Bregada

Penjaga Kebudayaan Kesultanan Yogyakarta

[dropcap]P[/dropcap]ada setiap kerajaan tentunya memiliki pasukan militer yang fungsinya untuk keamanan dan pertahanan kedaulatan kerajaannya. Sama halnya dengan kesultanan Yogyakarta yang memiliki pasukan militer dengan berbagai unit kemiliteran. Seiring dengan perkembangan jaman, pasukan militer ini sudah tak menjalankan fungsi sesungguhnya. Berubah wajah menjadi bagian dari kebudayaan kesultanan Yogyakarta. Pasukan militer ini disebut sebagai ‘Bregada (baca: bregodo)’.

Dalam kesultanan Yogyakarta terdapat 10 pasukan militer yang terdiri dari berbagai bentukan. Sepuluh pasukan ini, adalah Wirobrojo, Dhaheng, Patangpuluh, Jogokaryo, Prawirotomo, Ketanggung, Mantrijero, Nyutro, Bugis dan Surokarso. Komandan masing-masing pasukan ini memiliki kepangkatan Kapten dengan wakilnya berpangkat Panji. Di dalam pasukan-pasukan itu terbagi-bagi dalam regu-regu yang dikomandani oleh seorang bintara berpangkat Sersan. Sedangkan para perwira yang ada dalam bregada ini dikomandani oleh seorang Pandega.

Sedangkan keseluruhan bregada ini dipucuki oleh Manggalayudha. Pada masa sekarang bregada kraton Ngayogyakarta Hadiningrat ini berada dalam lingkungan Pengageng Tepas Kaprajuritan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Fungsinya yang sudah berubah menjadi bagian dari kebudayaan, membuat bregada ini hanya tampil dalam acara-acara yang diselenggarakan oleh keraton Yogyakarta. Dalam setiap kehadirannya, bregada ini akan tampil sesuai dengan urutan yang sudah ditetapkan sebelumnya. Urutan penampil bregada ini disesuaikan dengan fungsi sebenarnya pasukan ini pada jaman dahulu. Bregada ini mampu menarik perhatian publik terutama kala diselenggarakannya upacara Grebeg Mulud/Sekaten.

Biasanya penampil pertama bregada dibuka dengan kehadiran Wirobrojo yang memang kalau terjadi peperangan selalu berada di garis terdepan. Ciri khas pasukan ini adalah warna merah yang meliputi seragam sikepan, dan celananya, serta topi yang disebut Kudhup Turi seperti lombok atau cabai. Karena warna merahnya, terkadang pasukan ini disebut sebagai ‘Prajurit Lombok Abang (Prajuri Cabai Merah)’. Sedangkan para prajuritnya biasanya menyandang nama ‘Brojo’ sebagai identitas dirinya.

Lalu di belakang pasukan Wirobrojo terdapat pasukan Dhaheng yang berasal dari Sulawesi. Seragam yang digunakan adalah baju aksen merah di dada dan tepian bajunya, dan celana panjang putih bergaris merah di tepiannya. Kemudian topinya berwarna yang disebut mancungan dengan hiasan bulu ayam merah-putih. Biasanya para prajurit Dhaheng ini memakai atribut ‘Niti’ pada namanya.

Berbaris di belakang pasukan Dhaheng adalah 40 orang yang merupakan anggta dari pasukan Patangpuluh. Pasukan ini dahulu dikenal memiliki keberanian dan ketangguhan di medan perang. Pasukan ini memiliki seragam sikepan dengan kain lurik khas Patangpuluh, celana panjang utih yang ditutupi celana pendek merah, rompi juga berwarna merah, sepatu bot hitam dan songkok hitam pula. Atribut ‘Himo’ adalah atribut yang sering dimasukan dalam nama para prajuritnya.

Penampilan berikutnya dalam defile pasukan keraton yogyakarta adalah pasukan Jogokaryo dengan ciri khas rompi berwarna kuning emasnya dan topi warna hitam bersayap. Nama yang menjadi ciri khas prahurit ini biasanya terselip nama ‘Parto’.

Sedangkan pasukan Prawirotomo yang ada di belakangnya adalah pasukan yang memiliki sejarah dari 1000 prajurit Laskar Mataram yang berada di pihak Pangeran Mangkubumi ketika menghadapi Kompeni Belanda. Prawirotomo bisa diartikan sebagai ‘perwira utama’ atau ‘prajurit utama’ merupakan pasukan yang selalu menang dalam setiap pertempuran. Prawirotomo mengenakan seragam sikepan warna hitam, celana panjang putih dengan celana pendek merah menutupinya, sepatu bot hitam dan topi hitam seperti kerang. Ciri khas nama prajuritnya terdapat atribut ‘Prawiro’.

Kemudian disusul barisan pasukan Ketanggung yang fungsi sebenarnya adalah menjaga keamanan dalam lingkungan keraton Yogyakarta. Termasuk pula sebagai pengawal sultan bila bepergian ke luar keraton. Seragam yang digunakan adalah kain lurik khas Ketanggung, bercelana panjang putih ditutupi celana pendek hitam, topi mancungan hitam dengan hiasan bulu-bulu ayam. Nama prajuritnya biasanya menyandang atribut ‘Joyo’.

Lantas pasukan Mantrijero merupakan pasukan yang terdiri dari menteri-menteri yang ada di keraton dan biasanya memiliki tugas sebagai hakim. Tugas utama pasukan ini pada jaman dahulu adalah menjadi pengawal sultan ketika digelarnya Upacara Jumenengan Dalem Nata di Bangsal Sitihinggil. Nama yang para prajurit Mantrijero ini bercirikan ‘Joyo, Bahu, Prawiro atau Rono’.

