Kerajaan Islam di Sumatera (7), Kerajaan Pagaruyung Peradaban Melayu

Foto: wikimedia
Foto: wikimedia

Islam memberikan pengaruh pada kerajaan Pagaruyung sekitar abad 16 melalui musafir dan guru agama Islam yang datang dari Aceh dan Malaka. Syaikh Burhanuddin Ulakan adalah ulama asal Aceh yang pertama kali datang memperkenalkan dan mensyiarkan Islam di Pagaruyung. Satu abad kemudian Pagaruyung sudah menjadi kesultanan. Dalam Tambo adat Minangkabau disebutkan sultan pertama Pagaruyung adalah Sultan Alif.

Dalam adat Minangkabau terdapat pepatah; Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah yang artinya adat bersendi agama Islam, agama Islam bersendi Al Quran. Ini membuat beberapa kebiasaan dalam masyarakat Minangkabau yang tidak berpijhak pada agama Islam dihilangkan. Namun ada satu-dua yang dipertahankan yang justru kemudian menimbulkan konflik berujung pada perang Padri, antara kelompok pendukung keagamaan dengan adat. Konflik semakin kusut ketika Belanda ikut campur di dalamnya.

Pagaruyung dikenal sebagai penghasil emas dan lada, terutama emas menjadi perbincangan di kalangan kerajaan kolonial, Inggris dan Belanda. Pagaruyung sejak abad 17 berada di bawah Kesultanan Aceh dengan menempatkan perwakilan setingkat gubernur untuk wilayah pesisir pantai barat Sumatera. Namun monopoli yang dilakukan oleh Kesultanan Aceh kemudian membangkitkan perlawanan masyarakat Minang di pesisir pantai itu. VOC kemudian turut memberikan andil di dalamnya dan memutuskan monopoli Kesultanan Aceh tersebut. Sejak saat itu pantai pesisir Sumatera Barat terbebas dari monopoli Kesultanan Aceh.

Emas adalah daya tarik paling tinggi dari Pagaruyung yang menjadi magnet bagi Inggris dan Belanda (VOC). Di samping itu Pagaruyung menjadi salah satu pusat perdagangan di Sumatera. VOC berusaha menanamkan pengaruhnya di Pagaruyung yang memancing ketidaksukaan masyarakat disana. Kemudian pihak istana berusaha menarik Ingris menjadi sekutu untuk mengusir Belanda dari sana yang sayangnya tidak mendapatkan tanggapan. Pada waktu itu Inggris sudah menguasai Padang. Baik Inggris maupun Belanda dalam catatannya tidak pernah menyebutkan jumlah fantastis stok emas yang ada di kawasan tersebut.

Sebagai dampak konflik Inggris-Perancis, Belanda di pihak Perancis, menyebabkan Inggris melakukan serangan pada Belanda saat itu. Inggris menguasai pantai pesisir barat antara tahun 1795 sampai dengan 1819. Akhirnya Inggirs-Belanda menandatangani kesepakatan perdamaian, kemudian lahir Traktat London di tahun 1824. Ini memberikan angin bagi Belanda berkuasa di Sumatera dan Pagaruyung khususnya.

Disisi lain konflik antara kaum agama dengan kaum adat menyebabkan terjadinya perang Padri, sultan saat itu tidak memiliki pengaruh kuat di dalam masyarakat. Kaum Padri berhasil melakukan serangan ke Pagaruyung yang menyebabkan Sultan Arifin Muningsyah pergi ke Lubuk Jambi. Sedangkan keluarga kerajaan yang diwakili oleh Sultan Tangkal Alam Bagagarsyah ke Padang meminta bantuan Belanda untuk memperkuat milternya. Pada saat itu pulalah Pagaruyung sudah bertekuklutut dihadapan Belanda.

Thomas Stamford Raffles, Gubernur Jenderal Inggris, sewaktu berkunjung ke Pagaruyung di tahun 1819 menyatakan kekagumannya pada kerajaan itu. Ia menyebutkan bahwa kerajaan Pagaruyung menyimpan peradaban besar Melayu yang jauh lebih besar dan menyaingi kerajaan-kerajaan di Jawa.

Tags

You may also like...

0 thoughts on “Kerajaan Islam di Sumatera (7), Kerajaan Pagaruyung Peradaban Melayu”

Leave a Reply

Bangsaku TV

FACEBOOK INIBANGSAKU

TWITTER INIBANGSAKU

<