Upacara Kasadha

Menulusuri Upacara Kasadha yang dilakukan setiap hari ke-14 tahun Saka

Upacara Yadnya Kasadha adalah upacara yang dilakukan oleh pemeluk agama Hindu. Upacara ini merupakan bagian dari kehidupan suku Tengger pada setiap bulan Kasadha hari ke-14 tahun Saka. Acara ritual tradisional ini sudah menjadi atraksi wisata baik dalam negeroi maupun mancanegara.

Upacara Kasadha ini konon kabarnya berasal dari hikayat Roro Anteng dan Joko Seger. Dikisahkan Roro Anteng yang merupakan puteri Raja Majapahit menikah dengan seorang pemuda tampan keturunan kasta brahmana bernama Joko Seger. Akibat pengaruh Islam yang semakin berkembang pesat di Majapahit. Membuat pasangan suami istri ini memilih menyingkirkan diri ke wilayah Gunung Bromo dan bermukim disana. Pemukiman ini lantas berkembang menjadi semacam kerajaan kecil. Rajanya bergelar Purbowasesa Mangkurat Ing Tengger. Nama Tengger berasal dari nama belakang pasangan itu, yaitu Anteng dan Seger, menjadi Tengger.

Selama bertahun-tahun hidup berumah tangga, pasangan itu tidak kunjung dikaruniai keturunan. Lalu keduanya bersemedi di puncak Gunung Bromo, meminta agar Sang Hyang Widhi bersedia memberikan putera-puteri kepada mereka. Beberapa saat kemudian mereka mendapat bisikan gaib bahwa Sang Hyang Widhi akhirnya bersedia mengabulkan permintaan mereka. Asalkan anak terakhir yang dilahirkan oleh Roro Anteng harus dikorbankan ke dalam kawah Gunung Bromo. Tanpa berpikir panjang pasangan suami istri itu menerima syarat yang diajukan. Tidak berapa lama kemudian, Roro Anteng pun mengandung.

Susul-menyusul kelahiran putera-puteri pasangan itu hingga berjumlah 25 anak. Anak bungsu mereka, seorang anak laki-laki tampan yang dinamakan Kusuma. Karena Kusuma adalah anak terakhir, Roro Anteng dan Joko Seger pun memenuhi janji untuk mengkorbankannya ke kawah Gunung Bromo.

Namun sebagai orangtua, Roro Anteng dan Joko Seger berusaha mengingkari janjinya dengan mengungsikan keluarganya ke Gunung Pananjakan. Para dewa pun murka dan Gunung Bromo memuntahkan lahar yang mengerikan. Akhirnya dengan suka rela, Kusuma pergi ke kawah Gunung Bromo demi menyelamatkan orangtua dan saudara-saudaranya dari bencana alam. Tidak berapa lama, kilatan lidah api raksasa membawa tubuh Kusuma hingga habis tak berbekas ke dalam kawah Gunung Bromo.

Setelah peristiwa itu, orang tua dan saudara-saudaranya seolah mendengar suara Kusuma yang mengatakan, setiap tanggal 14, 15, atau 16 bulan Kasadha (sistem penanggalan masyarakat Tengger), disaat bulan  purnama bersinar terang, agar tradisi pengorbanan itu tetap dilakukan. Hal ini untuk menghindari murka para dewa dan agar anak keturunan Roro Anteng dan Joko Seger dapat tetap hidup sejahtera. Ritual inilah yang tetap dilakukan turun-temurun hingga hari ini.

 

Nilai Tradisi

Penduduk Tengger yang dipercaya sebagai keturunan Roro Anteng dan Joko Seger, tinggal di sekitar lereng Gunung Bromo Probolinggo Jawa Timur. Mereka berjumlah sekitar 40 ribu jiwa, menganut agama Hindu. Merekapun masih menjalankan nilai-nilai luhur tradisional masyarakatnya yang diwarisi secara turun-temurun sejak jaman Majapahit. Nilai-nilai itu seperti hidup jujur, tidak boleh dengki, bermusyawarah, dan bergotong-royong. Mata pencaharian mereka adalah bercocok tanam dan beternak.

Upacara Kasadha tidak melulu berhubungan dengan tradisi ritual saja. Saat ini kemudian berkembang menjadi semacam pesta rakyat. Beberapa sebelum Kasadha berlangsung, terdapat berbagai hiburan bagi masyarakat. Seperti pentas tari-tarian tradisional atau balap  kuda di lautan pasir.

Upacara Kasadha diadakan pada saat purnama bersinar, yaitu tanggal 14, 15, atau 16, bulan ke-12 (Kasadha), tahun Saka. Upacara Kasadha atau Yadnya Kasadha, atau upacara kurban ini adalah amanat yang diucapkan Kusuma.

Sesajen yang dilemparkan ke kawah Gunung Bromo tersebut ditujukan kepada roh-roh halus penjaga gunung dan dewa-dewa agar kehidupan mereka sejahtera. Yang dikurbankan tentu saja bukan manusia, melainkan hasil bumi, hasil ternak, makanan, dan uang. Bagi masyarakat Tengger, ritual ini selain untuk meneruskan tradisi leluhur. Dipercaya pula dapat mendatangkan berkah dari para dewa berupa hasil panen yang melimpah dan terlindung dari bencana alam.

Selain ritual kurban itu, Upacara Kasadha merupakan saat “wisuda” bagi para calon dukun baru. Salah satu syarat kelulusan adalah kemampuan membaca mantra Hindu kuno. Ritual upacara Kasadha ini dimulai oleh desa masing-masing dengan menyiapkan sebuah ongkek atau sesaji.

Kewajiban ini gugur bila pada bulan Kasadha ada seorang penduduk di salah satu desa tersebut meninggal dunia, karena dianggap akan menodai kesucian upacara Kasadha. Ongkek ini kemudian dibawa oleh dukun dari desa masing-masing untuk didoakan di Pura Luhur Poten (Pura Hindu) yang terletak di Segara Wedi (lautan pasir) di kaki gunung Bromo.

Tepat tengah malam para penduduk Tengger, tua, muda, besar, dan kecil  mendaki menuju kawah Gunung Bromo sambil membawa berbagai sesaji yang sudah dimanterai sebelumnya. Sesampainya di kawah, para dukun dari masing-masing desa akan melemparkan sesaji terlebih dahulu, baru kemudian secara bergantian para penduduk melemparkan sesaji mereka.

Berminat untuk menyaksikan Upacara Yadnya Kasadha? Disarankan Anda datang jauh sebelum upacara dimulai karena padat oleh masyarakat Tengger yang akan menggelar ritual. Belum lagi jumlah wisatawan yang membludak dibandingkan hari-hari sebelumnya. Mintalah bantuan seorang pemandu untuk membawa Anda ke bawah gunung karena medan yang berat, ditambah kabut tebal dapat menyebabkan Anda tersesat.

 

 

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

You may also like...

0 thoughts on “Upacara Kasadha”

Leave a Reply

Bangsaku TV

FACEBOOK INIBANGSAKU

TWITTER INIBANGSAKU

<