Kepulauan Seribu

One Day Trip, No Polution!

Jakarta menyimpan potensi pariwisata yang cukup besar yang terletak di wilyah utara, tepat berada di Teluk Jakarta. Kepulauan Seribu –saat ini sudah menjadi wilayah kabupaten administrasi, memiliki pesona wisata kelautan dan fauna yang sangat menarik. Jarak tempuh yang relatif pendek dari beberapa titik di pesisir pantai Jakarta dapat dijadikan sebagai wisata alternatif yang baik. Wisata di Kepulauan Seribu boleh dikatakan tidak terlalu mahal, namun sangat memuaskan hati.

Tak berlebihan bila kemudian visinya sebagai ladang dan Taman Kehidupan Bahari. Lalu salah satu misinya adalah mewujudkan wilayah Kepulauan Seribu ini sebagai kawasan wisata kelautan. Tak mengherankan bila kemudian Kepulauan Seribu menjadi tujuan wisata warga Jakarta, Tangerang, Bekasi dan sekitarnya. Mengapa demikian? Karena berwisata ke Kepulauan Seribu relatif sangat murah, tak memerlukan biaya banyak seperti wisata lainnya.

Ada sekitar 116 pulau yang berada dalam Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu ini. Beberapa sudah sangat populer di masyarakat, seperti Bidadari, Ayer, Pramuka, Tidung, Pari, Untung Jawa, Kelapa, Onrust, Harapan dan Panggang. Meskipun demikian banyak wistawan yang masih kesulitan menjangkau pulau-pulau tersebut. Ada beberapa kendala yang menjadi hambatan, yakni titik keberangkatan yang tersebar di berbagai tempat. Seperti di Marina-Ancol, Muara Angke atau Tanjung Pasir-Banten yang memiliki jadwal pagi dan siang, kecuali melakukan booking yang dapat pergi kapan saja. Kendala ini dapat diatasi dengan baru saja diresmikan pelabuhan penyeberangan di Muara Angke yang menjadi semacam gerbang menuju Kepulauan Seribu.

Untuk menyeberang ke Kepulauan Seribu tentunya harus menumpang kapal. Kalau berangkat dari Marina-Ancol dapat menggunakan kapal-kapal cepat yang harga tiketnya relatif mahal. Keberangkatan dari Marina-Ancol ini biasanya disediakan oleh pulau-pulau yang memiliki resor, seperti Ayer atau Bidadari. Biaya menyeberang dari pulau-pulau seperti itu biasanya sudah dimasukan dalam biaya liburan ke resor yang ada. Sedangkan bila menyeberang dari Muara Angke atau Tanjung Pasir-Banten, biasanya satu orang dikenakan biaya sebesar Rp.35 ribu.

Angka wisatawan ke Kepulauan Seribu memang naik drastis sejak banyak operator wisatanya yang memasuki jalur online. Hanya dengan uang Rp.350 ribu sudah bisa berwisata bahari. Biaya itu dapat dipakai untuk berwisata sehari-semalam ke pulau Pramuka. Dengan catatan kepergiannya harus dalam rombongan 10 orang. Yang didapat bagi wisatawan dalam rombongan adalah penginapan, makan dan fasilitas snorkling. Bila mau bersepeda keliling pulau harus merogoh kocek lagi sebesar Rp.15 ribu/hari. Biasanya wisatawan dapat pula mampir ke beberapa pulau lainnya. Jika mengambil wisata ke pulau Pramuka, maka dapat mengunjungi pulau Karya dan pulau Panggang tanpa dipungut biaya. Namun ada beberapa pulau lainnya seperti ke pulau Semak Daun, maka per orang ditarik pembayaran lagi sebesar Rp.30-an ribu.

Bila mau bepergian sendiri juga bisa, hanya tinggal memasuki pelabuhan penyeberangannya saja dan menuju pulau yang dituju. Penginapan yang ada di Kepulauan Seribu terbagi dalam dua, yakni yang menyewakan kamar saja, atau yang berbentuk homestay yang memiliki 2-3 kamar. Harga rata-rata untuk menginap satu malam antara Rp.350 ribu sampai Rp.450 ribu. Namun tidak semua pulau memiliki penginapan. Seperti di pulau Panggang yang termasuk pulau padat penduduk, namun tidak ada penginapan. Namun jangan khawatir beberapa rumah penduduk masih dapat disewa untuk bermalam. Pulau lain yang memiliki penginapan selain pulau Pramuka adalah Untung Jawa, Bidadari atau Kelapa. Juga tentunya resor-resor yang menyajikan liburan menarik seperti di pulau Sepa, Kotok atau Ayer –tentunya dengan harga penginapan yang jauh lebih mahal.

