Napak Tilas Dibalik Tragedi 12 Mei

12mei

Inibangsaku.com – NAPAK tilas tonggak reformasi dapat ditelusuri di Museum Tragedi 12 Mei. Museum yang terletak di Gedung Sjarif Thajeb, Kampus A Universitas Trisakti (Usakti) tersebut lebih dikenal dengan nama Museum Trisakti.

Menurut Staf Humas Usakti, Sularno, museum tersebut menyimpan kenangan tentang peristiwa 17 tahun silam. Pada 12 Mei 1998 senat mahasiswa Usakti menyelenggarakan mimbar bebas yang dihadiri Guru Besar, pimpinan universitas dan fakultas, dosen, karyawan, alumni, dan mahasiswa. Jumlahnya kala itu mencapai enam ribu orang. Setelah itu, mereka berencana turun ke jalan menuju kompleks DPR/MPR di Senayan, Jakarta Selatan. “Kala itu, mahasiswa ingin menyampaikan perlu adanya reformasi di segala bidang, agar krisis teratasi,” ujar Sularno kepada HARIAN NASIONAL di Jakarta.

Aksi turun ke jalan rupanya tak berjalan mulus. Rombongan tertahan oleh blokade aparat kepolisian tepat di depan pintu masuk kantor Walikota Jakarta Barat. Blokade terdiri dari dua lapis menggunakan tameng dan pentungan. Negosiasi mahasiswa dan pasukan pengendali massa pun berjalan alot.

Hingga sore menjelang, sulit didapatkan kata sepakat. Sementara porsi aparat terus bertambah. Hingga pukul 16.50 WIB, kedua belah pihak sepakat untuk sama-sama membubarkan diri. Ketika mahasiswa berangsur-angsur kembali ke kampus, teriakan provokasi terdengar. Mahasiswa kembali berhadapan dengan aparat. Gesekan terjadi hingga aparat melemparkan gas air mata dan menembak mahasiswa secara membabi buta.

Pemukulan, penendangan, dan penginjakan oleh aparat memberikan luka tersendiri bagi mahasiswa Usakti. Sebagian dari mereka bahkan harus merasakan pelecehan seksual dari oknum tak bertanggungjawab.

Suasana semakin menegangkan manakala pasukan bermotor dengan rompi bertuliskan URC (Unit Reaksi Cepat) mengejar mahasiswa sampai pintu gerbang kampus. Sebagian pasukan naik ke jembatan layang. Mereka terus menembaki mahasiswa yang berlarian ke dalam kampus. Akibatnya, empat mahasiswa meninggal dunia serta belasan lainnya terluka.

Mahasiswa pertama bernama Elang Mulia Lesmana, dari Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) Arsitektur angkatan 1996. Elang tertembak di bagian dada kanan tembus ke punggung kiri di depan Gedung Sjarif Thajeb. Tiga hari sebelum peristiwa, Elang sempat minta ditemani tidur oleh ibunya. Ketika berpamit pada hari nahas itu, Elang sempat berjanji pada ibunya untuk tidak ikut berdemonstrasi. Namun, timah panas justru menerjang tubuhnya.

Mahasiswa kedua adalah Hery Hertanto, dari Fakultas Teknik Industri Mesin angkatan 1995. Dia tertembak di punggung ketika berada di dekat tiang bendera di depan Gedung Sjarif Thajeb. Berasal dari keluarga berada, Hery terkenal sangat rendah hati. Dia pernah mengajukan pinjaman sebesar Rp 200 juta ke sebuah bank untuk merintis usaha bengkel dan fotokopi. Uniknya, usaha itu diperuntukkan bagi teman-temannya yang menganggur dan putus kuliah. Sayang, usaha itu harus terkubur bersamanya.

Korban berikutnya adalah Hendriawan Sie, mahasiswa Fakultas Ekonomi Manajemen angkatan 1996. Dia tertembak di bagian leher ketika berada di pintu keluar Usakti yang mengarah ke Jalan S Parman. Pada 9 Mei 1998, Hendriawan sempat mengirim surat kepada orangtuanya di Balikpapan. Isinya tentang krisis moneter yang melanda Indonesia serta gerakan reformasi yang sedang diperjuangkan mahasiswa. Hendriawan juga meminta dikirimi uang untuk biaya sehari-hari kuliah dan meminta doa restu agar dapat menempuh ujian dengan baik.

