Mengenal Lebih Dekat Sejarah Kota Surabaya

Alkisah dua makhluk raksasa, hiu Sura dan buaya Baya yang selalu berseteru memperebutkan daerah kekuasaan mencari mangsa.  Setiap pertempuran dari kedua hewan ini selalu berakhir seimbang karena keduanya sama-sama besar, kuat, dan ganas.  Bosan terus-menerus berperang, kedua hewan ini membuat kesepakatan, bahwa daerah kekuasaan buaya adalah di darat sehingga ia tidak boleh mencari mangsa di air.  Sebaliknya daerah kekuasaan hiu adalah lautan dengan batas wilayah yang digenangi air laut pada waktu surut.

Keadaan damai tidak berlangsung lama, karena hiu curang terpergok mencari mangsa di sungai.  Ia membela diri bahwa sungai juga termasuk daerah kekuasaanya karena sungai juga digenangi air.  Buaya yang tidak terima karena menganggap sungai adalah bagian kekuasaanya kembali menantang hiu berkelahi.  Kali ini pertempuran yang terjadi lebih dasyat daripada yang sudah-sudah.  Tempat pertempuran keduanya oleh penduduk dinamakan Sura dan Baya, bila digabung menjadi Surabaya.

Cerita di atas tentu adalah  mitos yang beredar menjadi cerita rakyat.  Versi kedua tentang asal-usul nama kota Surabaya adalah, kata Sura berarti selamat, dan kata Baya yang berarti bahaya, jadi selamat dalam menempuh marabahaya.  Bahaya yang dimaksud di sini adalah serbuan armada perang di bawah pimpinan Kaisar Mongol Kubilai Khan yang hendak menyerang kerajaan Singhasari di bawah kekuasaan Raja Kertanegara.

Tentara Mongol tidak mengetahui kalau sang Raja telah mangkat akibat pertempuran dalam negeri yang dipicu pemberontakan Jayakatwang.  Tidak menemui raja yang asli pasukan Mongol pun menyerang Jayakatwang dan berhasil membunuhnya.  Setelah itu pasukan Mongol mengangkut harta benda kerajaan dan menculik gadis-gadis cantik untuk dibawa ke negara asalnya.

Raden Wijaya, menantu Raja Kertanegara, menghadang pasukan Mongol di pelabuhan Ujung Galuh dan berhasil mengalahkan lalu mengusir mereka kembali ke Tiongkok.  Peristiwa kemengan Raden Wijaya atas pasukan Mongol ini lalu diabadikan menjadi hari ulang tahun Surabaya, yaitu pada tanggal 31 Mei 1293.

 

Kota Pahlawan

Berdasarkan catatan sejarah terungkap bahwa Surabaya sudah ada sebelum masa pendudukan Belanda di Indonesia.  Dari sumber prasasti Trowulan I berangka 1358 M, diketahui ada sebuah desa di tepian sungai Brantas yang bernama Churabhaya.  Dalam kitab Negara Kertagama, Mpu Prapanca juga menyebut nama Churabhaya dalam catatan-nya tentang perjalanan pesiar raja Majapahit, Hayam Wuruk.

Sumber yang lain menyebutkan bahwa Surabaya adalah pemukiman untuk para prajurit yang didirikan oleh Raja Kertanegara.  Yang jelas, hari jadi kota Surabaya telah disahkan oleh Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II Surabaya, yang pada saat itu dijabat oleh Bapak Soeparno, dengan Surat Keputusan No. 64/WK/75.

Dalam perang untuk merebut kemerdekaan Indonesia.  Kota Surabaya memegang peranan yang penting karena di tempat itulah terjadi peristiwa 10 November yang saat ini kita peringati setiap tahun sebagai Hari Pahlawan.  Bagaimana peristiwa yang terjadi pada tanggal 10 November yang legendaris itu?

Setelah kekalahan Jepang dan selesainya perang dunia ke-2, pasukan Inggris di bawah pimpinan Brigadir Jenderal Aulbertin Walter Sothern Mallaby mendapat perintah untuk mengamankan Surabaya, yaitu merampas senjata baik pasukan Jepang dan Indonesia, mengurus tawanan perang, dan memulangkan tentara Jepang ke tanah airnya.  Tentu saja pasukan Indonesia menolak perintah tersebut, sampai akhirnya terjadi insiden yang menyebabkan terbunuhnya Brigjend Mallaby pada tanggal 30 Oktober 1945.  Mendengar Mallaby terbunuh, armada perang Inggris pun murka dan mendaratkan 24.000 pasukan Inggris untuk menyerbu Surabaya.

Pertempuran dasyat yang tidak berimbang antara bambu runcing dan senapan terjadi selama sepuluh hari berturut-turut.  Walaupun pada akhirnya Surabaya berhasil ditundukkan oleh Inggris pada tanggal 20 November 1945, tetapi pertempuran ini adalah salah satu pertempuran paling berat yang pernah dialami oleh armada perang Inggris.  Puluhan ribu penduduk Surabaya yang gugur dan kota yang hancur lebur menjadi bukti kuatnya tekad arek-arek (sebutan untuk para pemuda Surabaya) Suroboyo untuk membela harkat dan martabat tanah airnya.

Saat ini kota Surabaya yang juga menjadi Ibukota Propinsi Jawa Timur sekaligus kota kedua terbesar setelah Jakarta, dengan jumlah penduduk yang telah mencapai tiga juta jiwa, Surabaya berkembang menjadi pusat pendidikan, wisata, industri, dan perdagangan di kawasan Jawa Timur. Hal ini sebenarnya tidak terlalu mengherankan, karena menilik dari sejarahnya dahulu wilayah geografis  Surabaya yang merupakan pelabuhan pintu gerbang menuju Majapahit, telah menjadikan Surabaya sebagai pusat transportasi dan perdagangan yang penting semenjak abad ke 14.

Pada masa pendudukan Belanda, letak geografis Surabaya yang berada di pesisir utara menjadikan pelabuhan Surabaya sebagai pusat untuk menyetorkan rempah-rempah, hasil bumi, dan hasil perkebunan dari seluruh pulau Jawa untuk kemudian diimpor ke Eropa.

Kebudayaan khas Surabaya adalah Ludruk, Tari Remo, dan Kidungan.  Ludruk adalah semacam teater rakyat yang banyak menceritakan tentang kehidupan sehari-hari terutama kehidupan rakyat jelata.  Tari Remo adalah tarian selamat datang yang biasanya dipentaskan pada perhelatan-perhelatan, sedangkan Kidungan, adalah berbalas pantun yang dilagukan dan biasanya mengandung unsur humor.  Pusat berbagai kesenian dan kebudayaan khas Surabaya adalah sebuah gedung yang bernama Gedung Cak Durasim, dan setiap tahun secara rutin mengadakan festival-festival budaya demi melestarikan budaya asli Surabaya.

Tags

You may also like...

0 thoughts on “Mengenal Lebih Dekat Sejarah Kota Surabaya”

Leave a Reply

Bangsaku TV

FACEBOOK INIBANGSAKU

TWITTER INIBANGSAKU

<