Kerajaan Islam di Sumatera (2), Kesultanan Peureulak, Pewaris Kerajaan Islam

Foto: perkembangan-sejarah
Foto: perkembangan-sejarah

Kesultanan Peureulak dibangun oleh Sultan Alaiddin Syed Maulanan Abdul Aziz Shah pada tahun 840 M atau 225 H, yang merupakan keturunan Arab. Sultan Alaiddin beragama Islam Syiah, membuat seluruh wilayah Kesultanan Peureulak mengadopsi kepercayaan Sultan.

Pada masa Sultan Alaiddin Syed Maulana Abbas Shah, sultan ketiga Peureulak, aliran sunni mulai menampakan diri di wilayah kesultanan. Ketika Sultan Alaiddin Syed Maulana Abbas Shah wafat pada 913 M, konflik semakin meruncing yang berujung pada perang saudara. Pada masa perang saudara, tahta sultan tidak diisi oleh seorangpun.

Pada tahun 915 M, kaum syiah memenangkan peperangan itu dan menempatkan Alaiddin Syed Maulana Ali Mughat Shah sebagai sultan di Kesultanan Peureulak. Pada masa pemerintahannya Peureulak dalam masa damai sampai menjelang akhir kesultanannya, terjadi perang yang sama. Kali ini kaum sunni yang menempatkan diri sebagai pemenang dan sultan-sultan kemudian berasal dari Sunni.

Namun pergolakan terjadi lagi selama empat tahun berperang akhirnya kaum Syiah dan Sunni mengadakan gencatan senjata. Kesepakatan perdamaian tercapai dengan membelah Kesultanan Peureulak menjadi dua. Pada wilayah pesisir diperintah oleh kaum Syiah dengan sultannya Sultan Alaiddin Syed Maulana Shah. Sedangkandi pedalaman dikuasai kaum Sunni dengan sultannya, Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ibrahim Shah Johan Berdaulat.

Toh, akhirnya Kesultanan Peureulak bersatu kembali ketika menghadapi serangan Kerajaan Sriwijaya. Saat itu Sultan Alaiddin Syed Maulana Shah dari pesisir wafat dan Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ibrahim Shah Johan Berdaulat tampil sebagai pemimpin Peureulak. Kemudian menghadapi serangan Sriwijaya yang terus datang sampai tahun 1006.

Peureulak berada di Aceh Timur, pada masa itu dikenal dengan kayu perlak yang merupakan bahan terbaik untuk membangun sebuah kapal. Peureulak menjadi persinggahan berbagai bangsa yang melakukan perniagaan, ini didukung oleh lokasinya yang strategis sebagai daerah perlintasan. Marco Polo sepulang dari dari Cina sempat menyebutkan dalam naskah perjalanan yang menuliskan adanya negeri bernama Ferlec yang beragama Islam.

Kesultanan Peureulak kemudian bergabung dengan Kerajaan Samudera Pasai di bawah Sultan Muhammad Mal Al Zahir. Sultan tersebut merupakan anak dari Sultan Al Malik Al-Saleh yang menikah dengan Putri Ganggang anak dari Sultan Peureulak 18, Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdul Aziz Johan Berdaulat. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdul Aziz Johan Berdaulat adalah Sultan Peureulak terakhir.

Tags

You may also like...

0 thoughts on “Kerajaan Islam di Sumatera (2), Kesultanan Peureulak, Pewaris Kerajaan Islam”

Leave a Reply

Bangsaku TV

FACEBOOK INIBANGSAKU

TWITTER INIBANGSAKU

<