Hafidin Royan adalah mahasiswa keempat korban tragedi berdarah ini. Mahasiswa FTSP jurusan Teknik Sipil angkatan 1996 tersebut tertembak di kepala belakang ketika berada di depan pintu Gedung Sjarif Thajeb. Sebelum musibah terjadi, Hafidin sempat berjanji kepada adiknya untuk pulang ke Bandung, 13 Mei 1998. Janji itu memang ditepatinya, namun dia pulang dalam keadaan terbujur kaku.

Keempat korban ini kemudian diberikan gelar Pahlawan Reformasi. Saat itu, Indonesia dan masyarakat dunia berduka, mengecam tindakan aparat terhadap mahasiswa. Sularno menceritakan, pascatragedi tersebut dirinya tidak pulang dan tetap berada di kampus selama satu minggu. Pergerakan mahasiswa terus dipantaunya, termasuk ketika mahasiswa berhasil masuk ke istana negara.

Puncak pergerakan mahasiswa, terjadi ketika mereka berhasil menduduki Gedung DPR/MPR pada 18-20 Mei 1998. Tuntutan yang diperjuangkan mahasiswa agar Soeharto turun dari jabatannya sebagai presiden akhirnya terpenuhi pada 21 Mei 1998.

Memperingati semua peristiwa tersebut, pada 1999 Usakti mendirikan museum yang berisi ragam koleksi terkait peristiwa tersebut. Memasuki ruang museum yang awalnya lobi Gedung Sjarif Thajeb terdapat sebuah meja yang berisi benda-benda pribadi peninggalan Hery Hertanto. Terdapat juga dua foto Hafidin Royan tengah berada di puncak gunung.

Di meja yang sama terdapat duplikat rekaman suara reporter radio MS TRI saat melaporkan pantauannya pada 12 Mei 1998. Ada juga buku kumpulan ucapan bela sungkawa yang diterima Usakti dari masyarakat Indonesia dan internasional. Di seberangnya terdapat meja dengan bentuk sama. Berisi barang koleksi pribadi milik Hendriawan Sie dan Elang Mulia Lesmana.

Museum ini memiliki koleksi foto dimulai dari foto aksi damai mahasiswa Usakti pada Maret dan April 1998 di Kampus A dan sekitarnya. Di sebelahnya terdapat saksi bisu kejamnya selongsong peluru aparat yang mengenai jendela hingga berlubang. Sebuah puisi karangan Fajri MM, siswa SDN kelas V terpampang di sampingnya.

Deretan foto kronologis peristiwa Tragedi 12 Mei 1998 memajang foto-foto aparat, penembak jitu, dan mahasiswa yang mendapat tindak kekerasan aparat. Setelah itu, foto empat pahlawan reformasi yang gugur dipajang. Sesungguhnya, terdapat perangkat audio visual untuk menayangkan rekaman peristiwa yang bersumber dari media massa nasional maupun internasional. Hanya saja, audio visual itu kini telah rusak dan belum diperbaiki.

Di tengah ruangan, terdapat diorama tiga orang mahasiswa, dua di antaranya duduk tak berdaya menahan serangan aparat yang membawa tameng dan pentungan. Diorama ini mengandung pesan agar peristiwa tragedi ini tidak terulang kembali di masa yang akan datang.

Di sebelah kiri ruangan, kembali empat foto pahlawan reformasi dipajang dengan tulisan “In Memoriam”. Dua lukisan karya Prof Drs Yusuf Affendi M Arch, Guru Besar Fakultas Seni Rupa dan Desain mengapit empat foto tersebut. Di sebelahnya, terdapat puisi dengan judul 12 Mei 1998, karangan Taufiq Ismail yang dibuat sehari setelah peristiwa tersebut.

You may also like...

0 thoughts on “Napak Tilas Dibalik Tragedi 12 Mei”

Leave a Reply

Bangsaku TV

FACEBOOK INIBANGSAKU

TWITTER INIBANGSAKU

<