Kain Sasirangan Kerajinan Kebanggaan Kalimantan Selatan

dian Budaya 2,169 views 0 0
ib

IniBangsaku – Bicara soal kekayaan sandang dari Kalimantan Selatan, Anda mungkin sudah tahu bahwa kain-kain dari propinsi ini sangat terkenal akan kekayaan corak dan warna-warninya. Jika ada orang mengenakan blus, kebaya, kemeja atau gaun yang bahannya adalah kain khas Kalimantan Selatan, hampir pasti mata Anda akan tertuju pada warna-warna cerahnya seperti pink, hijau, merah, kuning terang, ungu dan biru, plus motif repetitifnya yang unik. Itulah kain Sasirangan, kain khas yang menjadi kebanggaan rakyat Kalimantan Selatan.

 

Asal-usul Kain Sasirangan

Kain Sasirangan diperkirakan pertama kali dibuat sekitar abad ke-12 hingga abad ke-14, namun kisah asal-usul pembuatan kain ini agak unik karena bercampur dengan legenda. Cerita tentang pembuatan pertama kain ini dikaitkan dengan kisah Patih Lambung Mangkurat yang sedang bertapa dan pertemuannya dengan seorang wanita yang muncul dari dalam sungai yang bernama Putri Junjung Buih.

Alkisah, sang patih sedang melakukan semedi dimana ia duduk di atas rakit yang dibawa aliran sungai. Ketika rakitnya mencapai daerah Rantau di Kota Bagantung, ia mendengar suara seorang wanita yang muncul dari dalam buih sungai. Wanita yang ternyata terganggu oleh rakitnya itu kemudian menampakkan diri dan mengaku bernama Putri Junjung Buih.

Untuk menebus kesalahannya karena sudah mengganggu sang putri, Patih Lambung Mangkurat kemudian menyatakan akan meluluskan permintaannya. Putri Junjung Buih pun meminta dua buah benda; yang satu adalah Istana Batung yang harus dibuat dalam waktu sehari semalam, dan yang kedua adalah kain yang dicelup dan diwarnai oleh empat puluh orang putri. Kain inilah yang kemudian dikenal dengan nama Sasirangan.

Pada awalnya, kain Sasirangan disebut batik sandang, namun nama tersebut kemudian berubah seiring waktu. Nama tersebut diambil dari teknik pembuatan kain ini yang khas.

 

Jenis Motif Kain Sasirangan

Nama kain Sasirangan berasal dari dua kata: ‘Si’ yang berarti ‘satu’ dan ‘Sirangan’ yang berarti ‘jelujur’. Kain Sasirangan memang dibuat dengan teknik jelujur dan diwarnai dengan teknik celupan. Metode inilah yang kemudian menjadi ciri khas kain Sasirangan. Keunikan ini membuat kain Sasaringan kini telah didaftarkan hak patennya ke HAKI, termasuk untuk motif-motifnya.

Ada sekitar lima puluh jenis motif kain Sasirangan yang dikenal masyarakat Banjar, namun sejauh ini, baru sembilan belas jenis motif yang didaftarkan ke HAKI. Motif yang sudah didaftarkan di antaranya adalah Kambang Tanjung, Naga Balimbur, Kulit Kayu, Kambang Tampuk, Kambang Daun, Kambang Juruju, Kambang Kangkung, Kambang Kaombakan, Bayam Raja, Turun Dayang, Kambang Manggis, Bintang Bahampur, Ombak Sinapur Kacang, Kulit Kurikit, Iris Pudak, Kambang Raja, Jajumputan, Sari Gading dan Sisik Tanggiling.

Kain Sasirangan memiliki bentuk pola yang khas, terdiri dari beberapa jenis yang semuanya bersifat repetitif. Salah satu yang mungkin Anda sering lihat pada kain khas Banjar ini adalah motif yang seperti gerigi. Motif ini bisa dibuat vertikal atau horizontal dan memiliki ketebalan serta lebar gerigi yang bervariasi. Contoh motif yang mirip gerigi adalah Gigi Haruan, Iris Pudak dan Kulit Karikit.

Jenis motif lainnya adalah motif bahampur, yaitu motif kecil-kecil yang letaknya menyebar sehingga kesannya seperti dihamburkan, misalnya Bintang Bahampur. Ada pula motif yang mirip gelombang, misalnya Ular Lidi dan Galombang, motif mirip wajik seperti Sari Gading, serta motif bunga dan sulur tanaman. Semuanya memiliki ciri khas yang membuat kain Sasirangan sangat kaya.

 

Kegunaan

Kain Sasirangan dulunya hanya digunakan untuk upacara adat atau berbagai keperluan khusus. Misalnya, kain ini sering dijadikan bagian dari ritual pengobatan bagi orang yang sakit dan susah disembuhkan. Kain ini juga sering digunakan untuk membuat pakaian upacara adat, ritual khas kaum kerajaan atau upacara khusus lainnya.

Secara tradisional, kain Sasirangan biasanya dijadikan bahan untuk membuat ikat kepala khas Kalimantan Selatan atau laung, ikat pinggang, kerudung atau kakamban, kemben, dan kain pasangan baju adat. Akan tetapi, kini kegunaan kain Sasirangan tentu sudah lebih bervariasi.

Kebangkitan upaya pelestarian kain-kain asli Indonesia, termasuk batik, kini juga merambah ke kain Sasirangan. Selain pendaftaran berbagai jenis motif, kain ini kini juga laris dijadikan bahan untuk membuat pakaian kerja, gaun pesta, rok dan sebagainya, tidak melulu pakaian tradisional. Bahkan, kain ini juga kerap dijadikan bahan pembuat aksesori seperti tas, taplak meja, dan hiasan dinding.

Kain Sasirangan juga sering dipamerkan di berbagai acara pameran tradisi dan pameran usaha kecil menengah. Banyak turis yang berkunjung ke Kalimantan Selatan juga ramai memburu kain Sasirangan karena keunikan motif dan warna-warninya yang berani.

Uniknya, jika di propinsi Indonesia lain pegawai negeri sipil harus mengenakan batik sehari dalam seminggu, di Kalimantan Selatan sudah ada peraturan yang menyatakan bahwa pegawai negeri sipil harus memilih antara mengenakan baju batik atau baju bermotif Sasirangan sehari dalam seminggu. Dan, kebanyakan pegawai yang bangga pada kekayaan sandang mereka sudah tentu memilih Sasirangan.

Dengan makin luasnya kepopuleran penggunaan kain tradisional Indonesia, diharapkan kain Sasirangan juga bisa semakin populer di kalangan baik di Kalimantan Selatan maupun di propinsi lainnya, dan tentunya akan lebih baik jika kain ini pun bisa go international seperti batik Jawa atau tenun ikat Sumbawa. ( ary )

 

by: Putri Prihatini

Tags

You may also like...

0 thoughts on “Kain Sasirangan Kerajinan Kebanggaan Kalimantan Selatan”

Leave a Reply

Bangsaku TV

FACEBOOK INIBANGSAKU

TWITTER INIBANGSAKU

<