Kerajaan Padjajaran Kerajaan Sunda Terakhir di Palau Jawa

ib

IniBangsaku – Sebagai kerajaan yang cukup kuat di derah Jawa Barat, Kerajaan Padjajaran mempunyai catatan sejarah yang panjang. Kerajaan Padjajaran merupakan kerajaan yang paling dikenal di daerah Jawa Barat. Kerajaan ini juga merupakan salah satu kerajaan terkuat yang ada di Pulau Jawa. Hal ini bisa dibuktikan dari prasasti-prasasti yang banyak ditemukan. Berikut ini akan dibahas mengenai sejarah dan silsilah dari Kerajaan Padjajaran sebagai bahan untuk menambah pengetahuan.

 

Asal-Usul Kerajaan Padjajaran

Menurut catatan sejarah, Kerajaan Padjajaran adalah “cucu” dari Kerajaan Tarumanegara yang didirikan oleh Jayasingawarman pada tahun 358 M dan akhirnya dipecah menjadi kerajaan Galuh dan Kerajaan Sunda pada tahun 670 M di era kepemimpinan Raja Tarusbawa.

Kerajaan Sunda-Galuh sempat dipimpin oleh 33 orang raja hingga akhirnya bersatu kembali menjadi Kerajaan Padjajaran pada tahun 1482 M di bawah kepemimpinan Jayadewata, alias Sribaduga Maharaja, alias Prabu Siliwangi.

Zaman Padjajaran dimulai ketika Prabu Dewa Dewa Niskala – Raja Galuh – menyerahkan tahta kepada putranya Jayadewata (Prabu Siliwangi) dan Prabu Susuk Tunggal yang merupakan mertua dari Prabu Siliwangi juga menyerahkan tahta Kerajaan Sunda kepadanya. Di masa pemerintahan Prabu Siliwangilah terjadi penyatuan antara kedua kerjaan ini, dan Kerajaan Padjajaran mencapai puncak kejayaannya di era Prabu Siliwangi.

 

Nama Pakuan Padjajaran

Nama Pakuan Padjajaran memiliki asal mulanya yang tertulis dalam sebuah naskah kuno Waruga Guru. Naskah tersebut menyebutkan bahwa di daerah sekitar kerajaan tersebut banyak terdapat pohon paku jajar.

K.F Holle De Batoe Toelis Te Buitenzorg mempunyai pendapat lain yang menyatakan bahwa di dekat Kota Bogor dahulunya terdapat sebuah kampung dan sungai yang bernama Cipaku. Di sekitar daerah tersebut juga terdapat tumbuhan paku yang tumbuh berjejer.

Hal lain dikemukakan oleh Hantendam,  yang menyebutkan bahwa kata Pakuan Padjajaran berhubungan dengan tonggak yang ada di sebelah prasasti batu tulis. Ia menganggap bahwa pakuan merupakan sebutan untuk sebuah nama yang berbeda dengan keraton.

Selanjutnya ada beberapa prasasti yang ditemukan dan menjadi bukti dari kisah perjalanan Kerajaan Padjajaran. Prasasti yang ditemukan tersebut antara lain Prasasti Horen, Prasasti Rakryan Juru Pengambat, Prasasti Citasih dan masih banyak lagi.

 

Raja-Raja di Padjajaran

Berdasarkan catatan sejarahnya, Kerajaan Padjajaran ini memiliki silsilah kepemimpinan kerajaannya yang akan diuraikan sebagai berikut:

  1. Prabu Siliwangi (1482-1521 M)

Prabu Siliwangi dinyatakan sebagai Raja pertama dari Kerajaan Padjajaran. Ia memerintah dari tahun 1482 sampai 1521 Masehi. Ketika diangkat menjadi raja di Padjajaran, usianya pun tak muda lagi yaitu sudah berusia 81 tahun. Selanjutnya Prabu Siliwangi ini dinobatkan sebanyak 2 kali dan mendapat dua gelar kehormatan.

Gelar kehormatan yang pertama adalah Ratu Purana Prebu Guru Dewapranata sebagai penguasa galuh. Sedangkan gelar yang kedua yaitu Sri Baduga Maharaja Ratu Haji. Dari semua pernikahan yang dilakukan oleh Prabu Siliwangi, diketahui bahwa dirinya mewariskan 13 orang anak yang hampir semuanya menjadi Raja di Tanah Pasundan.

