Budaya Masyarakat Jawa Tondano

2

Inibangsaku.com – Pada awal kehadiran masyarakat Jawa di Kampung Tondano ini adalah sekelompok masyarakat Jawa yang ditangkap dan diasingkan sebagai tahanan politik oleh tentara kolonial Belanda pada tahun 1828 beserta Panglima Perang mereka ketika berlangsungnya Perang Jawa (1825-1830), dan pada tahun 1829 menyusul Kyai Mojo beserta 63 orang pengikutnya, mereka semua ditangkap dan diasingkan sebagai tahanan politik ke Minahasa Sulawesi Utara.

Penduduk Kampung Jawa Tondano sendiri, sebenarnya bukanlah seluruhnya masyarakat dari Pulau Jawa, tapi berasal dari berbagai daerah di Indonesia, seperti dari Sumatra (Palembang, Sumatra Utara dan Aceh), Kalimantan (suku Banjar), Maluku dan Suku Arab Indonesia. Masyarakat komunitas Jawa Tondano adalah hasil dari percampuran etnis dan saling mempengaruhi dalam budaya dan kesenian di Kampung Jawa Tondano. Karena mayoritas dari mereka awalnya adalah masyarakat dari Pulau Jawa, oleh karena itulah kampung mereka pun lebih dikenal dengan nama Kampung Jawa Tondano.

Pada mulanya Kyai Mojo dan kawan-kawan ditempatkan di daerah kawah, sedangkan dahulu daerah kawah merupakan tanah rawa yang tandus dan ganas, tapi berkat keuletan rombongan Kyai Mojo yang semuanya laki-laki, tanah yang awalnya tandus, kini dapat dibangun menjadi daerah persawahan yang subur. Kondisi ini menjadikan daerah ini kebanggan bagi masyarakat asli Tondano khususnya dan Minahasa umumnya, dan sekaligus menaruh hormat kepada Kyai Mojo. Sebagai penghargaan masyarakat Tondano dan Minahasa, maka mereka merelakan putri-putri terbaik mereka untuk dipersunting oleh rombongan Kyai Mojo, dari titik inilah terjadi pembauran dan integrasi.

Dengan bentuk bangunan yang beragam diluar etnis Tondano, terdapat budaya seni yang berbau daerah asalnya misalnya saja tradisi selamatan adat jawa yang berasal dari Jogjakarta. Di Jogjakarta sendiri seni ini masih hidup tapi selamatan jawa yang ada di Kampung Jawa Tondano sudah melalui proses perkembangan sehingga tidak sama dengan asalnya, baik peralatan yang dipakai ataupun pembacaan tembangnya. Selain itu terdapat pula salawatan melayu (Hadrah) yang mirip dengan salawatan jawa. Dan kesenian tari disebut samra atau dana-dana, diperkenalkan oleh Sayyid Abdullah Assagaf dari Palembang pada awal abad 20.

You may also like...

0 thoughts on “Budaya Masyarakat Jawa Tondano”

Leave a Reply

Bangsaku TV

FACEBOOK INIBANGSAKU

TWITTER INIBANGSAKU

<