Kisah Unik Dibalik KAA 1955

391393_620-720x320

Kisah Bocornya Atap Gedung Merdeka Saat KAA 1955

Pada 19 – 24 April 1955, di Bandung, sebuah konferensi anti-imperialis dan anti-kolonialis juga digelar. Pertemuan ini, 28 tahun setelah pertemuan Liga Anti-Imperialis di Brussel, Belgia, adalah pertemuan anti-imperialis pertama yang melibatkan negara-negara Asia dan Afrika secara luas. Let a New Asia and a New Africa be Born! Semangat yang mampu mengguncang dunia global tersebut ditiupkan dari Bandung. Namun siapa sangka, di balik kemeriahan dan menggaungnya Konferensi Asia Afrika 1955, terselip kisah unik.

Dalam bukunya, The Bandung Connection, Roeslan Abdulgani menuturkan bahwa saat makan siang, ia didatangi penjaga Gedung Merdeka. Ia mendapat laporan bahwa Gedung Merdeka bocor. Kebocorannya di bagian ruang sidang pleno. Waktu itu air bocoran menggenang dimana-mana. Hujan deras menjebol atap hingga lantai ruang sidang utama tergenang air.

Memang waktu itu, saat rehat sidang pleno (sekitar pukul 13.00-15.00), hujan deras mengguyur Kota Bandung. Ini terjadi setelah para delegasi meninggalkan ruangan. Waktu itu, Sekretaris Jenderal Konferensi Asia-Afrika, Roeslan Abdulgani, sedang rehat di HOTEL Trio. Benar saja, Roeslan melihat kebocoran hebat di pinggir sisi barat gedung. Kursi delegasi, menteri, dan pembesar lain basah! Roeslan pun melepas pakaian luarnya dan ikut mengeringkan lantai.

Penyebab kebocoran karena ada genteng yang bocor. Namun karena kondisi hujan yang sangat deras, saat itu belum bisa segera diperbaiki. Barulah sekitar pukul 14.00, hujan pun berhenti. Para petugas Dinas Pekerjaan Umum pun kemudian dengan sigap memperbaiki atap yang menjadi biang keladi kebocoran, Roeslan dan Kepala Dinas bersama belasan petugas pun bahu membahu bekerja bakti.

Maka, ember-ember, kain lap, dan karung goni dikerahkan untuk mengeringkan ruangan. Pokoknya penanganan dilakukan secepat dan sesigap mungkin. Bisa-bisa wirang (menanggung malu) kalau hal ini tidak segera dibenahi. Setelah berjibaku hampir sejam lamanya, ruangan utama Gedung Merdeka kembali bersih dan lantai kering seperti saat ditinggalkan para tamu. (Sumber: www.wisatabdg.com)

Panitia Pusing Kumpulkan 193 Mobil

Dada Wisber Louis seketika berdegup kencang tatkala teleponnya ke Kedutaan India di Jakarta diterima langsung oleh Konsul Mohamed Junus. Kala itu awal April 1955.

Sebagai mahasiswa tingkat pertama Akademi Dinas Luar Negeri (ADLN), Louis tahu persis lawan bicaranya adalah tokoh yang sejak pemerintah Indonesia dikendalikan dari Yogyakarta telah menjadi “jembatan” antara Sukarno-Hatta dan Perdana Menteri Jawaharlal Nehru di New Delhi.

Musabab rasa kikuk Louis adalah tujuan dia menelepon: meminjam mobil untuk mengangkut delegasi Konferensi Asia-Afrika 1955 yang akan digelar dua pekan lagi di Bandung. “Saat itu pemerintah belum punya banyak mobil,” kata Louis.

Louis tak sendirian mencari mobil pinjaman ke kantor-kantor perwakilan negara asing. Menjelang Konferensi, sekitar 60 mahasiswa baru ADLN dan sejumlah alumni turun tangan membantu panitia.

Sebagian dari mereka ditempatkan di belakang Gedung Pancasila, kompleks Departemen Luar Negeri. Di sinilah markas Sekretariat Bersama Konferensi Asia-Afrika ketika itu. Ada pula yang langsung berangkat ke Bandung untuk membantu panitia lokal.

Menyiapkan mobil untuk sekitar 1.500 tamu bukan soal mudah ketika itu. Maka panitia Bandung pun membentuk tim khusus untuk meminjam mobil. Abah Landung adalah salah satu relawan di Bandung. Aktif di kepanduan, dia bergabung dengan panitia lokal. Bersama kawan-kawannya, Landung melanglang ke segala penjuru kota, melacak mobil-mobil yang bisa dipinjam.

Landung, 23 tahun, saat itu bekerja sebagai guru privat. Posisi ini memudahkan dia masuk ke kalangan kaum berada Kota Kembang. “Semuanya rela meminjamkan mobil dan tidak minta bayaran.

Dari gerilya di dua kota, Sekretariat Bersama berhasil mengumpulkan 143 mobil sedan, 30 taksi, dan 20 bus. Panitia pun menyiapkan 230 sopir. Tak hanya untuk peserta Konferensi, semua moda transportasi tersebut disediakan pula untuk pewarta dari dalam dan luar negeri yang jumlahnya sekitar 377 orang.

“Jumlah itu amat besar, dan tidak mudah diperoleh begitu saja,” cerita Roeslan Abdulgani dalam bukunya, The Bandung Connection. Roeslan, yang waktu itu menjabat Sekretaris Jenderal Departemen Luar Negeri, didapuk menjadi Sekretaris Jenderal Konferensi Asia-Afrika.

(sumber:tempo)

You may also like...

0 thoughts on “Kisah Unik Dibalik KAA 1955”

Leave a Reply

Bangsaku TV

FACEBOOK INIBANGSAKU

TWITTER INIBANGSAKU

<