Fort Rotterdam Saksi Bisu Perjuangan Makassar

Icon Kota Makassar

Salah satu sisa kejayaan Kerajaaan Gowa-Tallo atau lebih dikenal dengan Kerajaan Makassar yang masih berdiri kokoh hingga sekarang adalah Fort Rotterdam atau Benteng Ujung Pandang. Bahkan kini benteng tersebut menjadi salah ikon kota Makassar dan objek wisata yang wajib untuk dikunjungi jika berkunjung ke kota Angin Mamiri.

Benteng ini terletak di jalan Ujung Pandang No.1, berdekatakan dengan Pantai Losari dan berjarak sekitar 1,5 km dari pusat kota Makassar (Lapangan Karebosi). Jika Anda baru saja tiba di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar maka butuh waktu kurang lebih satu jam untuk sampai ke sana. Tapi Anda tidak perlu khawatir karena ada banyak penginapan yang letaknya tidak jauh dari kawasan Fort Rotterdam.

 

Sejarah Benteng Fort Rotterdam

Benteng ini dibangun pada masa pemerintahan Raja Gowa yang ke-9 bernama I Manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tumapa’risi’ Kallonna pada tahun 1545. Benteng yang terletak di pesisir Pantai Barat Kota Makassar ini awalnya dibangun dari kombinasi batu dan tanah liat yang dibakar hingga kering.

Awalnya benteng ini hanya berbentuk segi empat menyerupai bangunan ala Portugis. Rekonstruksi kemudian dilakukan pada masa pemerintahan Raja I Mangerangi Daeng Manrabbia atau yang lebih dikenal dengan nama Sultan Alauddin yang tidak lain adalah raja Gowa ke-14.

Pada masa ini, konstruksi benteng yang awalnya dari tanah liat diganti menjadi batu padas yang berasal dari pegunungan kasrt yang teletak di Kabupaten Maros. Sebenarnya pada masa itu kerajaan Gowa-Tallo memiliki 17 benteng yang tersebar di seluruh wilayah kerajaan dan Benteng Ujung Pandang adalah yang palih megah.

Sebagian bangunan benteng ini pernah mengalami kehancuran pada masa kolonial. Tepatnya pada masa pemerintahan Raja Gowa, Sultan Hasanuddin yaitu sekitar tahun 1655 sampai 1669. Saat itu Makassar dijadikan sebagai markas pertahanan Belanda di kawasan Timur Indonesia.

 

Filosifi Benteng Rotterdam

Benteng Rotterdam oleh masyarakat setempat kala itu dikenal dengan nama Benteng Panyyua. Disebut demikian karena benteng tersebut merupakan markas bagi pasukan katak kerajaan Gowa-Tallo. Dilihat dari bentuknya, benteng ini menyerupai seekor penyu yang merangkak ke arah laut dan menghadap ke arah Selat Makassar. Hal ini mengandung filosfi tersendiri bagi masyarakat.

Penyu diibaratkan sebagai binatang yang mampu hidup tidak hanya di lautan tetapi juga di daratan. Penyu merepresentasikan kekuatan kerajaan dan rakyat Gowa-Tallo yang saat itu mampu bertahan dari berbagai macam kondisi, tidak hanya berjaya di daratan tapi juga di lautan.

 

Fort Rotterdam

Pendudukan Belanda di Makassar dan kekalahan Kerajaan Gowa-Tallo memaksa pihak kerajaan melakukan perjanjian dengan pihak Belanda. Perjanjian tersebut dikenal dengan nama perjanjian Bungayya. Salah satu isi perjanjian tersebut mengharuskan pihak kerajaan menyerahkan Benteng Ujung Pandang kepada pihak Belanda.

Cornelis Speelman yang saat itu memimpin kolonial Belanda di Makassar kemudian mengganti nama Benteng Ujung Pandang menjadi Fort Rotterdam. Nama tersebut dipilih untuk mengenang kampung halamannya di Belanda.

Cornelis Speelman juga membangun kembali bagian benteng yang hancur. Tidak hanya itu, model arsitektur yang tadinya bergaya Portugis juga diubah. Benteng yang tadinya berbentuk segi empat dengan 4 bastion berubah menjadi 5 bastion, sehingga lebih bergaya Belanda.

Pada masa itu, Fort Rotterdam tidak hanya berperan sebagai benteng pertahanan bagi pihak Belanda. Tetapi sekaligus berperan sebagai gudang penyimpanan rempah-rempah dan pusat perdagangan rempah dari seluruh kawasan timur Indonesia sebelum dikirim ke Belanda. Bahkan benteng ini pernah dijadikan sebagai penjara bagi orang-orang yang dianggap melawan Belanda, salah satunya adalah Pangeran Diponegero.

 

Museum LagaLigo

Salah satu objek menarik yang sayang jika dilewatkan saat berkunjung di Fort Rotterdam adalah museum La GaLigo. Museum ini menjadi tempat penyimpanan benda-benda bersejarah dari Kerajaan Gowa-Tallo secara khususnya dan beberapa kerajaan lainnya di Sulawesi-Selatan secara umum.

Di dalam museum, Anda dapat mengenali sejarah Makassar dan Sulawesi-Selatan secara lebih dekat. Berbagai benda bersejarah dari masa lampau terdapat di dalam museum ini. Antara lain artefak dari masa pra sejarah, aneka pakaian tradisional bangsawan dan masyarakat Sulawesi-Selatan, alat transportasi tempo dulu, dan juga replika perahu phinisi yang menjadi kebanggaan suku Bugis-Makassar yang terkenal sebagai pelaut ulung, serta masih banyak lainnya.

Satu hal yang membuat Benteng Ujung Pandang atau Fort Rotterdam menarik adalah di sini anda bisa melihat tempat di mana Pangeran Diponegoro menghabiskan sisa hidupnya, yakni di salah satu ruangan kecil di Fort Rotterdam. Bahkan beberapa pihak meyakini bahwa jasad Pangeran Diponegoro juga dimakamkan di Kota Makassar, walaupun demikian kebenarannya belum bisa dipastikan 100%.

Kabar gembira bagi anda yang berencana berwisata ke benteng ini adalah tidak dipungut biaya apapun ketika akan memasukinya alias gratis. Hanya saja jika Anda ingin memasuki museum La Galigo anda harus membayar uang masuk sebesar 5000 rupiah, biaya yang tergolong murah.

Selain itu, tempat wisata sejarah benteng ini juga dijadikan sebagai tempat berkumpul oleh sebagian warga Makassar. Bahkan berbagai event sering diadakan oleh komunitas-komunitas tertentu di area Fort Rotterdam.

 

Oleh: Nurul Utari

You may also like...

0 thoughts on “Fort Rotterdam Saksi Bisu Perjuangan Makassar”

Leave a Reply

Bangsaku TV

FACEBOOK INIBANGSAKU

TWITTER INIBANGSAKU

<