Candi Singhasari

Candi yang Tak Selesai

Pada pada tahun 1268-1292 M, seorang Raja yang bernama Raja Kertanegara memimpin Kerajaan Singhasari. Sang Raja yang menganut ajaran Budha dikenal sebagai raja yang tekun beribadah,  arif dan bijaksana dalam menjalankan pemerintahannya. Selain mempunyai sifat-sifat mulia itu, sang Raja juga terkenal akan kecerdasannya. Raja Kertanegara disebutkan menguasai ilmu ketatanegaraan, filsafat, dan mempunyai pengetahuan mendalam tentang agama.

Rakyat Singhasari hidup makmur dan tenteram di bawah pemerintahan Raja Kertanegara. Sang  Raja memerintah kerajaan Singhasari sampai kerajaannya musnah akibat pemberontakan Jayakatwang (raja bawahan Kertanegara yang memerintah Kerajaan Gelang-Gelang) dan mendapat serangan dari pasukan Kubilai Khan darei Mongol.

Menurut catatan sejarah, Kubilai Khan mengirim utusan kepada Raja Kertanegara agar Singhasari mau tunduk kepada Mongol. Sang Raja menjawab pesan tersebut dengan memotong telinga prajurit pembawa pesan Kubilai Khan. Merasa terhina, Kubilai Khan mengirim armada perang untuk menyerang Singhasari. Padahal pada waktu itu keamanan dalam negeri pun sedang terancam, karena pemberontakan Jayakatwang, bahkan Raja berhasil dibunuh oleh Jayakatwang.

Selanjutnya, Raden wijaya, menantu Raja Kertanegara berhasil memperalat armada perang Kubilai Khan untuk menyerang pasukan Jayakatwang dan membunuhnya. Setelah Jayakatwang terbunuh, pasukan Raden Wijaya menyerang armada perang Kubilai Khan dan berhasil mengusirnya dari Jawa. Raden Wijaya kemudian mendirikan kerajaan Majapahit.

Banyak yang mempercayai bahwa Raja Kertanegara dimakamkan di Candi Singhasari. Namun para ahli sejarah berpendapat bahwa berdasarkan ciri-ciri bangunannya candi ini adalah tempat pemujaan bagi  Dewa Siwa.

Candi Singhasari terbuat dari batu Andesit, dan dibuat dengan cara ditumpuk-tumpuk kemudian diukir dengan berbagai bentuk relief. Bagian bawah candi yang masih kosong tanpa ukiran menguatkan dugaan bahwa candi ini belum tuntas dibangun. Berbeda dengan bagian atap candi yang telah dihiasi berbagai pola relief yang indah. Menurut perkiraan, pengerjaan candi itu dimulai dari bagian atas terlebih dahulu. Pembangunan candi tidak sampai tuntas mungkin diakibatkan oleh perang yang dipicu oleh pemberontakan Kerajaan Gelang-Gelang pimpinan Raja Jayakatwang.

Candi Singhasari adalah candi Hindu-Budha yang dibangun pada tahun 1304 dan terletak di Desa Candirenggo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur,  kira-kira 11 Km di sebelah utara kota Malang.  Alas candi berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 14 X 14 m dan tinggi 15 m.

Di kompleks candi terdapat pula beberapa bangunan candi dan arca. Menurut perkiraan, dahulu terdapat sekitar lima buah bangunan suci Hindu dan Budha di sekitar candi utama.

 

Patung Dwarapala

Terdapat juga patung raksasa penjaga yang disebut Dwarapala, berukuran 4 m yang berdiri di dekat alun-alun. Patung raksasa itu sangat mengerikan karena membawa gada dan kepalanya mengenakan mahkota yang terbuat dari ular dan tengkorak manusia. Disebutkan bahwa patung penjaga dengan ciri-ciri tersebut hanya terdapat di Candi Singhasari.

Lambang Lingga dan Yoni

Seperti ciri candi Jawa pada umumnya, di ruang utama candi pada bagian kaki candi terdapat lambang Lingga dan Yoni (lambang kelelakian dan kewanitaan).

Arca

Arca-arca yang terdapat di Candi Singhasari adalah, Arca Ganesha, Arca Siwa Guru, Arca Prajnaparamita atau Dewi Kebijaksanaan, Arca durga, dan Arca Agastya. Sayangnya,  kita tidak dapat melihat langsung menyaksikan Arca Dewi Kebijaksanaan di Candi Singhasari karena saat ini arca tersebut berada di Museum Nasional Indonesia, sedangkan beberapa arca yang lain menjadi penghuni Museum Tropika di kota Leiden Belanda.

Saluran air

Yang menjadi salah satu keunikan Candi Singhasari ini adalah adanya saluran air di bagian bawah candi. Diduga saluran ini dahulu mengalirkan air ke dalam ruangan tempat lambang Lingga Yoni dari sebuah pancuran.

Arca Kepala Dewa Kala

Di atas ruangan pada bagian kaki Candi, terdapat arca kepala Dewa Kala. Pada bagian kaki candi terdapat ruangan-ruangan kosong, tidak diketahui dengan pasti apakah ruangan-ruangan ini dahulu berisi arca yang kemudian hancur atau dicuri.

Pemugaran

Pada masa penjajahan Belanda, yaitu sekitar tahun 1934 pernah dilakukan upaya menjaga kelestarian Candi Singhasari dengan cara membongkar dan memugarnya kembali. Pemugaran itu  tetap tidak dapat mengembalikan bentuk asli bangunan Candi karena tidak tersedianya bahan bangunan yang sama dengan aslinya. Namun, proses pemugaran candi terus dilanjutkan, hingga selesai pada tahun 1936.

Akses

Bagi para wisatawan yang ingin berkunjung ke Candi Singhasari tidak akan mengalami kesulitan, karena jaraknya tidak terlalu jauh dari pusat kota Malang. Dari kota Malang para wisatawan dapat menuju ke Pasar Singosari terlebih dahulu dengan naik angkot, kemudian dari pasar Singhasari dapat menuju komplek Candi yang jaraknya hanya sekitar 500 m saja. Anda dapat memilih berjalan kaki, naik becak, atau ojek motor.

 

 

Oleh: Nurul Utari

You may also like...

0 thoughts on “Candi Singhasari”

Leave a Reply

Bangsaku TV

FACEBOOK INIBANGSAKU

TWITTER INIBANGSAKU

<