Kerajaan Di Kutai Martadipura Yang Tidak Bernama

dian Sejarah 1,915 views 0 0
ib


IniBangsaku – 
Berdasarkan bukti sejarah, Kutai adalah kerajaan Hindu yang tertua di Indonesia. Nama Kerajaan Kutai masih dilakukan kebenarannya karena tidak ada situs peninggalan yang memuat hal itu.Benarkah Kerajaan Kutai sungguh-sungguh bernama Kutai Martadipura? Belum ada yang mengetahui jawabannya karena minimnya informasi karena tidak banyak yang tercantum situs sejarah tentang kerajaan besar ini. Diperkirakan berdiri sejak abad ke empat, kerajaan ini terletak di hulu Sungai Mahakam, Muara Kaman Kalimantan Timur.

 

Asal mula Kerajaan Kutai

Adalah Kundungga, seorang pembesar keraton dari Kerajaan Campa Kamboja, yang hijrah ke Nusantara di wilayah Kalimantan Timur. Pada waktu itu kerajaan Kutai belum berdiri. Kundungga bukanlah raja melainkan seorang kepala suku yang mengetuai sebuah pemukiman masyarakat. Karena pengaruh kebudayaan India, mungkin dari penyebar agama Hindu, Kundungga pun mengukuhkan kedudukannya sebagai kepala suku menjadi raja dan membentuk sistem pemerintahan kerajaan seperti di India. Pada waktu itu banyak penduduk asli yang mulai memeluk agama Hindu.

Kundungga memiliki putera mahkota yang dinamakan Aswawarman yang kelak menggantikan dirinya menjadi raja Kerajaan Kutai. Dari penamaan puteranya ini timbul anggapan bahwa Kundungga telah beragama Hindu, karena nama puteranya diambil dari Bahasa Sanskerta, yang juga sering digunakan sebagai nama akhiran bagi masyarakat India Selatan. Pada masa pemerintahan Aswawarman Kerajaan Kutai semakin makmur. Baginda Raja juga diketahui mengadakan upacara Asmawedha untuk memperluas wilayah Kerajaan Kutai. Aswawedha adalah upacara dengan melepaskan kuda untuk menetapkan luas wilayah kerajaan. Batas kerajaan akan ditentukan dari sejauh mana tapak kaki kuda bisa ditemukan.

Meskipun Raja Aswawarman berjasa dalam memperluas wilayah kekuasaannya, tetapi raja yang membawa Kerajaan Kutai kepada puncak kejayaannya adalah putera mahkota berikutnya, yaitu Raja Mulawarman.

 

Kejayaan Kerajaan Kutai

Pada masa kekuasaannya, rakyat Kutai hidup makmur sentosa, aman, dan damai. Wilayah kekuasaan kerajaan Kutai pun meluas hingga hampir ke seluruh Kalimantan Timur. Di samping itu, Raja Mulawarman rupanya adalah raja yang mementingkan kehidupan beragama, terbukti dengan ditemukannya Wapraskewara atau bangunan suci untuk memuja dewa Trimurti, sementara Gua Kembeng, pedalaman Kutai ditemukan sejumlah arca-arca Hindu, yaitu arca Dewa Siwa dan arca Ganesha, sebagai bukti sejarah yang ditemukan.

Pada sebuah prasasti yupa, juga disebutkan bahwa Raja Mulawarman mengadakan upacara sedekah dan menghadiahkan 20.000 ekor sapi, juga kepingan-kepingan emas kepada para brahmana (pendeta) di sebuah tempat yang suci bernama Waprakeswara. Tempat suci ini adalah bangunan untuk memuja Dewa Shiwa. Seperti yang kita ketahui bersama, sapi adalah hewan yang disucikan oleh pemeluk agama Hindu.  Ditilik dari peristiwa ini, bisa disimpulkan bahwa raja memiliki hubungan yang erat dengan para pemuka agama.

Kehidupan ekonomi pada waktu pemerintahan Raja Mulawarman dapat dikatakan telah mengalami kemajuan. Rakyat Kerajaan Kutai  diduga telah melakukan kegiatan perdagangan jika dilihat dari letak geografisnya yang berada di jalur perdagangan bangsa Cina dan India. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari,masyarakat Kutai juga bercocok tanam, hampir sama seperti kehidupan masyarakat tradisional lainnya. Rakyat pun dianggap memiliki taraf hidup yang tinggi, dan raja juga memiliki kekayaan yang banyak, terbukti beliau mampu memberi  hadiah 20.000 ekor sapi dan emas kepada para brahmana.

