Kerajaan Islam di Jawa (1) Kesultanan Cirebon, Kerajaan yang Terpecah

Foto: seputarcirebon
Foto: seputarcirebon

Kesultanan Cirebon pada saat ini dikenal dengan empat keraton, yakni Kasepuhan, Kanoman, Kacirebonan dan Kaprabonan. Kesultanan Cirebon menurut Babad Tanah Sunda dan Carita Purwaka Caruban Nagari, berawal dari desa kecil yang dibangun oleh Ki Gedeng Tapa. Dari sekedar hanya membangun rumah sederhana, Cirebon kemudian berkembang dan memainkan peran penting di wilayah perbatasan kebudayaan Sunda dan Jawa.

Cirebon kemudian memiliki bentuk kebudayaannya sendiri yang mencampurkan antara dua pengaruh kebudayaan besar, Sunda dan Jawa. Sejak berdirinya, Cirebon memang sudah menjadi wilayah pertemuan berbagai orang dari berbagai latar belakang kebudayaan. Pada abad 15 dan 16, Cirebon merupakan pelabuhan penting dalam perdagangan di Nusantara dan mancanegara. Salah satu pengaruh dari mancanegara yang diadaptasi adalah agama Islam yang menjadikan Cirebon sebagai salah satu basis penyebarannya.

Pemimpin pertama di tanah Cirebon adalah Ki Gedeng Tapa Alang-alang yang diangkat oleh seluruh masyarakat Cirebon. Kuwu atau kepala desa itu didampingi oleh wakilnya Raden Walangsungsang yang merupakan putera dari Prabu Siliwangi dari isteri pertamanya Nyi Mas Subanglarang atau Subangkranjang yang merupakan anak dari Ki Gedeng Tapa. Walangsungsang memiliki dua saudara sekandung yakni Nyai Rara Santang dan Raden Kian Santang. Setelah Ki Gedeng Alang-alang wafat, Raden Walangsusang menggantikan dengan gelar Pangeran Cakrabuana.

Pangeran Cakrabuana atau Raden Walangsungsang adalah anak pertama dari Sri Baduga Prabu Siliwangi penguasa kerajaan Pajajaran, ia sebenarnya memiliki hak untuk naik tahta di kerajaan itu. Karena Walangsungsang memeluk agama Islam, iapun tak memperoleh haknya. Kala itu Pajajaran memeluk keyakinan Sunda Wiwitan, Hindu dan Budha. Tahta itu kemudian diberikan pada Prabu Surawisesa yang merupakan anak laki-laki sulung dari isteri keduanya, Nyai Cantring Manikmayang.

Dalam perkembangannya kemudian Pangeran Cakrabuana membangun keraton Pakungwati sebagai tempat pemerintahan Cirebon. Sejak saat itulah kemudian berdiri Kesultanan Cirebon. Pangeran Cakrabuana melakukan berbagai kegiatan dakwah dan penyebaran Islam ke berbagai tempat.

Perkembangan dan pertumbuhan Kesultanan Cirebon sangat maju pada masa Tumenggung Syarif Hidayatullah bin Maulana Sultan Muhammad Syarif Abdullah, yang kelak lebih dikenal oleh masyarakat sebagai Sunan Gunung Jati. Syarif Hidayatullah adalah anak dari adik Pangeran Cakrabuana, Nyi Rara Santang. Syarif Hiyatullah yang bergelar Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Jati Purba Panetep Panatagama Awlya Allah Kutubid Jaman Khalifatur Rasulullah, menurut pakar sejarah merupakan cikal bakal dari dinasti di Kesultanan Cirebon dan Kesultanan Banten.

Setelah Fatahillah wafat, yang merupakan pejabat keraton yang menggantikan Sunan Gunung Jati sebagai raja, tahta kemudian jatuh ke tangan cucu Sunan Gunung Jati, Pangeran Emas yang kemudian mengambil gelar Panembahan Ratu I. Panembahan Ratu I memerintah hampir delapan dasawarsa sebelum cucunya, Pangeran Rasmi mengantikannya. Pangeran Rasmi naik tahta karena ayahnya, Pangeran Seda ing Gayam atau Pangeran Adiningkusumah, terlebih dahulu wafat sebelum naik tahta menggantikan ayahnya itu. Oleh karena itu kemudian Pangeran Rasmi memakai gelar ayahnya Pangeran Adiningkusumah dan diberikan gelar Panembahan Ratu II ketika naik tahta. Pangeran Rasmi juga dikenal dengan nama lain yakni Panembahan Girilaya.

Panembahan Ratu II harus pandai-pandai dalam berpolitik pada masa itu. Cirebon terjepit di antara dua kekuatan besar, Kesultanan Banten dan Kesultanan Mataram. Panembahan Ratu II adalah menantu dari Sultan Agung Hanyakrakusuma, yang dicurigai oleh Kesultanan Banten bahwa Cirebon cenderung membela Mataram. Sedangkan dari kacamata Mataram, Cirebon dianggap membela Banten karena memiliki trah Pajajaran.

Kekacauan dimulai ketika Panembahan Ratu II wafat. Kemudian Dua anaknya Pangeran Martawijaya dan Pangeran Kartawijaya ditahan oleh Mataram. Sedangkan Pangeran Wangsakerta berada di Cirebon menjalankan pemerintahan. Wangsakerta kemudian menjalin komunikasi dengan Sultan Ageng Tirtayasa untuk membebaskan saudara-saudaranya itu. Kemudian dengan jasa pemberontak Trunojoyo, Martawijaya dan Kartawijaya berhasil dibawa kembali ke Cirebon.

Disini kemudian Sultan Ageng Tirtayasa memainkan perannya dengan mengangkat Mertawijaya sebagai Sultan Kasepuhan (Sultan Sepuh Abil Makarimi Muhammad Samsudin) dan Kertawijaya sebagai Sultan Kanoman (Sultan Anom Abil Makarimi Muhammad Badrudin). Sedangkan Wangsakerta hanya diberikan peran kecil sebagai Panembahan Cirebon atau Panembahan Tohpati (Pangeran Abdul Kamil Muhammad Nasarudin). Tujuan Sultan Ageng Tirtayasa adalah membuat Cirebon tidak beraliansi dengan Mataram. Hanya sultan saja yang memiliki wilayah kekuasaan dan keraton, sedangkan penembahan sama sekali tidak memiliki hak tersebut.

Pada masa kolonial Belanda terjadi banyak perubahan di Cirebon. Seperti salah satunya adalah mensahkan Kesultanan Kacirebonan hasil perpecahan dari Kesultanan Kanoman. Sultan Carbon Kacirebonan adalah Pangeran Raja Kanoman yang merupakan putera dari Sultan Anom IV. Pada masa ini pula kekuasaan Kesultanan Cirebon dihapuskan yang kemudian wilayahnya menjadi kota Cirebon. Saat ini Cirebon masuk dalam wilayah pemerintahan Republik Indonesia yang terbagi dalam dua wilayah, yakni kota dan kabupaten.

Tags

You may also like...

0 thoughts on “Kerajaan Islam di Jawa (1) Kesultanan Cirebon, Kerajaan yang Terpecah”

Leave a Reply

Bangsaku TV

FACEBOOK INIBANGSAKU

TWITTER INIBANGSAKU

<