Gorontalo Brandingkan Jagung

Dengan Undang-Undang Nomor 38 tahun 2000, Gorontalo resmi menjadi provinsi ke-32 lepas dari provinsi Sulawesi Utara. Perkembangan propinsi muda ini dibandingkan dengan provinsi-provinsi muda lainnya boleh dikatakan lebih pesat. Sejak awal berdirinya provinsi ini ada beberapa hal yang difokuskan sebagai kebijakan pembangunan, yakni pertanian, perikanan, kelautan dan sumber daya manusia. Kemudian pembangunan tersebut harus berorientasi pada pasar –sebuah kewajaran bahwa pada saat itu mantan Gubernur Fadel Muhammad adalah seorang pengusaha sukses.

Sedangkan fokus utama pembangunan provinsi ini adalah pertanian, khususnya jagung. Sedemikian fokusnya dengan budidaya jagung, provinsi ini bahkan memiliki Badan Informasi Jagung. Badan ini menghimpun semua hal yang berbagu jagung, dari bawah sampai pucuknya. Jagung dijadikan fokus dalam pertanian bukan untuk menjadikan Gorontalo berbeda dengan provinsi lainnya. Namun lebih pada usia tanam dan panen jagung yang relatif singkat, sehingga petani dapat memperoleh panen dan penghasilan lebih cepat hanya dalam waktu 115 hari. Jelas ini membuat pertumbuhan ekonomi di Gorontalo lebih besar ketimbang provinsi lainnya di Sulawesi, yakni sebesar 7,4% – 7,5% per tahun.

Di samping itu, jagung merupakan makanan pokok di Gorontalo, yang membuat petani penanam jagung mengerti betul cara membudidayakan tanaman ini. Kemudian pada pasar nasional sendiri, jagung masih dibutuhkan secara luas. Hanya saja kualitas jagungnya harus diperhatikan untuk dapat bersaing dengan jagung impor yang didatangkan untuk memenuhi kebutuhan nasional. Tak mengherankan bila kemudian pada masa panen petani dapat memperoleh keuntungan sebesar Rp.6 juta – Rp.8 juta per satu hektar lahan pertanian jagung.

Pemerintah Propinvisi (pemprov) Gorontalo tak hanya sekedar mendorong sektor pertanian jagung untuk menghasilkan panen berkualitas dan melimpah. Lebih dari itu, pemprov Gorontalo juga mencarikan pasar untuk melempar hasil panen ini. Pemprov Gorontalo sudah menyiapkan terlebih dahulu pasar yang memungkinkan untuk memasukan hasil panen jagung itu. Ini adalah kebijakan yang sebelumnya tidak dilakukan oleh banyak pemerintah propinvisi yang hanya memikirkan hasil panen saja. Namun tidak pernah memikirkan pasar yang seharusnya dituju untuk menjual hasil panen tersebut. Untuk menjaring pasar, pemprov bahkan membuat ladang jagung percontohan layaknya showroom yang dapat langsung dilihat oleh calon pembelinya. Jadi pemprov tak hanya menunjukan potensi wilayahnya saja dengan hasil pertanian jagung, tapi memberikan fakta di lapangan yang sesungguhnya.

Agaknya pemprov Gorontalo sudah mengerti betul bagaimana melakukan sistem dan teknik marketing modern. Terbukti mereka melakukan branding tentang eksistensi jagung Gorontalo yang berkualitas. Dalam setiap kesempatan semua jajaran dalam pemprov –termasuk pejabatnya, dapat menjalankan fungsinya sebagai seorang marketing. Tentu saja yang diperbincangkan adalah tentang jagung dan segala kunggulannya yang ada di Gorontalo. Ini adalah fokus ketiga dalam kebijakan pembangunan yang dijalankan dalam tubuh pemprov Gorontalo.

Selain pasar yang disadari sebagai wadah melempar hasil panen jagung. Maka harga adalah salah komponen yang tidak terlupakan. Dengan pertimbangan bahwa harga panen jagung baik dan menguntungkan petani, tentunya dapat menjadi stimulan bagi petani untuk menanam jagung yang lebih baik lagi. Hal ini juga dibuka di depan para pengusaha yang dihadapkan pada fakta kalau petani merugi dan hanya mau memproduksi sedikit bahkan tidak ada sama sekali. Apakah roda produksi akan menjadi baik atau memburuk? Pertimbangan pada solusi saling menguntungkan adalah jalan terbaik. Untuk menjaga harga tetap stabil pemprov mendirikan BUMD yang fungsinya melakukan intervensi terbatas. BUMD ini akan membeli hasil panen jagung dari petani di kala pasar mengalami penurunan harga. Di samping itu juga memberikan pupuk bersubsidi, untuk memberantas praktek tengkulak yang kerap memberikan pinjaman berupa pupuk. Tentunya dengan konsekuensi panen jagung harus dijual pada tengkulak peminjam pupuk itu. Ini yang menyebabkan laba panen jagung hanya dinikmati oleh para tengkulak bukan pada petani.

Dalam sepuluh tahun setelah menjadi provinsi, pertumbuhan di Gorontalo menggembirakan. Tercatat dalam persentase pertumbuhan ekonomi nasional Gorontalo mencapai angka 7,5%, angka di atas rata-rata nasional yang mencapai 6,1%. Sedangkan hasil panen jagung yang sebelumnya hanya 10 ribu ton, sekarang mencapai angka 250 ribu ton.

Gorontalo diprediksikan dalam pencapaian sasaran MP3EI dalam 25 tahun ke depan, pertumbuhan ekonominya akan meningkat sebesar 8%. Sektor pertanian dan peternakan masih menjadi primadona di Gorontalo, diikuti dengan sektor-sektor lainnya, baik dalam perdagangan maupun investasi lainnya. Komoditi pertanian yang dihasilkan diperkirakan meningkat antara 12 ribu ton sampai dengan 400 ribu ton. Komoditi pertanian dan peternakan ini meliputi jagung, gula tetes, minyak kelapa, tepung kelapa, kopra, udang-kepiting, ikan dan sapi. Kemudian perkembangan industri kecil-menengah, perdagangan dan investasi terentang antara 12 ribu sampai dengan 16 ribu unit usaha.

Tags

You may also like...

0 thoughts on “Gorontalo Brandingkan Jagung”

Leave a Reply

Bangsaku TV

FACEBOOK INIBANGSAKU

TWITTER INIBANGSAKU

<