Pada masa pemerintahannya, Kerajaan Padjajaran tumbuh sangat pesat. Kehidupan rakyatnya pun sangat sejahtera. Dalam masa pemerintahannya, Prabu Siliwangi juga mengeluarkan kebijakkan yang bertujuan melindungi Kerajaan Padjajaran dari adanya serangan-serangan musuh. Kebijakan tersebut diantaranya adalah membangun parit sepanjang 3 km di sekitar Kerajaan, membuat benteng, dan juga membangun telaga di hulu Sungai Ciliwung.

Diketahui bahwa Prabu Siliwangi meninggal dunia pada 15 desember 1521 yaitu tepat pada usianya 120 tahun. Namun beberapa orang mengatakan bahwa meninggalnya Prabu Siliwangi tidak diketahui karena pada saat itu ia melarikan diri ke suatu tempat karena dirinya menolak untuk memeluk agama Islam.

 

  1. Prabu Surawisesa (1521-1535 M)

Prabu Surawisesa merupakan putra dari Prabu Siliwangi yang melanjutkan pemerintahan Kerajaan Padjajaran mulai dari tahun 1521 sampai dengan tahun 1535 Masehi. Sifat Prabu Surawisesa ini juga tidak jauh berbeda dengan ayahnya yang sangat berani. Ia juga pernah membangun kerjasama dengan Portugis dalam bidang perdagangan.

Akibat terjalinnya kerjasama dengan Portugis ini, akhirnya pada tahun 1526, Kerajaan Padjajaran dan Cirebon terasa memanas dan terjadi perang untuk perebutan kekuasaan wilayah Jawa Barat. Namun perang yang berlangsung selama 5 tahun ini akhirnya berakhir dengan adanya kesepakatan perdamaian antara kedua belah pihak.

 

  1. Prabu Ratu Dewata (1535-1543 M)

Selanjutnya pemerintahan Kerajaan Padjajaran ini kembali diambil alih oleh anak dari Prabu Surawisesa yaitu Prabu Ratu Dewata. Ia memerintah antara tahun 1535 sampai tahun 1543 Masehi. Prabu Ratu Dewata dikenal sebagai Raja yang sangat religius, namun kurang pandai dalam hal politik. Akibatnya selama masa pemerintahannya, semakin banyak musuh yang berdatangan yang menyebabkan Kerajaan Padjajaran semakin terdesak.

 

  1. Sang Ratu Saksi Sang Mangabatan (1543-1551 M)

Masa pemerintahan Sang Ratu Saksi Sang Mangabatan dimulai tahun 1543 sampai 1551 yang masih merupakan keturunan dari Prabu Ratu Dewata. Selama masa pemerintahannya, Kerajaan Padjajaran mulai tercoreng akibat ulahnya. Ia dikenal sebagai pemerintah yang sangat kejam hingga merampas harta rakyat, menghina para pendeta dan melakukan hal-hal buruk lainnya.

 

  1. Prabu Nilakendra (1551-1567 M)

Prabu Nilakendra meminpin pada tahun 1551 sampai 1567. Pada masa pemerintahannya, Kerajaan Padjajaran mulai diambang kehancuran.

 

  1. Prabu Seda/ Raga Mulya (1567-1579 M)

Prabu Seda marupakan keturunan dari Prabu Nilakendra yang memimpin pada tahun 1567 sampai 1579 masehi. Pada masa pemerintahannya, Kerajaan Padjajaran semakin terpuruk akibat kekalahan yang berulang-ulang. Akhirnya Kerajaan Padjajaran pun runtuh pada tahun 1579.

Prabu Siliwangi dianggap sebagai satu-satunya raja yang sukses memimpin di Kerajaan Padjajaran, karena setelah itu, Padjajaran terus-menerus mengalami masa surut hingga akhirnya runtuh pada tahun 1579 M setelah masuknya Islam. (ary)

Tags

You may also like...

0 thoughts on “Kerajaan Padjajaran Kerajaan Sunda Terakhir di Palau Jawa”

Leave a Reply

Bangsaku TV

FACEBOOK INIBANGSAKU

TWITTER INIBANGSAKU

<