Disebutkan pada masa kekuasaan Raja Mulawarman,  telah pula diadakan upacara Vratyastoma, atau upacara pengukuhan seseorang yang memeluk agama Hindu. Menariknya upacara ini bukan dipimpin oleh brahmana dari India, melainkan brahmana dari Kerajaan Kutai sendiri. Ini berarti sang Brahmana adalah seorang cerdik pandai yang telah memiliki kemampuan penguasaan bahasa asing, yaitu Bahasa Sanskerta. Hal ini membuktikan bahwa tingkat kebudayaan masyarakat pada waktu itu dapat dikatakan telah maju.

Masa kejayaan kerajaan Kutai akhirnya berakhir karena serbuan Kerajaan Kutai Kartanegara, di bawah kekuasaan Raja Aji Pangeran Anum Panji Mendapa. Kerajaan Kutai Kartanegara ini yang kelak akan berubah menjadi kerajaan Islam dan dinasti kerajaannya disebut Kesultanan Kutai Kartanegara. Sementara raja terakhir yang berkuasa di Kerajaan Kutai Hindu adalah Maharaja Dharma Setia. Baginda Raja bahkan tewas di  medan pertempuran melawan kerajaan Kutai Kartanegara.

 

Bukti-bukti Keberadaaan Kerajaan Kutai

Jejak sejarah yang mengungkap kisah tentang kerajaan Kutai adalah tujuh buah Yupa atau batu prasasti yang ditatah dan berisi rekaman cerita tentang peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di Kerajaan Kutai pada masa lampau. Dari prasasti itulah diketahui bahwa Raja Mulawarman, putera Aswawarman yang serupa Dewa Matahari (Dewa Angsuman) karena sebagai cikal bakal keluarga raja,  memberi hadiah sapi-sapi dan emas pada upacara selamatan kepada para pendeta.  Salah satu dari ke-tujuh prasasti itu sekarang tersimpan di Museum Nasional Republik Indonesia. Sayangnya pada prasasti Yupa ini tidak banyak dibahas tentang raja-raja setelah Raja Mulawarman, sehingga sedikit sekali yang bisa diketahui tentang kehidupan Kerajaan Kutai pada masa pemerintahan setelah raja Mulawarman mangkat.

Sebelum masa kedatangan kebudayaan Hindu, masyarakat Indonesia telah mempunyai kebiasaan mendirikan Yupa atau menhir sebagai tempat pemujaan kepada nenek moyang. Menhir pemujaan ini berbeda dengan Yupa yang dibangun pada masa pemerintahan Raja Mulawarman karena Yupa yang disebut terakhir ini mempunyai fungsi sebagai tempat menambatkan hewan kurban.

 

Berikut ini adalah daftar raja-raja yang pernah bertahta di Kerajaan Kutai,

  1. Maharaja Kudungga,
  2. Maharaja Aswawarman
  3. Maharaja Mulawarman
  4. Maharaja Marawijaya Warman
  5. Maharaja Gajayana Warman
  6. Maharaja Tungga Warman
  7. Maharaja Jayanaga Warman
  8. Maharaja Nalasinga Warman
  9. Maharaja Nala Parana Tungga
  10. Maharaja Gadingga Warman Dewa
  11. Maharaja Indra Warman Dewa
  12. Maharaja Sangga Warman Dewa
  13. Maharaja Candrawarman
  14. Maharaja Sri Langka Dewa
  15. Maharaja Guna Parana Dewa
  16. Maharaja Wijaya Warman
  17. Maharaja Sri Aji Dewa
  18. Maharaja Mulia Putera
  19. Maharaja Nala Pandita
  20. Maharaja Indra Paruta Dewa
  21. Maharaja Dharma Setia
by. Ary

Tags

You may also like...

0 thoughts on “Kerajaan Di Kutai Martadipura Yang Tidak Bernama”

Leave a Reply

Bangsaku TV

FACEBOOK INIBANGSAKU

TWITTER INIBANGSAKU

<