Gerbang

Tujuan wisata ke Kepulauan Seribu ini memang murni berwisata bahari atau kelautan. Jumlah penduduk di Kepulauan Seribu ini lebih-kurang mencapai 22 ribu jiwa yang menempati sekitar 11 pulau. Yakni pulau Pramuka, Kelapa, Kelapa Dua, Tidung, Untung Jawa, Pari, Sebira, Lancang, Tidung Besar, Tidung Kecil dan Harapan.

Menurut Bupati Kabupaten Kepulauan Seribu, Drs. H. Achmad Ludfi, MM., Kepulauan Seribu sudah didatangi orang saban tahunnya sekitar 500 ribu – 600 ribu orang. Namun Achmad Ludfi mengatakan bahwa jumlah itu belum mencapai targetnya yang sekitar 1 juta orang. Meskipun demikian pencapaian wisatawan sejumlah itu memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat Kepulauan Seribu. Seperti dari transportasi yakni penyewaan kapal, akomodasi berupa kamar-kamar yang disewakan untuk bermalam dan makanan-minuman yang dikonsumsi oleh wisatawan, hingga para nelayan yang menyambi menjadi pemadu wisata. Achmad Ludfi melihat bahwa nilai ekonomi ini langsung diterima dan dirasakan oleh warganya.

Diakaui oleh Achmad Ludfi bahwa transportasi dan pintu gerbang menuju Kepulauan Seribu masih menjadi kendala. Gerbang yang ada dan umumnya dilalui oleh para wisatawan adalah Marina Ancol atau Muara Angke. Namun Marina Ancol bukanlah milik pemerintah daerah dan Muara Angke adalah dermaga ikan dan barang. Kemudian di awal Januari tahun 2012, diresmikan gerbang ke Kepulauan Seribu yang berada di Muara Angke Jakarta Utara.

Pemerintah daerah kemudian melengkapinya dengan kapal Kerapu yang berkapasitas 20 orang dan kapal Lumba Lumba 160 orang. Sedangkan kapal-kapal kayu yang kerap disebut sebagai kapal ojek masih tetap ada, saat ini sudah berjumlkah sekitar 39 kapal. Termasuk pula kapal-kapal seperti yacht dengan fasilitas mewah dan baik. Ongos yang ditarik oleh kapal milik pemerintah daerah maupun kapal nelayan sekitar Rp.30 ribu. Sedangkan kapal yacht sekitar Rp.150 ribu, bila disewa pergi-pulang sekitar Rp.200 ribu.

One day trip no polutions, Anda ke Puncak bisa 4 jam, kalau ke sana (Kepulauan Seribu) hanya 1 jam mendapatkan udara tanpa polusi,” ungkap Achmad Ludfi.

Kepulauan Seribu

Pulau-pulau yang ada dalam gugusan Kepulauan Seribu memang beragam dan pantas untuk dikunjungi satu-persatu. Bahkan di Kepulauan Seribu juga bisa didarati oleh pesawat kecil yang bisa mendarat di Pulau Panjang. Di pulau Panjang ini terdapat landasan sepanjang 900 meter –sedang dikembangkan sampai 1300 meter, yang dahulunya sebelum tahun 1998 sempat didarati oleh pesawat kecil yang membawa wisatawan Jepang dan Korea Selatan menuju beberapa pulau yang ada dalam gugusan Kepulauan Seribu.

Karena dikenal sebagai wilayah wisata bahari tak mengherankan Kepulauan Seribu juga menjadi tujuan para wisatawan yang menggandrungi panorama bawah air. Pulau yang biasanya dikunjungi oleh penyelam adalah puau Kotok, Papa Theo, Semak Daun, Sepa, Peniki, Gosonglaga dan Peniki. Keindahan alam di Kepulauan Seribu dirajut pula oleh keragaman floranya yang menghijaukan daratan. Seperti sukun, kelapa, waru, pandan, cemara laut, atau ketapang. Kemudian fauna yang berkembang dalam gugusan Kepulauan Seribu yakni biawak, elang bondol, penyu sisik dan penyu hijau –sudah masuk dalam catatan Apendiks Convention on International Trade in Endangered Wild For a Fauna Species (Cites) dan Red Data Book International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (UCN).

Di bawah air Kepulauan Seribu terdapat beragam jenis koral, moluska, ikan dan ekinodermata. Korang yang kebanyakan ditemukan dalam wilayah Kepulauan Seribu meliputi karang daging berwarna ungu, coklat dan kuning atau kekuningan. Kemudian jenis Acropora yang ada berbentuk tanduk rusa, semak dan kipas. Di pulau Pramuka, terdapat pembudidayaan berbagai jenis koral Acropora yakni formosa, valida, humilis, millepora, cytherea, echinata dan hyancinthus. Bahkan terdapat pula koral api berwarna kuning maupun jingga.

