Busyro dan Kesederhanaan…

busyro

JAKARTA, inibangsaku.com – BUSYRO Muqoddas memanfaatkan kesempatan bersilaturahim dengan media pada hari terakhirnya bertugas sebagai Komisioner Komisi Pemberantasan Korupsi periode 2010-2014 untuk meminta maaf kepada rakyat Indonesia. Ada satu cita-cita yang belum tercapai, menjadikan pemberantasan korupsi sebagai ideologi pembebasan kaum tertindas.

Busyro melihat rakyat sebagai korban paling menderita dari korupsi. Dalam setiap kesempatan, dia mengemukakan betapa rakyat hanya menjadi pelengkap penderita. Cerita rakyat yang berdaulat di negerinya hanya mimpi. Semua pupus karena korupsi.

”Korupsi itu tumor ganas yang mematikan secara masif dan pelan-pelan. Lapar dulu, stres dulu, baru depresi dan mati. Pelan-pelan, tetapi mematikan,” ujar Busyro.

Sebagai dosen yang masih aktif mengajar meski menjabat Komisioner KPK, Busyro selalu menggunakan banyak istilah ilmiah. Itu pula kritik yang dilontarkan wartawan saat mengawali silaturahim pada pagi hari terakhirnya bekerja di gedung Jalan HR Rasuna Said, Kavling C1 Kuningan, Jakarta Selatan.

Seperti saat pria kelahiran Yogyakarta, 17 Juli 1952, ini berbicara soal pemberantasan korupsi sebagai ideologi pembebasan bagi kaum tertindas, menurut Busyro, hal itu belum dicapai KPK. Sementara korupsi semakin dinamis, baik modus maupun pelakunya.

”Pemberantasan korupsi di Indonesia harus diletakkan dalam konteks pembebasan rakyat yang tertindas. Penindasnya adalah proses politik yang korup dan tak menjadikan rakyat berdaulat di negerinya,” ujar mantan Ketua Komisi Yudisial ini.

Bagi Busyro, konstitusi menjamin kedaulatan rakyat. Implementasinya yang tak pernah kunjung terwujud. Peraturan perundangan justru mengebiri hak rakyat. Tujuan utama bernegara agar rakyat adil dan sejahtera belum tercapai.

Semua itu, menurut Busyro, karena korupsi menjangkiti penyelenggara negara, dan bahkan membudaya.

Mudah diwawancarai

Soal kesederhanaan ini sempat mengagetkan jurnalis. Jurnalis Lembaga Kantor Berita Nasional Antara, Desca Lidya, yang pernah bertandang ke rumah Busyro di Yogyakarta, terheran-heran dengan kesederhanaan rumah petinggi lembaga negara itu.

”Bayangan saya kalau petinggi di kepolisian dan kejaksaan, kan, kaya raya. Tetapi, begitu saya ke rumah Pak Busyro, yang ada hanya kesederhanaan,” kata Desca.

Sikap santun dan rendah hati membuat Busyro menjadi salah satu komisioner yang paling mudah dimintai komentar. Gaya bicaranya ceplas-ceplos, tetapi akurat. Jurnalis peliput di KPK, Mahendra Bungalan, mengatakan, meski banyak pernyataan Busyro yang bahasanya ”melangit”, dia tak pernah ”offside”.

Silaturahim pagi itu bukanlah perpisahan bagi sebagian wartawan. Mereka berharap suatu saat masih bisa bertemu kembali dengan Busyro.

(sumber:kompas)

You may also like...

0 thoughts on “Busyro dan Kesederhanaan…”

Leave a Reply

Bangsaku TV

FACEBOOK INIBANGSAKU

TWITTER INIBANGSAKU

<