Budaya Minang: Masyarakat Nan Sakato

dian Budaya 1,279 views 0 0
ib

IniBangsaku – Masyarakat Minang adalah masyarakat yang arif dan kaya akan nilai-nilai kebudayan dan filosofi. Orang Minang mengenal pepatah-pepatah yang erat dengan kehidupan masyarakat Minangkabau. Masyarakat Minang merupakan masyarakat yang lekat dengan syariat islam. Oleh karena itu semua bentuk kebudayaannya sesuai dengan kitab suci Al-Qur’an. Walaupun begitu, dalam beberapa aspek tertentu masih relatif berbeda dengan ajaran Islam.

Kehidupan masyarakat Minang juga sangat lekat dengan alam, dikenal sebagai masyarakat yang hidup secara komunal dan mengedepankan kekeluargaan serta nilai-nilai kerukunan. Keluhuran tradisi masyarakat Minang ini tentu saja dilatarbelakangi oleh keluhuran falsafah hidup yang diwariskan oleh nenek moyang orang Minang. Falsafah orang Minang disebut dengan Falsafah Samo atau sama yang bermakna persamaan, kesamaan dan kebersamaan antar individu, antar kaum dan antar desa.

Masyarakat Minang juga dikenal sebagai masyarakat yang egaliter yang berarti bersifat sama; sederajat. Berdasarakan hal itulah nenek moyang masyarakat Minang mewariskan tujuan-tujuan hidup yang ingin diwujudkan oleh anak cucunya. Tujuan itu demi membentuk masyarakat yang aman, damai, sejahtera dan berkah. Tujuan tersebut hanya dapat diwujudkan dengan membentuk tatanan masyarakat yang ideal sesuai adat Minang, yaitu Masyarakat nan Sakato sebagai pandangan hidup orang Minang.

Masyarakat Nan Sakato berarti masyarakat yang sekata, sependapat dan semufakat. Hal tersebut bermakna bahwa masyarakat Minang harus menjadi masyarakat yang hidup rukun tanpa banyak pertentangan pendapat demi kehidupan yang lebih baik. Tipe masyarakat ideal yang merupakan cita-cita masyarakat Minang ini akan bisa terwujud dengan memperhatikan unsur-unsur yang harus dibangun dalam masyarakat Minang itu sendiri.  Unsur-unsur itu adalah masyarakat yang Saiyo Sakato, Sahino Samalu, Anggo Tanggo, dan Sapikua Sajinjiang.

Saiyo Sakato berari mufakat dalam mengambil keputusan. Dengan demikian adat Minang mengenal musyawarah dalam setiap pengambilan keputusan. Perbedaan pendapat memang lumrah terjadi di kalangan masyarakat manapun untuk itulah jalan musyawarah adalah cara untuk mencari kata mufakat tersebut. Masyarakat Minang adalah masyarakat yang demokratis, sekalipun dalam ruang lingkup keluarga. Kepala keluarga harus selalu mengambil jalan musyawarah dalam mengambil keputusan. Karena itulah sikap otoriter tidak disukai oleh orang Minang.Sahino Samalu merupakan prinsip orang Minang dalam membangun masyarkat yang Saiyo Sakato. Prisnsip ini mengedepan aspek kedekatan dan kekeluargaan masyarakat Minang. Dengan memegang teguh prinsip ini menjadikan harga diri individu sama dengan harga diri kelompok atau suku. Dengan kata lain prinsip ini adalah prinsip persatuan dan kesatuan orang MinangPrinsip Anggo Tanggo adalah kepatuhan masyarakat Minang terhadap aturan-aturan adat yang berlaku. Dengan mematuhi aturan-aturan yang berlaku maka akan tercipta tatanan masyarakat yang tertib dan aman. Dan terakhir adalah prinsip  Sapikua Sajinjiang yang berarti saling membantu dan tolong menolong. Prinsip ini sama dengan pepatah  “berat sama dipikul ringan sama dijinjing” yang berarti gotong royong. Prinsip ini merupakan tipikal masyarakat komunal di suku manapun, dengan hidup berdampingan dan saling membantu dalam mengerjakan sesuatu.

Keempat prinsip ini adalah karakter dan pandangan hidup orang Minang yang harus selalu diperthankan demi menciptakan tatanan masyarakat Minang yang ideal yaitu Masyarakat Saiyo Sakato. Dengan mengaplikasikan prinsip-prinsip tersebut diharapkan masyarakat Minang mampu mewujudkan cita-cita nenek moyang orang Minang “Bumi Sanang Padi Manjadi Padi Masak Jaguang Maupiah Anak Buah Sanang Santoso Taranak Bakambang Biak Bapak Kayo Mande Batuah Mamak Disambah Urang Pulo”. ( ary )

sumber : wacananusantara.org

Tags

You may also like...

0 thoughts on “Budaya Minang: Masyarakat Nan Sakato”

Leave a Reply

Bangsaku TV

FACEBOOK INIBANGSAKU

TWITTER INIBANGSAKU

<