Indonesia Menyatukan dua Heli Serang Produk dari Negara Blok Barat dan Timur.

Dephankam jadi membeli Heli serang AH64 Apache Long Bow dari AS, maka heli ini akan melengkapi Heli Serang Mil Mi 35 Hind Attack Gunship yang sudah ada.  Ini akan sangat menarik, dua produk dari negara blok barat dan timur disatukan.  Seperti halnya Pesawat Tempur F-16 Fighting Falcon dan Sukhoi 27 yang kita punya, skuadron ini akan menjadikan peralatan tempur kita lebih variatif, dan tentu menjadi lebih kuat.

AH64 Apache Long Bow

AH64 Apache Long Bow

Mil Mi 35 Hind Attack Gunship

Mil Mi 35 Hind Attack Gunship

Sekedar kilas balik, beberapa tahun yang lalu Enam helikopter MI-17 buatan Rusia diserahterimakan dari pihak Rusia ke Departemen Pertahanan (Tempo, 2011).  Enam helikopter ini akan melengkapi 5 helikopter serbu MI-35 dan 6 helikopter MI-17 yang telah dimiliki Indonesia.

Rencananya akan tiba 6 unit lagi pesawat yang sama.  “Sehingga genap 18 heli MI-17,” kata Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro dalam sambutan serah terima di Hanggar Skuadron 26 Pondok Cabe, Jakarta Selatan, Jumat, pada 26 Agustus 2011.

Serah terima ini dilakukan dari pihak JSC Rosoboronexport Rusia kepada Kementerian Pertahanan.  Penyerahan ini dilakukan oleh perwakilan JSC Rosoboronexport Rusia Vadim V Varaksin kepada Kepala Badan Sarana Pertahanan Mayjen TNI Ediwan Prabowo.

Pada acara itu diserahkan enam helikopter MI-17 warna hijau dof. Heli ini merupakan buatan Rusia.  Tahun lalu, Indonesia juga telah mendatangkan 6 heli MI-17.  Hadir dalam acara serah terima ini, Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono, Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Pramono Edhi Wibowo, dan Duta Besar Rusia Alexander Ivanov.

Purnomo mengatakan helikopter MI-17 merupakan helikopter yang multipurpose sehingga bisa dimanfaatkan dalam semua kegiatan.  Kondisi geografis Indonesia dengan banyak kepulauan dan kondisi daerah yang minim lapangan terbang, dibutuhkan alutsista MI-17.  “Indonesia terdiri banyak pulau, belum punya lapangan terbang, dan memiliki ancaman tradisional dan non-tradisional memang diperlukan alutsista seperti heli,” katanya.

Ia berharap helikopter ini dirawat dengan baik, mengingat anggaran pembelian alutsista cukup besar.  Anggaran untuk pembelian alutsista ini mencapai US$ 56 juta. Dalam kesempatan itu, Purnomo berharap anggaran pembelian alutsista terus meningkat, mengingat perekenomian Indonesia semakin membaik dan APBN sudah mencapai 1.400 triliun.  Hal ini dilakukan dalam reformasi jilid II dalam modernisasi alutsista.  “Kita sampaikan paparan peningkatan anggaran kita 5 tahun ke depan pencapaian essensial forces,” katanya.

Indonesia sejak tahun 1997 sudah jarang melakukan penambahan maupun pembaruan alutsista.  Pada 1997, Indonesia sedang mengalami krisis sehingga tidak mungkin melakukan penambahan alutsista.  Saat itu, TNI telah melakukan reformasi jilid I dalam bidang organisasi, depolitisasi, dan debisnisasi.  Purnomo juga mengucapkan terima kasih kepada pemerintah Rusia.

Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Pramono Edhie Wibowo mengatakan pemilihan helikopter ini karena memang memiliki kemampuan yang serbaguna dan daya angkut sesuai dengan kebutuhan di lapangan.  Dengan total 18 heli MI-17, maka sekali angkut bisa membawa pasukan satu kompi.  “Ini akan mendukung pengamanan perbatasan dan pengangkutan logistik,” ujarnya.

Duta Besar Rusia Alexander Ivanov mengatakan pemerintah telah memberikan komitmen untuk membantu Indonesia.  Pengadaan heli ini menggunakan kredit negara Rusia, melalui penerapan syarat yang ringan.  “Pemerintah Rusia ingin kerja sama dengan Indonesia untuk meningkatkan kemampuan pertahanan,” katanya.

Berita di atas sangat menarik bukan saja bagi analis pertahanan nasional Indonesia sendiri, melainkan juga para analis di Washington DC.  Pengalihan Indonesia ke Rusia mencemaskan AS, khawatir pengaruhnya di Asia Tenggara tergeser oleh Rusia dan China.  Maka, buru-buru Parlemen AS segera menyetujui penjualan Heli Serang Apache AH 64 Long Bow untuk Angkatan Bersenjata Indonesia, di luar hibah 24 unit F-16 Block 50. 

Kemungkinan menyandingkan dua heli serang canggih dari dua kutub yang berbeda akan sangat bagus. 


Indonesia, negara pendiri Non Blok, sejak awal berprinsip “Having much friends without enemy”, bebas ke mana saja menjalin kerjasama militer.  Memang seharusnya demikian.  Kita boleh saja dekat dengan AS, namun jangan sampai ‘terikat’ dan bergantung pada mereka.  Kita pun tidak perlu ragu untuk dekat dengan Rusia dan China, karena ketika zaman Presiden Soekarno pun jalinan kerjasama dengan ‘blok Timur’ sangat erat.  Dan Indonesia, sebagai negara merdeka, juga menjalin kerjasama dengan Iran, Venezuela, maupun kelompok negara-negara Amerika Latin termasuk Brazil dan Argentina.


Kembali ke topik kita : dua heli serbu asal Rusia dan Amerika Serikat.  Analis Barat cenderung mengunggulkan Apache atas Mi 35, sama seperti mereka memberi peringkat lebih baik pada Jet Fighter F-16 ketimbang Sukhoi Su 27. Pendapat itu mungkin benar, tapi mungkin juga tidak.  Dalam beberapa momen latihan bersama baik latihan bilateral antara Indonesia-Australia maupun latihan trilateral antara Indonesia-Australia-Amerika Serikat beberapa waktu lalu, di mana kedua jenis pesawat tempur itu terlibat, justru menunjukkan Su 27 lebih hebat ketimbang F 16 bahkan masih lebih unggul jika dibandingkan dengan Jet Fighter F/A-18 Super Hornets sekalipun.  Ini sempat mencemaskan Australia, saat niat mereka untuk mendatangkan F35 Lingthning II sebagai penyeimbang kekuatan udara Indonesia terkendala oleh harga yang terbang tinggi.


Ini mirip perbandingan senjata legendaris AK47 (Rusia) dan M16 (AS). AK47 terkenal sebagai senjata handal, demikian juga M16. AK47, menurut prajurit Kopassus yang pernah menggunakannya, sangat bandel dan kuat.  Senjata ini tidak akan macet meskipun ditenggelamkan di dalam lumpur. 


 

Sumber:

indodefensetechno.blogspot.com

Tags

You may also like...

0 thoughts on “Indonesia Menyatukan dua Heli Serang Produk dari Negara Blok Barat dan Timur.”

Leave a Reply

Bangsaku TV

FACEBOOK INIBANGSAKU

TWITTER INIBANGSAKU

<