Lantas pasukan Nyutro adalah pasukan yang tak memiliki fungsi atau kecakapan militer. Pasukan ini merupakan unit yang terdiri dari orang yang dapat menari. Pasukan Nyutro terbagi dua, yakni pasukan Padma Sri Kresna dengan seragam serba hitam atau gelap, rompi hitam, bercelana panji hitam, kain kampuh biru tua-putih, dan ikat kepala udeng gilig hitam. Pasukan kedua Podang Ngisep dengan seragam merah atau terang. Kedua kelompok iniidak menggunakan alas kaki.  Biasanya para prajuitnya mengambil nama-nama dari tokoh pewayangan.

Sedangkan pasukan Bugis yang eksistensinya sama dengan pasukan Dhaheng berasal dari Sulawesi. Tugasnya adalah menjaga Pepatih Dalem yang ada di Kepatihan. Namun pada jaman kolonial dahulu pasukan ini berada di luar kewenangan Keraton Yogyakarta. Sedangkan pada jaman ini, tugas pasukan ini menjadi pengawal Gunungan di setiap acara Grebeg. Prajurit Bugis dapat diketahui dari namanya yang memakai atribut ‘Rangsang’.

Sedangkan pasukan Surokarso adalah pasukan yang biasanya hadir mengiringi Gunungan yang ada di depannya. Pada jaman dahulu tugas utama pasukan ini adalah menjaga dan mengawal Pangeran Adipati Anom atau putera mahkota yang ada di Dalem Mangkubumen.

Cikal Bakal

Selain 10 bregada utama Keraton Kesultanan Yogyakarta terdapat pula beberapa pasukan lainnya, seperti Sumoatmojo, Jager, Langenastro dan Langenarja. Pasukan Sumoatmojo merupakan bagian dari pasukan Nyutro yang bertugas sebagai pengawal pribadi sultan dengan membawa tameng dan pedang. Komando pasukan Sumoatmojo langsung dari sultan.

Kemudian pasukan Jager adalah pasukan yang memiliki tugas mengawal para pegawai dan abdi dalem keraton. Pasukan ini melengkapi dirinya dengan senjata api. Pasukan Jager sama sekali tidak memiliki seragam, seragam yang dipakai biasanya sama dengan abdi dalem. Mungkin kalau sekarang bisa dikatakan pengamanan tertutup. Sedangkan pasukan Langenastro adalah pasukan yang merupakan bagian dari pasukan Mantrijero. Sedangkan Langenarja kabarnya merupakan kesatuan dengan anggota prajurit perempuan.

Sistem pertahanan benteng Keraton Yogyakarta tak hanya sebatas pada tembok bentengnya saja. Melainkan juga membuat parameter d luar tembok benteng. Caranya adalah dengan menempatkan pemukiman-pemukiman bregada ini di sebelah selatan, timur dan barat. Sedangkan di bagian utara terdapat benteng Vredeburg kepunyaan Belanda.

Nama-nama bregada itu kemudian malahan menjadi penamaan sebuah wilayah pada saat ini. Bila ke Yogyakarta, kita akan menemukan wilayah bernama Nyutran dan Surakarsan di sebelah timur, di selatan terdapat Mantrijeron, Jogokaryan, Prawirotaman dan Jageran, dan di barat adalah Wirobrajan, Ketanggungan, Bugisan dan Patangpuluhan. Wilayah-wilayah tersebut tadinya merupakan pemukiman para prajurit menurut kesatuan bregadanya.

Bregada sangat setia pada Keraton Kesultanan Yogyakarta, bahkan jauh dari itu sampai semasa masih menjadi Mataram. Prajurit-prajurit Mataram tak pernah gentar menghadapi musuhnya. Bahkan Kompeni Belanda saja sampai kewalahan menghadapi pasukan Mataram. Ketika terjadi Perjanjian Giyanti di tahun 1755 memecah Mataram menjadi Kesunanan Surakarta dan Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, pasuka Mataram sebagian besar mengikuti Kesultanan Yogyakarta. Yogyakarta memang kerajaan baru, tapi sudah memiliki militer yang sangat besar dan kuat.

Sayangnya ketika terjadi Geger Spei (1812) –pasukan Yogyakarta menghadapi pasukan Sepoy India yang dibawa Inggris, pasukan ini mengalami kekalahan. Sultan Hamengku Buwono II kemudian dibuang ke Penang. Lantas pasukan ini dikerdilkan fungsinya hanya sebagai penjaga sultan, keluarga dan lingkungan keraton saja. Sebenarnya kekuatan militer di Yogyakarta tidaklah habis benar. Terbukti pada Perang Jawa, kekuatan militer ini mampu membuat pasukan Kompeni Belanda kocar-kacir. Sayangnya sejak berakhirnya perang Jawa itu, kekuatan militer Yogyakarta hanya tinggal seribu prajurit saja dengan persenjataan yang hanya sebagai simbol.

Kekuatan militer keraton sama sekali habis ketika Jepang melakukan pendudukan di Indonesia. Demi menjaga agar pasukan militer Kesultanan Yogyakarta tidak dimanfaatkan oleh Jepang, maka Sultan Hamengku Buwono IX kemudian membubarkan kesatuan-kesatuan yang ada. Baru kemudian di tahun 1970-an, Sultan Hamengku Buwono IX menghidupkan kembali kesatuan-kesatuan ini.Namun fungsinya bukan sebagai kesatuan militer lagi. Fungsinya menjadi bagian dari kebudayaan dan tradisi di Yogyakarta.

 

Sumber:  khasdjogdja.wordpress.com

Tags

You may also like...

0 thoughts on “Bregada”

Leave a Reply

Bangsaku TV

FACEBOOK INIBANGSAKU

TWITTER INIBANGSAKU

<