Sikebbukat uma dan pihak keluarga laki-laki sudah ada di depan pintu menyambut keluarga baru tersebut. Ayam yang dipegang kedua pendamping dan mempelai dimasukkan dalam long ayam. Sementara katsaila dikumpul dan disematkan di atap rumah hingga membusuk. Semua keluarga yang hadir makan bersama sebagai tanda persatuan dalam keluarga, termasuk keluarga baru.

 

Sumber :

wacananusantara.org

 

Tags

You may also like...

0 thoughts on “Pakilia, Tradisi Menyambut Keluarga (Baru) di Mentawai”

Leave a Reply

Bangsaku TV

FACEBOOK INIBANGSAKU

TWITTER INIBANGSAKU

<