Kerajaan Islam di Jawa (7), Kasunanan Surakarta, Spirit of Java

Foto: collectie tropenmuseum
Foto: collectie tropenmuseum

Kasunan Surakarta terbentuk karena Perjanjian Giyanti (1755) yang membelah kerajaan Mataram menjadi dua, Surakarta dan Yogyakarta. Kelak terbit Perjanjian Salatiga (1757) yang membelah Surakarta menjadi Kasunanan Surakarta dan Mangkunegaran. Surakarta yang berada di Solo merupakan ibukota baru yang sebelumnya berada di Kartasura. Paku Buwono II memerintahkan membangun istana baru setelah istana Kartasura hancur oleh serbuan pemberontak.

Kemudian wilayah kekuasaan Kasunanan Surakarta semakin berkurang setelah perang Jawa di tahun 1830, dimana wilayah luar (mancanagara) harus dijadikan ganti rugi pada VOC karena perang tersebut. Pada waktu itu Paku Buwono VI sangat mendukung perlawanan Pangeran Diponegoro melawan VOC.

Keraton Surakarta mengalami masa kejayaannya ketika berada di bawah tapuk pimpinan Paku Buwono X. Saat itu semua dalam kondisi aman dan damai, bahkan tradisi lokal menjadi sangat hidup. Pada saat inilah Surakarta mengalami masa transisi dari tradisional menjadi modern. Bahkan PB X memberikan kebebasan berorganisasi dan penerbitan media massa, yang jelas-jelas pada saat itu dilarang oleh pemerintahan kolonial. PB X mendukung terbentuknya Sarekat Islam yang kelak tercatat sebagai organisasi pergerakan nasional pertama di Indonesia, bahkan di Surakarta digelar Kongres Bahasa I (1938). Agaknya darah anti penjajah PB VI mengalir dalam darah PB X.

Surakarta kemudian menjelma menjadi kota modern pada saat itu. Berbagai infrastruktur modern dibangun semasa pemerintahan PB X, seperti Stasiun Solo Jebres dan Stasiun Solo Kota, Stadion Sriwedari, Pasar Gede, taman margasatwa Jurug, Jembatan Jurug dan berbagai kebutuhan masyrakat lainnya. Oleh masyarakat Surakarta PB X disebut sebagai Sunan Panutup atau raja besar Surakarta yang terakhir.

Pada masa kemerdekaan, Surakarta sempat menjadi daerah istimewa seperti halnya Yogyakarta. Sayangnya pergerakan sosial politik pada masa itu mengakibatkan penghapusan penyebutan itu dan hanya diberikan sebutan karesidenan. Terjadi pergerakan Anti Swapraja yang menginginkan penghapusan monarki dan feodal di Surakarta yang digerakan oleh Partai Murba. Terjadi serangkaian aksi pembunuhan Pepatih Dalem (perdana menteri) sebagai bagian dari aksi tersebut.

==TAMAT==

Tags

You may also like...

0 thoughts on “Kerajaan Islam di Jawa (7), Kasunanan Surakarta, Spirit of Java”

Leave a Reply

Bangsaku TV

FACEBOOK INIBANGSAKU

TWITTER INIBANGSAKU

<