Indramayu, Bukan Sekedar Mangga

Indramayu dikenal sebagai penghasil buah mangga. Namun seluk-beluk Indramayu lebih dari itu.

Indramayu adalah salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Barat. Daerah ini terkenal sebagai penghasil komoditi pertanian, terutama mangga. Anda tentu pernah merasakan manisnya buah mangga Indramayu. Sebagai Kota yang cukup terkenal di Jawa Barat, Indramayu mempunyai sejarah yang panjang.

Pertapaan Raden Wiralodra

Menurut Babad Dermayu, dikisahkan bahwa penghuni pertama Indramayu adalah seorang pria bernama Raden Aria Wiralodra – seorang putra dari Tumenggung Gagak Singalodra yang berasal dari Bagelen Jawa Tengah.  Raden Aria Wiralodra diketahui gemar bertapa.

Suatu hari, Raden Wiralodra bersemedi di sebuah bukit yang terletak di Gunung Sumbing. Setelah bertapa selama 3 tahun, ia mendapatkan sebuah wangsit yang memerintahkannya untuk mencari sebuah lembah Sungai Cimanuk dan kemudian bermukim di sana. Ia diperintahkan pula untuk mendirikan sebuah pedukuhan di sana.

Raden Wiralodra pergi mencari tempat yang dimaksud dengan didampingi oleh Ki Tinggil. Mereka membawa bekal senjata berupa Cakra Undakasana. Setelah menempuh perjalanan, akhirnya mereka menemukan sebuah sungai yang mereka kira sebagai Sungai Cimanuk.

Namun pada keeesokan harinya, Raden Wiralodra bertemu seorang pria tua yang menanyakan tujuannya. Setelah menjelaskan tujuannya, orang tua tersebut berkata bahwa sungai tersebut bukanlah Sungai Cimanuk. Sungai yang dcarinya sudah terlewat. Orang tua tersebut pun menyuruh Raden Wiralodra untuk kembali lagi.

Diriwayatkan bahwa orang tua yang menemui Raden Wiralodra tersebut adalah Ki Buyut Sidum Penanjung yang merupakan panakawan Tumenggung Sri Baduga dari kerajaan Pajajaran. Raden Wiralodra dan Ki Tinggil terus melanjutkan perjalanan dan kembali menemukan sebuah sungai besar. Sungai itu pun ternyata bukanlah sungai yang ia maksud hingga akhirnya Raden Wiralodra kembali mendapatkan petunjuk bahwa ia harus menemukan kijang bermata berlian dan mencari ke mana lenyapnya kijang tersebut untuk mengetahu letak Sungai Cimanuk.

Raden Wiralodra kembali melanjutkan perjalanan dan bertemu dengan seorang wanita bernama Dewi Larawana. Wanita ini memaksa Raden Wiralodra untuk menikahinya. Raden Wiralo tidak mau, karena terus dipaksa, akhirnya ia mengeluarkan senjata cakranya. Namun, seketika itu juga wanita tadi menghilang dan kijang bermata berlian itu pun muncul.

Akhirnya Raden Wiralodra mengejar kijang tersebut hingga kelelahan. Dalam tidurnya akibat kelelahan tadi, Raden Wiralodra bermimpi bertemu dengan Ki Sidum dimana Ki Sidum mengatakan bahwa inilah sungai yang ia cari, yakni, Sungai Cimanuk. Cerita tentang kijang ini diabadikan dalam sebuah tugu yang terdapat di pusat kota Indramayu.

Nama Indramayu

Setelah mendapat kepastian mengenai sungai Cimanuk, Raden Wiralodra dan Ki Tinggil segera membuka ladang dan membangun gubuk. Daerah tempat tinggal mereka kian hari semakin ramai oleh pendatang. Salah satu penduduknya adalah seorang wanita cantik yang bernama Nyi Endang Darma.

Nyi Endang Darma memiliki keahlian ilmu kanuragan. Karena keahliannya tersebut, datanglah seorang guru beserta 24 muridnya dari Palembang dan menantang Nyi Endang Darma. Namun semuanya tewas  dan dimakamkan pada sebuah tempat yang saat ini dikenal dengan nama “Makam Selawe”.

Mengetahui hal tersebut, Raden Wiralodra menantang Ny Endang Darma untuk adu kesaktian.  Namun, Nyi Endang tidak dapat menandingi kekuatan Raden Wiralodra dan akhirnya mengaku kalah. Setelah itu, Raden Wiralodra mengajak Nyi Endang Darma untuk kembali dan membantunya dalam membangun pedukuhan tersebut. Namun Nyi Endang Darma tidak mau.

Wanita itu memilih meninggalkan pedukuhan tersebut. Namun, ia berpesan agar Pedukuhan yang dibangun Oleh Raden Wiralodra tersebut dinamai dengan namanya karena Nyi Endang Darma merasa turut andil dalam membangun tempat tersebut.

Akhirnya pedukuhan tersebut pun dinamakanan “darma ayu” sebagai tanda untuk mengenang jasa Nyi Endang Darma. Nama inilah yang diperkirakan sebagai asal-usul nama “IndraMayu”.

Kota Indramayu

Berdasarkan prasasti, tulisan dan peninggalan benda-benda zaman dahulu kala, disimpulkan bahwa kota Indramayu berdiri pada tanggal 7 oktober 1527 Masehi atau bertepatan dengan Hari jumat Kliwon. Menurut kalender jawa tanggal ini bertepatan dengan 1 Sura 1449 atau 1 Muharam 934 Hijriyah menurut kalender Islam. Menurut sejumlah penelitian yang pernah dilakukan mengenai sejarak Indramayu, tanggal ini merupakan hari berdirinya pendukuhan yang dibangun oleh Raden Wiralodra.

Sejarah Kota Indramayu tidak berhenti pada pemberian nama saja, namun juga dari tahap-tahap pertumbuhan berikutnya. Berikut ini adalah beberapa kisah penting terkait pertumbuhan kota Indramayu:

 

Desa Junti

Sebuah berita yang bersumber dari Babad Cirebon menceritakan bahwa seorang saudagar China yang beragama Islam yang bernama Ki Dampu Awang datang ke Cirebon pada tahun 1415. Saudagar ini datang untuk melamar Nyi Gedeng Junti, namun ditolak. Dari cerita ini, disimpulkan bahwa bahwa Desa Junti sudah ada sejak tahun 1415 Masehi.

 

Desa Babadan

Sebuah catatan dalam buku Purwaka Caruban Nagari menjelaskan bahwa pada tahun 1417 Masehi Desa Babadan pernah didatangi Sunan Gunung Jati, yang kemudian Ki Gede Babadan.

 

Desa Lemah Abang

Di pusat Kota Indramayu terdapat sebuah desa yang bernama Lemah Abang. Nama Lemah Abang diperkirakan ada hubungannya dengan nama seorang Wali Songo yaitu Syeikh Siti Jenar, yang dikenal juga dengan nama Syeikh Lemah Abang. Diperkirakan bahwa semasa hidupnya, Syeikh Siti Jenar pernah tinggal di desa ini, atau paling tidak, pernah berkunjung dan menyebarkan ajaran Islam di daerah ini.

Dari penggalan-penggalan cerita di atas, bisa ditarik suatu kesimpulan bahwa Indramayu pertama kali didirikan setelah masuknya ajaran Islam di Indonesia. (Nurul Utari)

Tags

You may also like...

0 thoughts on “Indramayu, Bukan Sekedar Mangga”

Leave a Reply

Bangsaku TV

FACEBOOK INIBANGSAKU

TWITTER INIBANGSAKU

<