Mata Panah Prasejarah Nusantara

Di Nusantara, ada dua tempat penemuan yang penting berhubungan dengan mata panah pada masa prasejarah,  Jawa Timur dan Sulawesi Selatan. Para peneliti menganggap bahwa mata panah yang ditemukan di Nusantara banyak menunjukan persamaan dengan penemuan mata panah yang ditemukan di Jepang.

Tempat penemuan mata panah dari Jawa Timur, yaitu Sampung (Gua Lawa), Daerah Tuban (Gua Gede dan Kandang), dan gua-gua kecil di bukit dekat Tuban, di Besuki (Gua Petpuruh), Bojonegoro (Gua Keramat dan Lawang), Punung (tersebar di permukaan bukit bukit kecil di Song, Agung, Sambungan, Gunung Galuh) dan lain-lain.

Gua-gua yang disebutkan di atas merupakan tempat penting pada masa berburu tingkat lanjut yang menggunakan peralatan dari tulang. Keberadaan alat mata panah ini ternyata setelah di selidiki tidak menunjukan secara kronologis. Contohnya di Gua Lawa, lapisan tanah yang menghasilkan mata panah berada di lapisan yang menghasilkan alat-alat dari tulang dan tanduk, sedangkan lapisan teratas menampilkan lapisan beliung bercampur dengan alat-alat dari logam. Bersama dengan ditemukannya mata panah, juga ditemukian beberapa pecahan gerabah perhiasan pola tali. Contoh lain adalah Gua yang ada di Bojonegoro, Tuban, dan besuki menghasilkan mata panah yang letaknya selapis dengan alat-alat tulang tipe sampung.

Bentuk mata panah yang ditemukan di Jawa Timur pada umumnya segitiga dengan bagian basis bersayap dan cekung. Ada pula yang cembung atau kadang-kadang rata tidak bersayap. Ukuran panjang dari mata panah yang ditemukan antara 3-6 cm, lebar basis 2-3 cm, dengan ketebalan rata-rata 1 cm. Bahan yang digunakan untuk pembuatan mata panah ini adalah dari batu gamping. Pekerjaan pembuatan mata panah dilakukan dengan sangat teliti. Pada bagian ujung tajaman dari mata panah ditarah dari dua arah sehingga menghasilkan tajaman yang bergerigi atau berliku-liku dan tajam.

Untuk kawasan Sulawesi Selatan, mata panah ditemukan pada lapisan “Budaya Toala” dan tersebar di beberapa gua di pegunungan kapur Bone, yaitu gua-gua Cakondo, Tomatoa kacicang, Ara, Bola Batu, Saripa, Burung, PattaE, Batu Ejaya, Panganreang Tudea, dan lain-lain. Dari hasil ekskvasi dapat diketahui bahwa pada umumnya lapisan mata panah ditemukan pada lapisan teratas bersama dengan gerabah, alat-alat serpih dan alat-alat dari kulit kerang.

Sumber :

wacananusantara.org

Tags

You may also like...

0 thoughts on “Mata Panah Prasejarah Nusantara”

Leave a Reply

Bangsaku TV

FACEBOOK INIBANGSAKU

TWITTER INIBANGSAKU

<