Moluska juga banyak ditemukan dalam gugusan Kepulauan Seribu ini seperti yang banyak ditemukan adalah kima pasir, sotong, gurita, konus wajik, tedong-tedong dan lola susu bundar. Sedangkan ikan-ikan yang ada di gugusan ini adalah ikan-ikan yang banyak ditemukan pula dalam akuarium air laut. Lalu ekinodermata yang ada banyak dilihat orang adalah bintang laut biru dan bintang roti-roti. Termasuk pula bintang bulu babi djane dan bulu babi berbulu panjang. Berbicara tentang fauna tentu harus berbicara tentang pulau Rambut. Pulau Rambut merupakan pulau dijadikan cagar alam untuk burung. Pulau yang memiliki luas sekitar 45 hektar merupakan kerajaan burung. Konon hidup di pulau ini sekitar 20 ribu burung, dan menjadi sekitar 50 ribu pada bulan Maret sampai September ketika benua Australia tengah berada dalam masa musim dingin.

Pulau lainnya yang dikenal oleh orang adalah pulau Untung Jawa yang pada jaman Belanda bernama bernama pulau Amiterdam. Pulau ini memiliki sejarah panjangnya dalam bidang kesejahteraan dan kemasyarakatan. Pembangunan berbagai sektor juga terasa di pulau ini, sampai di tahun 2002 pulau Untung Jawa dicanangkan sebagai Desa Wisata Nelayan.

Pulau Bidadari termasuk yang menjadi tujuan berwisata yang sangat mudah dijangkau melalui dermaga Marina Ancol. Di dermaga ini terdapat kapal cepat yang memang khusus disediakan oleh pengelola pulau Bidadari yang setiap hari berangkat dua-tiga kali. Di dalam pulau ini terdapat benteng peninggalan Belanda, hutan kecil yang menyimpan berbagai hewan yang menarik seperti biawak dan bungalo-bungalo tempat menginap.

Sedangkan pulau Onrust yang terlewati dalam perjalanan ke pulau Bidadari adalah pulau yang termasuk dalam cagar budaya –seperti halnya pada pulau Cipir, Bidadari, Kelor dan Edam. Di dalam pulau ini terdapat banyak peninggalan Belanda yang masih dapat disaksikan hingga sekarang. Mulai dari bangunan rumah sakit, penjara, dermaga sampai pemakaman.

Sedangkan berdekatan dengan pulau Onrust dan Bidadari adalah pulau Kelor atau dahulunya bernama pulau Kherkoff. Pulau ini menyimpan reruntuhan benteng yang sering dijadikan latar belakang foto oleh banyak fotografer. Sayang pulau ini terlalu banyak sampah yang ditinggalkan oleh wisatawan maupun pemancing.

Pulau yang populer dikunjungi wisatawan adalah pulau Tidung Besar dan Tidung Kecil. Antara dua pulau ini dihubungkan dengan jembatan kayu yang dinamakan Jembatan Cinta. Memang lumayan lama menemuh perjalanan dari Muara Angke ke pulau ini, seorang wisatawan harus menempuh perjalanan selama  lebih-kurang tiga jam untuk sampai di sana. Namun perjalanan yang lama terbayar dengan panorama yang ada di pulau Tidung. Atraksi yang biasany dilakukan orag dalam berlibur di pulau ini adalah terjun ke air dari tempat tertinggi di Jembatan Cinta. Kondisi air yang tenang dan biru seolah menjadi magnet untuk orang terjun ke dalamnya. Sedangkan di pulau Tidung Kecil terdapat hutan yang merupakan kawasan pengembangan mangrove. Wilayah hutan ini dapat dilewati dengan berjalan kaki atau bersepada. Ditambah lagi dengan pantainya yang berpasir putih dan sepi.

Pulau yang memiliki sejarah lainnya sekaligus dijadikan resor adalah pulau Ayer. Pulau ini sempat dijadikan sebagai pulau peristirahatan oleh presiden Sukarno. Nuansa yang dibangun di pulau ini adalah nuansa Papua –dahulu Irian. Kabarnya presiden Yugoslavia, Joseph Broz Tito, sempat diundang untuk beristirahat di pulau ini. Karena dijadikan resor maka kondisi pulau ini sangat baik dan tersedia berbagai fasilitas mulai dari olah raga air, olahraga rekreasi sampai karaoke. Suryo/Foto SY

You may also like...

0 thoughts on “Kepulauan Seribu”

Leave a Reply

Bangsaku TV

FACEBOOK INIBANGSAKU

TWITTER INIBANGSAKU

<