Kota Manado

Kota Bersinar

Siapa yang tidak mengenal Kota Manado? Manado merupakan ibu kota dari Sulawesi Utara. Keindahan alamnya terutama Taman Laut Bunaken yang menjadi maskot Kota ini seolah tak pernah lepas dari perhatian wisatawan baik wisatawan dalam negeri maupun luar negeri. Di tempat ini semua keindahan laut termasuk ikan-ikan dan terumbu karang bisa disaksikan secara langsung. Kota ini juga mempunyai sejarah panjang.

Nama Manado

Menurut masyarakat setempat, nama Manado berasal dari bahasa etnik Toutemboan Minahasa yaitu “manarow” yang berarti “pergi ke negeri jauh”.  Dituturkan pula jika seseorang dari suku Minahasa asli akan bepergian ke Manado maka akan ditanya dengan bahasa seperti ini “mangean isako?” yang berarti “mau kemana dirimu?”.  Kemudian orang tadi akan menjawab “mangean manarow” yang berarti “mau pergi ke tempat yang jauh”.

Nama lain dari Kota Manado adalah “benang atau wenang”.  “Benang atau wenang” ini berarti pohon yang banyak tumbuh di pesisir Manado.  Pohon ini biasa juga disebut sebagai pohon bahu yaitu pohon yang bisa dijumpai di sepanjang Pantai Bahu Malalayang hingga di Kalasey.  Dalam bahasa Sangir tua, wenang atau benang ini disebut “gahenang atau mahenang” yang berarti api yang menyala atau bercahaya atau yang bersinat, dalam hal ini bisa berupa obor atau api unggun.

Kata “manarow” merujuk pada sebuah Pulau yang merupakan Pulau Manado Tua.  Penghuni pulau ini adalah orang-orang dari Etnis Sangir Tua yaitu etnis Bowontehu atau Wowontehu atau juga Bobentehu.  Kata Bowontehu atau Wowontehu atau juga Bobentehu ini berasal dari bahasa Sangir tua yaitu “Bowong”  yang berarti hutan.  Jadi, ketiga istilah ini merujuk kepada nama sebuah kerajaan yang terletak di atas hutan.  Rajanya disebut Kulano.

Etnis

Sekitar abad 14-15, kaum Bowontehu atau Wowontehu atau juga Bobentehu pindah ke daerah Minahasa.  Perpindahan tersebut dilakukan dengan menggunakan perahu atau bininta melalui sebuah tempat yang bernama “tumumpa di Tuminting Manado Utara”, yang dalam bahasa Sangir berarti “turun sambil melompat kemudian menetap di singkil”.  Menurut Bahasa Sangir tua, Singkil berarti pindah atau menyingkir.  Selanjutnya mereka menyebar ke Pondol atau ujung.  Saat ini, Pondol termasuk kepada  kawasan Mega Mall Manado.

Versi lainnya menuturkan bahwa pada sekitar tahun 1600, etnis Bowontehu atau Wowontehu atau juga Bobentehu beralih ke daratan Minahasa di Teluk Manado yang terletak di sebelah selatan Sungai Tondano.  Saat ini Sungai Tondano terletak di wilayah Calaca.  Pemukiman pertama di wilayah ini akhirnya menjadi pusat Kota Manado karena pada tahun 1830, Kota Manado hanya merupakan sebagian dari wilayah Calacah Barat dan wilayah pelabuhan Manado di Sebelah Utara Pasar 45 sekarang.

Oleh sebab itu, wilayah seputaran Calaca, pelabuhan dan pasar 45 disebut sebagai “Bandar” yaitu tempat dari orangorang Minahasa dan Sangir tua serta para pendatan lainnya yang berasal dari etnis Arab, Tionghoa, Gorontalo dan lainnya yang melakukan perdagangan.  Interaksi antara sub-sub etnis yang berada di Minahasa telah terjadi pada abad-abad sebelumnya.

Sebuah deklarasi di Watu Pinabetengan menjadi awal pembagian Tanah Adat bagi etnis-etnis Minahasa yang terdiri dari etnis toumbulu, toulour, tounsea, toun temboan, etnis bantik, pulau Bunaken dan masih banyak lagi.

Pengembangan

Pada tahun 1623, nama Manado mulai digunakan untuk menggantikan nama “pagidon” atau “wenang”.  Manado sendiri berasal dari bahasa Minahasa yaitu Mana dou atau mana rou.  Dalam bahasa Indonesia berarti “di jauh”.  Pada tahun yang sama, Minahasa-Manado ini mulai populer dan dikenal oleh orang-orang Eropa yang sangat kaya dengan hasil buminya.

Pada tahun 1659, VOC membuat sebuah benteng yang terletak di Manado.  Dalam catatan sejarah, pernah disebutkan bahwa Pahlawan nasional Indonesia yaitu Pangeran Diponegoro pernah diasingkan oleh Belanda tepatnya pada tahun 1830.  Bahkan seorang biologiwan asal Inggris yang bernama Alfred Wallace pernah mengunjungi Manado serta mamuji keindahannya.

Berikut ini adalah kronologi perkembangan kota Manado:

–               Pada tanggal 1 Juli 1919 keberadaan Kota Manado dimulai, ditandai dengan adanya belsuit dari jenderal Hindia Belanda.

–               Pada tahun 1951, gemeente Manado menjadi daerah bagian Kota Manado dari Minahasa  tepatnya pada tanggal 3 mei sesuai dengan keputusan gubernur Sulawesi

–               Pada tanggal 17 april 1953, daerah bagian kota Manado mengalami perubahan status menjadi daerah kota Manado dimana sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 42/1953 juncto Peraturan Pemerintah Nomor 15/1954.

–               Pada tahun 1957, Manado menjadi Kota praja. Hal ini  sesuai dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1957.

–               Pada tahun 1959, sesuai dengan undang undang nomor 29 tahun 1959, Kota praja Manado ditetpkan sebagai daerah tingkat II

–               Pada tahun 1965, Kota praja Manado mengalami perubahan status, dari daerah tingkat II menjadi Kotamadya Manado.  Kota madya ini selanjutnya dipimpin oleh Walikota madya Manado KDH Tingkat II.  Hal ini sesuai dengan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1965.  Selanjutny undang-undang ini disempurnakan menjadi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974.

Oleh,
inibangsaku.com

Tags

You may also like...

0 thoughts on “Kota Manado”

Leave a Reply

Bangsaku TV

FACEBOOK INIBANGSAKU

TWITTER INIBANGSAKU

<