Kerajaan Islam di Jawa (3). Kesultanan Banten, Kejayaan Maritim

Foto: sebandung
Foto: sebandung

Kesultanan Banten yang saat ini berada di propinsi Banten dahulunya merupakan penguasa perairan Selat Sunda. Kesultanan Banten memiliki kerja sama dengan kerajaan Inggris untuk melawan Portugal dan VOC. Kejayaan Banten diperoleh pada masa Sultan Ageng Tirtayasa dengan perdagangan maritimnya. Juga monopoli lada di Lampung. Wilayah kekuasaannya sampai ke kerjaan Tanjungpura di Kalimantan Barat. Kerena kejayannya itu kemudian mengundang berbagai bangsa datang ke Kota Intan. Perdagangan Banten dari Persia sampai ke Jepang, bahkan VOC sampai memblokade kapal-kapal yang melakukan perdagangan dengan Banten.

Bila membaca Babad Banten, tertulis di dalamnya Sunan Gunung Jati dan Maulana Hasanuddin melakukan dakwah di Banten Girang, nama yang dipakai pada saat itu. Maulana Yusuf bahkan melakukan dakwah sampai ke kerjaan Pakuan Pajajaran yang kemudian takluk di bawah Banten. Budaya Islam kemudian meresep pada masyarakat dan menjadi tuntunan bagi Kesultanan Banten. Ulama memiliki pengaruh besar dalam kehidupan di Banten. Meskipun menjalankan syariat Islam dengan baik, namun Kesultanan Banten memberikan toleransi tinggi bagi keyakinan lain. Seperti berdirinya klenteng untuk sarana peribadatan orang-orang Tionghoa yang saat itu banyak menetap di Banten.

Banten pada awalnya bernama bantgen Girang yang masuk dalam wilayah kekuasaan kerajaan Sunda. Karena Sunda melakukan kerja sama dengan Portugal membuat kesultanan Demak kemudian melakukan invasi ke Kelapa. Kala itu Kelapa adalah pelabuhan utama yang dimiliki Sunda. Kemudian Maulana Hasanuddin yang memimpin pasukan Demak membangun benteng di Banten. Bahkan langkah Maulana Hasanuddin tak berhenti sampai disitu, ia kemudian melakukan penaklukan di Lampung yang merupakan penghasil lada. Lantas melakukan kerja sama dagang dengan kesultanan Malangkabu (Minangkabau, Inderapura) sebagai langkah untuk melakukan monopoli perdagangan lada.

Setelah kesultanan Demak mengalami kemunduran, Maulana Yusuh putra dari Maulana Hasanuddin naik tahta di kesultanan Banten. Kala itu kekuatan Banten sudah tinggi yang dibuktikan dengan melakukan penaklukan kerajaan Pakuan Pajajaran. Ketika Maulana Muhammad menjadi raja direncanakan menaklukan Palembang sebagai bagian dari menghentikan langkah Portugal di kawasan itu. Sayangnya Maulana Muhammad meningal selama penaklukan itu.

Gelar ‘sultan’ belum dipakai sampai akhirnya digunakan oleh Pangeran Ratu, anak dari Maulana Muhammad. Pangeran rat juga dikenal dengan nama Abu al-Mafakhir Mahmud Abdulkadir. Saat inilah kemudian kesultanan Banten melakukan kerja sama dengan kerajaan Ingris mulai dari James I berlanjut sampai Charles I.

Sayangnya perebutan kekuasaan di dalam keluarga kesultanan membuat Banten mengalami kemunduran. Di awali dari perselisihan antara Sultan Ageng dengan anaknya Sultan Haji yang lantas membawa VOC terlibat di dalamnya. Sultan Haji meminta bantuan VOC untuk memerangi ayahnya. Kemenangan Sultan Haji harus dibayar mahal, ia harus memberikan hak monopoli atas perdagangan lada di Lampung juga membayar kerugian VOC selama peperangan itu. Kesultanan Banten benar-benar dihapuskan ketika Thomas Stamford Raffles menjadi gubernur Hindia Belanda. Sultan Muhammad bin Muhammad Muhyiddin Zainussalihin adalah sultan terkahir di Banten.

Tags

You may also like...

0 thoughts on “Kerajaan Islam di Jawa (3). Kesultanan Banten, Kejayaan Maritim”

Leave a Reply

Bangsaku TV

FACEBOOK INIBANGSAKU

TWITTER INIBANGSAKU

<