Kerajaan Islam di Sumatera (3), Kesultanan Aceh Darussalam Negeri Lada

Foto: pungeblangcut
Foto: pungeblangcut

Kota Banda Aceh adalah ibukota dari Kesultanan Aceh Darussalam, yang dahulu disebut Banda Aceh Darussalam. Menurut ahli sejarah dan catatan yang ada Kesultanan Aceh Darussalam sudah ada sejak tahun 1496 dan surut di tahun 1903. Sultan pertama pada kesultanan ini adalah Sultan Ali Mughyat Syah. Kesultanan Aceh Darussalam memilik tata pemerintahan yang sangat baik, mengembangkan pendidikan dan pengetahuan, menjalin hubungan diplomatik dengan berbagai kerajaan dan negara lainnya dan mengembakan kemiliteran yang kuat. Sejak awal berdirinya Kesultanan Aceh Darussalam secara tegas berhadapan dengan imperialisme bangsa Eropa.

Setelah mengalami berbagai konflik pada tahta akibat tabiat penguasa yang tidak pada tempatnya, munculah Sultan Iskandar Muda yang membawa kejayaan Kesultanan Aceh Darussalam (1607-1636). Dengan karisma dan ketegasannya, kemudian Sultan Iskandar Muda memperluas wilayah kekuasaan kesultanannya sampai ke Pahang juga Kedah. Bahkan Sultan Iskandar Muda melakukan penyerangan ke Malaka, wilayah kekuasan Portugis waktu itu, sayangnya upaya itu gagal.

Apalagi sejak jaman kakeknya berkuasa, Sultan Alaidin Righayat Syah Sayed Al-Mukammil, sudah menjalin berbagai hubungan diplomatik dengan berbagai kerajaan lainnya. Sekutu Kesultanan Aceh Darussalam yang paling menonjol saat itu adalah Kesultanan Turki.
Kemunduran[sunting | sunting sumber] Kemunduran Aceh disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya ialah makin menguatnya kekuasaan Belanda di pulau Sumatera dan Selat Malaka, ditandai dengan jatuhnya wilayah Minangkabau, Siak, Tiku, Tapanuli, Mandailing, Deli, Barus (1840) serta Bengkulu kedalam pangkuan penjajahan Belanda. Faktor penting lainnya ialah adanya perebutan kekuasaan di antara pewaris tahta kesultanan.

Penaklukan Belanda di berbagai daerah di Sumatera menjadi salah fator kemunduran kesultanan ini. Juga berbagai konflik internal pada elit kerajaan, serta kepentingan-kepentingan lainnya. Bangsawan-bangsawan kerjaan juga mengurangi kekuasan sultan dalam menjalankan kekuasaannya. Seperti salah satunya adalah mengangkat istri almarhum Sultan Iskandar Tsani menjadi sultanah. Kedamaian memang kemudian hadir pada masa itu, sektor perdagangan menjadi sangat ramai karena para pedagang diperbolehkan melakukan perniagaan tanpa melalui pelabuhan kesultanan di ibukota.

Di sisi lain kaum wujudiyah menginginkan sultan berikutnya adalah kaum pria yang kemudian mengklaim bahwa pewaris sah kesultanan hidup dengan mereka. Lantas terjadi konflik berdarah dalam masyarakat kesultanan yang membuat Kadhi Malikul Adhi; Tgk. Syech Abdurrauf As-Sinkily melakukan perombakan yang melahirkan Tiga Sagoe, yakni pembagian kekuasaan. Reformasi kekuasaan ini menempatkan sultan hanya berkuasa penuh di daerah Bibeueh. Toh, konflik tetap saja terjadi malahan membuka pintu bagi kehadiran pihak luar campur di dalamnya.

Salah satu faktor yang melemahkan Kesultanan Aceh Darussalam adalah munculnya Traktar Sumatera (1871) yang membatalkan Traktat London (1824) mengenai pembatasan daerah Aceh. Alam Traktar Sumatera itu intinya Inggris tak memiliki kepentingan lagi di Sumatera dan membeaskan Belanda melakukan berbagai kepentingannya. Dua tahun kemudian pasukan Belanda sudah terlihat berada di Pantai Cermin Meuraksa mengawali invasinya terhadap Aceh.

Belanda memang mengalami kesulitan menunaklukan wilayah Aceh, sampai akhirnya hadir Dr. Christiaan Snouck Hurgronje, pakar Islam dan Aceh, yang menyarankan agar mendekati para Ulebalang (penguasa wilayah) dan menekan para ulama. Sejak saat itu Aceh memasuki masa konflik panjang dengan Belanda. Sampai tahun 1903 Sultan Muhammad Daud Syah menyatakan menyerah dihadapan Belanda.

Aceh sedemikian menariknya bagi bangsa Eropa karena menguasai berbagai komoditi penting di pasar dunia. Aceh terkenal dengan lada, minyak tanah, kapur, kapur barus, kemenyan, emas dan sutra. Lada menduduki ekspor Aceh nomor satu yang dibawa ke Amerika, India, Perancis dan Arab. Pusat komoditi lada berada di Rigas, Teunom, dan Meulaboh.

Tags

You may also like...

0 thoughts on “Kerajaan Islam di Sumatera (3), Kesultanan Aceh Darussalam Negeri Lada”

Leave a Reply

Bangsaku TV

FACEBOOK INIBANGSAKU

TWITTER INIBANGSAKU

<