Karapan Sapi

Layaknya Pacuan Kuda

Tradisi karapan sapi di Pulau Madura bukan hanya adu memacu sapi. Tradisi ini merupakan simbol prestise tinggi bagi masyarakat di Madura. Kata “karapan sapi” berasal dari kata “kerap”, atau “kirap”, yang artinya dilepas bersama-sama. Tradisi budaya masyarakat Madura ini sudah dikenal sejak abad ke-15. Ada dua versi asal mula karapan sapi.

Versi pertama menyebutkan bahwa karapan sapi digagas oleh Adi Poday, putera Panembahan Wlingi yang menguasai Pulau Sapudi. Pada waktu itu Adi Poday memperkenalkan cara mengolah tanah dengan menggunakan tenaga hewan, yaitu sapi, untuk membajak sawah. Lama-kelamaan semakin banyak petani yang memanfaatkan teknik baru yang diajarkan Adi Poday ini sehingga masyarakat berlomba-lomba adu cepat dalam membajak sawah. Berselang dari waktu ke waktu, kegiatan pertanian ini berkembang menjadi olah raga adu balap sapi.

Versi kedua menyebutkan kisah yang sarat dengan nilai Islami. Posisi dua ekor sapi yang harus seimbang bagian kiri dan kanannya agar dapat berpacu dengan baik. Tentunya mengandung makna pembelajaran bahwa kehidupan manusia pun harus seimbang antara dunia dan akhirat, agar manusia dapat hidup dengan baik.

 

Sapi Istimewa

Sebelum diadu biasanya sapi akan dihias terlebih dahulu, lalu diarak diiringi gamelan Madura yang disebut Saronen. Setelah itu, dengan dikendalikan oleh seorang joki, sapi pun diadu di sepanjang lintasan sejauh 180 sampai 200 m dalam waktu sekitar 14 sampai 18 detik. Agar sapi dapat berlari lebih  kencang biasanya joki melecut punggung dan pantat sapi dengan cambuk yang ujungnya diberi paku-paku tajam. Yang lebih kejam lagi, bagian pantat sapi sengaja dilukai, kemudian dikucuri cuka, cabe yang telah digerus, dan balsem. Semua itu demi kemenangan si majikan.

Tindakan kejam ini sangat berbeda dengan perlakuan istimewa yang dilakukan si majikan sebelum acara karapan sapi dimulai. Si majikan sampai harus mengeluarkan modal jutaan rupiah demi perawatan istimewa sapi-sapi jagoannya. Sapi-sapi ini ditempatkan pada kandang khusus, dimandikan dua kali sehari, dipijat dan diinjak-injak agar peredaran darahnya lancar dan ototnya lemas. Bahkan diberi jamu-jamuan dari bahan jahe, temu lawak, kunci, kunyit, gula merah, dan puluhan-butir telur agar kekuatannya menjadi berlipat. Luar biasa bukan?

 

Prestise

Bagi masyarakat Madura, karapan sapi ini tidak hanya tradisi budaya yang turun-temurun mereka lakukan. Tetapi  merupakan ajang meningkatkan harga diri dan gengsi di mata masyarakat. Betapa tidak, nilai sapi yang memenangkan karapan dapat naik berkali lipat hingga puluhan juta rupiah dari harga sapi biasa. Belum lagi semakin bertambah tebalnya kocek mereka, karena mendapatkan banyak uang dari taruhan.

Oleh karena itu dalam lomba karapan sapi, bukan hanya si pemilik, joki, atau vitalitas prima sapi-sapi aduan yang turut ambil bagian menentukan kemenangan. Bahkan termasuk para dukun yang menjaga sapi-sapi itu dari kiriman ilmu hitam dan membacakan mantera-mantera agar si sapi aduan menang.

 

Protes

Beberapa pihak yang paling menentang tradisi karapan sapi ini tentu saja aktivis pecinta binatang karena melihat kejamnya perlakuan pemilik sapi demi kemenangan sapinya. Seorang tokoh agama dari Madura pun mengatakan bahwa tradisi ini bertentangan dengan syariat Islam. Karena melibatkan kegiatan yang menyiksa dan menyengsarakan hewan. Belum lagi usaha untuk memenangkan lomba yang melibatkan para dukun, sehingga dikhawatirkan merusak akidah umat.

Namun Karapan Sapi adalah bagian kebudayaan masyarakat Madura. Tradisi khas ini bahkan telah menjadi daya tarik pariwisata yang akan menambah pendapatan daerah. Dalam menemukan solusi permasalahan ini tentu dibutuhkan kerja sama dari semua pihak yang terkait.

 

Trofi Kejuaraan

Perlombaan besar karapan sapi yang diadakan di kota Bangkalan ini diadakan dua kali dalam setahun yaitu pada bulan Agustus, September, atau Oktober untuk memperebutkan Bupati Cup. Biasanya sapi-sapi yang keluar sebagai pemenang dalam lomba ini, berhak mengikuti turnamen karapan sapi Presiden Cup.

Peserta yang datang untuk kegiatan ini datang dari seluruh kabupaten di Madura. Wilayah kabupaten itu adalah Bangkalan, Pamekasan, Sampang, dan Sumenep. Sapi-sapi jagoan dari masing-masing kabupaten ini kemudian masih harus  mengikuti seleksi sampai pada pasangan sapi terbaik yang berhak mengikuti turnamen karapan sapi.

Dukungan tentunya datang dari seluruh masyarakat tempat sapi-sapi itu berasal. Selain menyaksikan kecepatan lari sapi-sapi yang berlaga dalam perlombaan. Daya tarik lainnya adalah kegesitan, kepiawaian, dan keberanian joki-joki dalam mengendalikan sapinya demi memenangkan lomba ini.

 

 

Oleh: Nurul Utari

You may also like...

0 thoughts on “Karapan Sapi”

Leave a Reply

Bangsaku TV

FACEBOOK INIBANGSAKU

TWITTER INIBANGSAKU

<