Kalender Jawa Buatan Sultan Agung (1)

foto: plus
foto: plus

Setiap suku bangsa biasanya memiliki kalendernya sendiri dan keisitimewaannya. Seperti kalender Jawa hasil buah pemikiran Sultan Agung, masih dipakai di kalangan masyarakat Jawa hingga kini. Istimewanya penanggalan ini adalah bersinergi dengan penanggalan Islam. Jadi ketika penanggalan Islam memasuki tahun baru pada 1 bulan Muharam tahun Hijriah, maka penangalan Jawa juga memasuki tahun baru yang dimulai pada tanggal 1 bulan Suro.

Pada masa Sultan Agung Hanyakra Kusuma bertahta di kerajaan Mataram memformulasikan pengaruh penanggalan yang ada pada saat itu; tahun Saka, tahun Masehi dan tahun Hijriah. Ramuan kalendernya itu kemudian menghasilkan penanggalan yang kemudian dikenal sampai kini dengan sebutan tahun Jawa. Dasar pemikirannya saat itu bukan sekedar memformulasikannya saja, Sultan Agung menginginkan persatuan an kesatuan dari masyarakat Mataram yang berada dalam kolonialisasi Belanda.

Sultan Agung berhasil mereformasi penanggalan yang ada kala itu sebagai unsur kebudayaan masyarakat Mataram. Kalender Jawa memiliki permulaan tahun 1555 dan dengan angka Windu 11 Kuntara. Formulasi tahun chandra berjumlah 12 bulan dengan rumusan yang menempatkan tanggal 1 tiap tahun baru sama dengan tahun baru Hijriah. Sultan Agung tetap pula mempertahankan pakuwon dari tahun wuku. Kalender Jawa memiliki penyebutan-penyebutannya sendiri sesuai dengan pembagian periodenya. Seperti Windu yang menunjukan kurun waktu 8 tahun, kemudian untuk tahun, bulan, minggu dan hari sama dengan kalender Masehi.

Berikut penyebutan dalam tahun Jawa:

  • Penyebutan nama Windu (secara beurutan): Adhi, Kuntara, Sangara dan Sanjaya/Sancaya/Sansaya.
  • Penyebutan nama tahun (secara berurutan): Alip, Ehe, Jimawal, Je, Dal, Be, Wawu dan Jimakir.
  • Penyebutan nama bulan: Sura (bulan 1), Sapar (bulan 2), Mulud (bulan 3), Ba’da Mulud (bulan 4), Jumadil Awal (bulan 5), Jumadil Akhir (bulan 6), Rejeb (bulan 7), Ruwah (bulan 8), Pasa (bulan 9), Syawal (bulan 10), Sela/Apit (bulan 11), Besar/Haji (bulan 12).
  • Penyebutan nama hari (secara berurutan): Dite (Minggu/Ahad), Soma (Senin), Anggara (Selasa), Buda (Rabu), Respati (Kamis), Sukra (Jum’at) dan Tumpuk (Sabtu).

(bersambung)

Sumber: Aneka Ragam Khasanah Budaya Nusantara IV. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

Tags

You may also like...

0 thoughts on “Kalender Jawa Buatan Sultan Agung (1)”

Leave a Reply

Bangsaku TV

FACEBOOK INIBANGSAKU

TWITTER INIBANGSAKU

<