Kerajinan Perak Kotagede, Budaya Mataram

perak1

Salah satu sentra kerajinan yang memiliki tempat istimewa di Yogyakarta, dan bahkan di Indonesia adalah Kotagede. Daerah ini merupakan salah satu sentra kerajinan perak paling terkenal di Indonesia. Akar sejarahnya bisa ditarik ke abad ke-16 di era Kerajaan Mataram Islam.

Sejarah kerajinan perak Kotagede tidak bisa dilepaskan dari peran Panembahan Senopati, pemimpin Kerajaan Mataram Islam. Pada tahun 1575, sang Panembahan membuka hutan demi membangun istana dan pusat kerajaannya di Kotagede. Daerah itu pun berkembang dengan cepat, sehingga mengundang banyak orang untuk datang, termasuk para pengrajin.

Sebagai seorang raja yang menganut Islam, Panembahan Senopati memberi perhatian besar barang-barang seni dan kerajinan dari perak (dalam Islam, lelaki dilarang mengenakan emas sebagai perhiasan). Selain itu, perak juga digunakan untuk membuat perkakas makan, perkakas kerajaan, berbagai hiasan dan sebagainya. Akibatnya, kebutuhan akan perak semakin besar. Lama kelamaan, Kotagede pun mulai identik dengan kerajinan peraknya.

Pada tahun 1640, Sultan Agung memindahkan ibukota Kerajaan Mataram Islam ke Plered, namun para pengrajin perak menolak untuk ikut pindah. Mereka pun mengalihkan usaha mereka; dari yang tadinya membuat kerajinan dan perkakas perak untuk keluarga kerajaan, menjadi membuat benda-benda dari perak untuk dijual kepada masyarakat luas.

Kerajinan perak Kotagede berkembang makin pesat setelah kedatangan VOC pada akhir abad ke-16. Saat itu, pegawai VOC yang membawa keluarganya kesulitan menemukan perkakas makan dan perhiasan perak di toko sekitar. Mereka pun beralih ke para pengrajin perak. Sejak saat itu, pengrajin perak Kotagede pun tidak melulu jago membuat perhiasan, melainkan juga perkakas biasa seperti sendok, pisau dan garpu perak.

Puncak kejayaan kerajinan perak Kotagede terjadi pada abad ke-20. Antara tahun 1970-an hingga 1990-an, para turis asing yang datang ke Yogyakarta banyak mencari perkakas, souvenir dan perhiasan perak untuk dibawa ke negara asalnya. Selain itu, berbagai hotel mewah di Yogya dan sekitarnya ikut memesan perkakas perak untuk digunakan di ruang makan serta dapur.

Halus
Kerajinan perak buatan pengrajin Kotagede terkenal akan kehalusan serta detilnya. Apakah itu cincin polos yang sederhana atau miniatur delman lengkap dengan kudanya, tiap benda selalu dibuat sehalus mungkin dengan detil yang luar biasa. Inilah yang membuat kerajinan perak Kotagede sangat terkenal.

Barang-barang perak yang paling populer di kalangan turis yang datang ke Kotagede antara lain perhiasan kecil seperti bros, cincin dan anting, kalung dan gelang, peralatan makan, hingga miniatur becak, delman dan candi terkenal seperti Borobudur dan Prambanan. Masing-masing memiliki keunikan tersendiri, tentu saja dengan harga yang bervariasi, sesuai ukuran, kualitas bahan, dan kedetilan pembuatannya.

Harga benda-benda perak buatan pengrajin Kotagede sangat beragam. Untuk bros kecil, misalnya, harganya bisa berkisar antara 10 ribu hingga 20 ribu rupiah saja. Untuk cincin (yang merupakan aksesoris favorit), harganya bisa berkisar antara 50 ribu hingga 100 ribu rupiah, tergantung ukuran, kehalusan dan detilnya. Sedangkan untuk yang lebih rumit seperti miniatur becak atau delman, harganya bisa berkisar antara 200 ribu hingga 250 ribu rupiah. Semakin besar dan rumit pembuatan sebuah produk perak, semakin mahal pula harganya.

Sentra kerajinan perak di Kotagede sangat mudah. Kota ini terkenal dengan perkampungan rakyat bernama Kampung Alun-alun. Di daerah ini, rumah pendudukan berdempetan, dengan halaman yang nyaris tumpang tindih sehingga saling berhadapan. Di kampung-kampung seperti inilah para pengrajin perak Kotagede tinggal dan bekerja.

Sentra kerajinan perak Kotagede berada di daerah seperti Jalan Tegal-gendu, Kemasan dan Mundorakan. Selain bengkel pengrajin, Anda juga bisa menemukan banyak kios dan toko yang menjual beragam produk serta karya dari perak. Bahkan, ada pula sentra kerajinan yang menawarkan kursus membuat barang dari perak.

Ketenaran perak Kotagede kini bukan hanya di dalam negeri, namun juga di dunia. Akibatnya, banyak orang dari wilayah di luar Kotagede tertarik untuk datang dan mencari nafkah sebagai pengrajin perak, terutama dari Gunung Kidul, Kulon Progo dan Bantul.

Walaupun sangat populer, sentra kerajinan perak di Kotagede bukannya tidak menemui hambatan. Salah satu hambatan yang paling nyata adalah terjadinya krisis moneter yang mengurangi pembelian perak dan membuat sekitar 30 persen pengrajin perak (dari sekitar 2000-an orang sebelum tahun 1998) terpaksa gulung tikar dan beralih menjadi petani, pedagang di pasar bahkan penarik becak.

Asosiasi pedagang perak di Kotagede saat ini juga tengah memperjuangkan agar pemerintah bisa menghapus PPN 10 persen yang ditetapkan pada pembelian bahan baku perkakas perak. Plus, saat ini, kegiatan sosialisasi kerajinan perak telah dilakukan pada generasi muda, baik lewat pameran maupun media internet. Saat ini, kerjasama semua pihak terkait dibutuhkan agar industri perak Kotagede tidak hilang ditelan jaman. (Putri Prihatini)

Tags

You may also like...

0 thoughts on “Kerajinan Perak Kotagede, Budaya Mataram”

Leave a Reply

Bangsaku TV

FACEBOOK INIBANGSAKU

TWITTER INIBANGSAKU

<