Nandai Batebah, Bentuk Seni Tutur Bengkulu

Foto: wikimedia
Foto: wikimedia

Nandai Batebah adalah seni bertutur yang disampaikan oleh seseorang, lelaki atau perempuan, yang disbeut dengan Juru Nandai. Juru Nandai memiliki banyak cerita rakyat yang tersimpan dalam memori di kepalanya. Tidak ada tulisan atau buku yang dibawa oleh Juru Nandai ini. Penyampaiannya adalah dengan melagukan prosa dari cerita yang disampaikan pada pendengarnya. Nandai Batebah juga disebut Andai Andai atau Guritan. Dalam budaya Sunda terdapat pula Guritan yang merupakan puisi yang disenandungkan.

Kemampuan Juru Nandai tak hanya pada pengingatan cerita-cerita yang hidup dalam masyrakat saja. Lebih dari itu mereka harus mampu memberikan intonasi-intonasi tertentu pada kalimat-kalimat yang disampaikan. Mereka pun harus pandai melagukannya dalam nada-nada yang selaras dengan cerita yang disampaikan. Kalimat-kalimat yang disampaikan dapat saja campuran antara prosa, peribahasa, kiasaan, perumpamaan dan berbagai penyampaian yang bermuatan sastra. Nandai Batebah tidak memerlukan alat-alat musik untuk mengiringinya.

Juru Nandai biasanya menguasai audiensnya dengan baik. Mereka dapat melakukan berbagai improvisasi sejauh tak melenceng dari pakem yang ada. Hebatnya lagi semuanya disampaikan tanpa menggunakan teks, ini merupakan proses pengingatan Juru Nandai yang sudah dari usia dini terlibat di dalam Nandai Batebah.

Biasanya Nandai Batebah digelar pada masa berkabung, namun tidak diperkenankan bila masih ada jenazah di rumah duka. Waktu pertunjukan dapat pada siang hari, sedangkan pada malam hari setelah shalat Isya dan dapat berakhir menjelang shalat Subuh. Tak mengherankan ada beberapa cerita yang tidak dapat dituntaskan dalam semalam, membutuhkan malam-malam berikutnya untuk menuntaskannya. Tapi dapat pula dipertunjukan dalam waktu singkat saja sesuai dengan suasana yang ada.

Tags

You may also like...

0 thoughts on “Nandai Batebah, Bentuk Seni Tutur Bengkulu”

Leave a Reply

Bangsaku TV

FACEBOOK INIBANGSAKU

TWITTER INIBANGSAKU

<