Festival Bau Nyale

Antara Tradisi & Kesehatan

Festival Bau Nyale atau menangkap nyale (cacing laut) di Pulau Lombok Nusa Tenggara Barat adalah tradisi turun-temurun yang berawal dari suatu cerita legenda. Festival ini sekarang menjadi daya tarik wisata bagi para turis terutama dari mancanegara.

Bila Anda sudah pernah berkunjung ke Pulau Lombok, dapat dipastikan Anda akan menunggu-nunggu kesempatan untuk kembali ke Pulau Surga itu. Selain terkenal dengan keindahan alam pantai, bukit, air terjun, dan pulau-pulau (gili) kecil indah dan eksotis yang tersebar di sekitar Pulau Lombok. Pulau surga ini terkenal pada tradisi budaya mereka yang unik yang telah diselenggarakan secara turun-temurun. Tradisi budaya itu misalnya adalah festival Bau Nyale, atau menangkap Nyale bersama-sama di tepi pantai. Tradisi ini berasal dari cerita rakyat masyarakat Sasak yang terkenal, yaitu Puteri Mandalika.

Kisah dari masyrakat Sasak menyebutkan bahwa Kerajaan Tonjang Beru dengan rajanya Tonjang Beru. Rakyat hidup makmur, aman, dan sentosa. Baginda Raja memiliki seorang puteri yang cantik, cerdas, dan dicintai oleh rakyatnya, bernama Puteri Mandalika. Kecantikan sang Puteri terkenal sampai ke kerajaan-kerajaan tetangga. Banyak raja atau putera mahkota yang ingin meminangnya.

Anehnya Puteri Mandalika selalu menerima semua lamaran kepada dirinya. Hal itu ia lakukan untuk menghindari perang yang mungkin terjadi karena persaingan para calon suaminya. Atau satu kerajaan yang akan menyerang kerajaannya sendiri.

Dalam keadaan gundah sang Puteri bersemedi. Ia mendapat bisikan gaib untuk mengumpulkan semua pangeran dan raja yang telah melamarnya di Pantai Kuta pada tanggal 20 bulan 10 (penanggalan Sasak) di pagi buta, sebelum matahari terbit. Puteri Mandalika pun mengikuti petunjuk dari suara ghaib itu.

Pada hari yang ditentukan, para pangeran yang diikuti pengawal dan rakyat mereka telah memadati  Pantai Kuta dan ingin segera mengetahui siapa pria beruntung yang akan menjadi pendampingnya. Pada waktu menjelang matahari terbit sang Puteri berpidato di atas tebing membelakangi laut lepas. Ia mengatakan bahwa ia tidak akan memilih seorang pun untuk memperisterinya, melainkan merelakan dirinya menjadi anugerah bagi seluruh rakyat Tonjang Beru.

Ia berjanji akan muncul setiap tahun sekali pada waktu yang sama dengan hari pengorbanannya dalam wujud cacing laut yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Setelah mengucapkan kata-kata terakhirnya, sang Puteri melompat dari tebing dan menceburkan diri di laut. Bersamaan dengan lenyapnya tubuh sang puteri, bermunculan ribuan cacing laut beraneka warna yang segera ditangkap oleh rakyat yang berkumpul di pantai.

 

Festival Bau Nyale

Bermula dari kisah itu masyarakat suku Sasak melaksanakan tradisi Bau Nyale, atau menangkap Nyale secara turun-temurun setiap tahun. Tradisi ini dilakukan pada tanggal 20, bulan ke-10 sesuai dengan penanggalan Sasak, atau bulan Februari – Maret sesuai kalender Masehi. Cacing laut ini biasanya muncul di Pantai Kaliantan, Pantai Kuta, dan Pantai Selong Belanak yang dikelilingi oleh deretan perbukitan.

Untuk lebih menarik sebagai atraksi bagi wisatawan, biasanya sebelum puncak acara Bau Nyale, ditampilkan berbagai kesenian budaya Lombok yang digelar di pantai. Seperti, Perang Peresean, Betandak (berbalas pantun), Bejambik (memberi hadiah kepada pasangan), atau pesiar di perairan sekeliling pantai yang disebut Belancaran. Biasanya juga digelar pentas teater dengan lakon Puteri Mandalika.

Puncak acara sekitar pukul 04.00 adalah menangkap Nyale. Masyarakat Sasak mempercayai apabila Nyale yang keluar berjumlah banyak dan berwarna-warni. Artinya tahun tersebut, mereka akan mendapatkan hasil panen yang melimpah.

 

Manfaat dan Khasiat Nyale

Nyale dapat dikonsumsi dengan dimasak pepes. Selain itu biasanya dijadikan emping nyale. Bahkan konon katanya berkhasiat mengusir berbagai penyakit. Kepercayaan penduduk, ada yang menaburkan cacing-cacing laut ini ke sawahnya untuk menyuburkan tanaman. Nyale dapat dimanfaatkan sebagai penyedap makanan dengan cara dikeringkan terlebih dahulu sehingga bisa disimpan dalam jangka waktu lama.

Cacing laut yang hidup di dasar laut atau di lubang-lubang karang ini, termasuk dalam golongan kelas polychaeta. Berdasarkan penelitian ternyata memiliki manfaat dan kandungan gizi yang tinggi. Bahkan kandungan protein yang ada lebih tinggi daripada telur dan susu sapi. Nyale juga memiliki berbagai kandungan mineral yang bermanfaat bagi tubuh seperti fosfor, natrium, dan kalium.

Kepercayaan masyarakat yang meyakini bahwa Nyale bisa digunakan sebagai obat, juga bukannya tanpa alas an. Karena ternyata Nyale memiliki kandungan antibiotik untuk mengobati diare dan mengobati berbagai infeksi. Sayangnya pemanfaatan Nyale sebagai bahan obat atau produk pangan secara serius belum sepenuhnya dilakukan. Selama ini konsumsi Nyale sebagai bahan pangan hanya dilakukan musiman, padahal melihat nilai kandungan gizi yang tinggi pada Nyale, cacing laut ini cukup potensial untuk dijadikan bahan baku atau tambahan untuk produk pangan.

 

Oleh: Nurul Utari

You may also like...

0 thoughts on “Festival Bau Nyale”

Leave a Reply

Bangsaku TV

FACEBOOK INIBANGSAKU

TWITTER INIBANGSAKU

<