Kerajaan Wijayapura/Kerajaan Sambas Kuno, Jejak Majapahit

wijaya-pura1

Kerajaan Wijayapura atau Kerajaan Sambas Kuno adalah kerajaan yang berdiri pada abad ke-7 di Kalimantan Barat dan terletak di sekitar Sungai Rejang. Dugaan telah ada kerajaan yang berdiri pada sekitar abad ke-6 atau 7 di Kalimantan Barat ini karena ditemukannya benda-benda kuno bercorak Hindu seperti patung atau gerabah.

 

Kerajaan Sambas sebenarnya merupakan koloni dari Kerajaan Bakulapura, kemudian menjadi koloni dari Kerajaan Tanjungpura, yaitu Kerajaan bawahan Majapahit di Pulau Kalimantan. Di dalam Pupuh XIII dan XIV dari kitab Negarakertagama disebutkan bahwa Kerajaan Majapahit menguasai hampir seluruh Nusantara tak terkecuali kerajaan-kerajaan di Pulau Kalimantan.

 

Setelah menaklukkan kerajaan-kerajaan di Kalimantan dengan kekuatan militer, Majapahit juga menyebarkan agama Hindu dan Budha di tanah jajahannya. Tetapi tidak terdapat jejak peninggalan sejarah Kerajaan Majapahit pada masa itu seperti candi atau arca. Bisa jadi karena tipe tanah di Kalimantan yang berawa dan berlumpur sehingga bangunan candi akan mudah terkikis oleh lumpur.

 

Ada riwayat yang menyebutkan bahwa patung-patung sesembahan dibuat dari emas. Terbukti dengan ditemukannya sembilan arca Hindu dan Budha dari emas di daerah Sambas. Sayangnya artefak itu disimpan di British Museum London.

 

Kerajaan Tan Unggal

Kerajaan yang berdiri sebelum kerajaan Sambas adalah Kerajaan Tan Unggal atau Tan Nunggal yang diperintah oleh raja dengan nama yang sama. Tidak ada yang tahu pasti dari mana asal-usul sang raja, tetapi berdasarkan legenda, merupakan bayi yang ditemukan oleh seorang raja yang bernama Ratu Sapudak  dari dalam batang bambu yang dibelah. Nama Tan Nunggal diambil dari jumlah giginya yang hanya tumbuh satu atau tunggal.

 

Setelah dewasa, ia menjadi raja dengan merampas hak putra mahkota. Tan Nunggal adalah raja yang kejam dan bengis dan memerintah kerajaannya dengan tangan besi. Ia bahkan membunuh putra dan putri Ratu Sapudak – ayah angkatnya sendiri – dengan menguburkan mereka hidup-hidup di bukit. Raja Tan Unggal kemudian diturunkan oleh rakyatnya sendiri. Konon kabarnya raja kejam ini dimasukan ke dalam peti kemudian di tenggelamkan di Sungai Sambas. Kerajaan inipun surut dan tidak terekam jejak sejarahnya.

 

Panembahan Sambas

Setelah Kerajaan Majapahit runtuh akibat serangan Kesultanan Demak di bawah pimpinan Sultan Trenggono. Kebanyakan kerabat istana melarikan diri menyeberang lautan ke arah utara, sampai kemudian mendarat di Sungai Sambas. Setelah membangun pemukiman di hulu Sungai Sambas, rombongan bangsawan pengungsi ini mendirikan kerajaan yang dinamakan Panembahan Sambas. Tak ada halangan untuk mendirikan kerajaan baru, sebab kerajaan terdahulu Kerajaan Tan Unggal sudah terkubur bersama rajanya.

 

Raja pertama Kerajaan Panembahan Sambas adalah ayah dari Ratu Timbang Paseban yang tidak diketahui namanya. Setelah sang raja mangkat, Ratu Timbang Paseban kemudian diangkat sebagai pewaris tahta. Dari Ratu Timbang Paseban kemudian tahta turun kepada Ratu Sapudak adiknya. Sebutan ratu adalah kebiasaan penyebutan di Jawa yang memiliki arti sama dengan raja pria. Jadi ratu yang dimaksudkan bukan raja bergender wanita.

 

Islam

Pada masa pemerintahan Ratu Sapudak tibalah rombongan Sultan Tengah dari Kesultanan Sukadana. Ratu Sapudak menyambut kedatangan mereka dengan hangat bahkan memberikan tanah di Kembayat Sri Negara sebagai tempat tinggal mereka. Tidak lama setelah itu, Ratu Sapudak tiba-tiba mangkat secara mendadak dan tahta diwariskan kepada Raden Kencono, putra Ratu Timbang Paseban sekaligus menantunya. Raden Kencono dinobatkan dengan gelar Ratu Anom Kesumayuda.

 

Tepat sepuluh tahun setelah rombongan Sultan Tengah menetap di Kalimantan, Sulaeman, putra sulung Sultan Tengah akhirnya menikahi adik bungsu permaisuri Kerajaan Panembahan Sambas yang bernama Mas Ayu Anom. Karena pernikahan ini Sulaeman mendapat gelar kebangsawanan yaitu Raden Sulaeman. Selain itu raja mempercayakan posisi Menteri Besar yang bertugas melakukan diplomasi dengan negara-negara luar dan bertanggung jawab atas keamanan kerajaan.

 

Raden Sulaeman berhasil mendapat simpati dan menjadi orang kepercayaan raja karena terbukti mampu menjalankan tugas yang diembannya sebagai Menteri Besar dengan baik. Selain itu beliau juga berperan sebagai penyebar agama Islam yang dihormati sehingga mampu menarik simpati banyak kerabat kerajaan dan masyarakat untuk masuk Islam. Keadaan ini menimbulkan kedengkian pada diri Raden Aryo Mangkurat adik Ratu Anom Kesumayuda.

 

Setelah kelahiran Raden Bima, buah pernikahan Raden Sulaeman dan Mas Ayu Anom, Sultan Tengah dan keluarganya kecuali Raden Sulaeman memutuskan untuk kembali ke tanah airnya di Serawak. Sayangnya Sultan Tengah terbunuh pada perjalanan ini karena pengkhianatan yang dilakukan oleh pengawalnya sendiri. Jenazah Sultan Tengah akhirnya dimakamkan di lereng Gunung Santubong yang menjadi obyek wisata ziarah pada saat ini.

 

Hal ini mempermudah Raden Aryo Mangkurat menjalankan siasatnya untuk menyingkirkan Raden Sulaeman. Berbagai muslihat Raden Aryo Mangkurat tak pernah berhasil menyingkirkan Raden Sulaeman. Malahan Raden Aryo Mangkurat membunuh Kyai Setia Baktri, orang kepercayaan Raden Sulaeman.

 

Raden Sulaeman melaporkan peristiwa ini kepada raja, tetapi tidak diikuti dengan tindakan tegas dari raja karena pembunuh itu adalah adiknya sendiri. Peristiwa ini membuat Raden Sulaeman kecewa dan memutuskan untuk pergi dari kerajaan. Rombongan Raden Sulaeman ini terdiri dari keluarganya, orang-orang Jawa yang telah menjadi mualaf, dan anggota rombongan Sultan Tengah dahulu.

Tags

You may also like...

0 thoughts on “Kerajaan Wijayapura/Kerajaan Sambas Kuno, Jejak Majapahit”

Leave a Reply

Bangsaku TV

FACEBOOK INIBANGSAKU

TWITTER INIBANGSAKU

<