Ayah Imam Bonjol dari Pagaruyung

Padang – Leluhur Tuanku Imam Bonjol dari jalur nasab berhasil ditelusuri dengan menggunakan metode ranji ABS SBK dan dukungan Arsip Nasional. Ayah pahlawan besar ini, Khatib Bayunuddin ternyata seorang bangsawan Kerajaan Pagaruyung. Namun akibat konflik, ia bersama 40 orang pengiringnya, mengundurkan diri ke luar Minangkabau dan akhirnya mendarat di Sulawesi Selatan. Demikian antara lain catatan yang dapat ditarik dari diskusi pendalaman lebih lanjut dari latar belakang doktrin Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS SBK) sebagai jati diri Minangkabau, di Bagindo Aziz Chan, Padang, Sabtu (18/8).

Acara dilaksanakan Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional (BPSNT) Padang bekerjasama dengan Gebu Minang. Dalam acara pembukaan di hadiri Ketua Gebu Minang, Mayjen (Purn) Asril H. Tanjung S.Ip., juga memberikan sambutan tertulis Gubernur Sumatra Barat yang saat itu di jabat Gamawan Fauzi (Mentri Dalam Negri).

Dalam pertemuan ini dibedah dua buah buku, yaitu buku Christine Dobbin, edisi 2008, “Gejolak Ekonomi, Kebangkitan Islam, dan Gerakan Paderi, Minangkabau 1784-1847, Komunitas Bambu, Jakarta, serta buku Drs. Sjafnir Aboe Nain, 2008, “Tuanku Imam Bonjol, Sejarah Intelektual Islam di Minangkabau (1784-1832), Penerbit Esa, Padang.

Panelis terdiri dari Dr. Gusti Asnan, Dr. Erwiza Erman, MA., Drs. Sjafnir Aboe Nain, serta Drs. Zulqoyyim. Seluruh panelis menghargai pendekatan komprehensif yang digunakan Christine Dobbin, yang didukung data yang amat kaya, sehingga sangat bermanfaat dalam upaya memahami sejarah Minangkabau.

Dalam diskusi inilah kemudian diketahui, keturunan Tuanku Imam Bonjol dari jalur nasab, yang menghasilkan dua temuan, yaitu bahwa ayah Tuanku Imam Bonjol, Khatib Bayanuddin, ternyata adalah seorang bangsawan kerajaan Pagaruyung.

Peserta secara khusus memberikan perhatian pada penegasan Dobbin, Perang Paderi bukanlah merupakan perang antara kaum adat dengan para ulama, sebab pada kedua belah pihak terdapat baik kaum adat maupun para ulama.

Dari data yang ada dapat diambil kesimpulan substansi doktrin ABS SBK berasal dari Tuanku Imam Bonjol, setelah ia menyadari dan mendapat laporan dari empat orang utusan yang dikirim ke Tanah Suci bahwa kekerasan yang dilakukan kaum Paderi sebelum itu adalah merupakan suatu kesalahan dan harus diperbaiki.

Untuk mendalami keseluruhan aspek dari Gerakan Paderi ini, serta untuk menindaklanjuti doktrin ABS SBK, telah dibentuk dan diresmikan sebuah ‘Lembaga Kajian Gerakan Paderi, 1803-1838’

Dalam acara ini juga telah diperkenalkan Ranji ABS SBK dengan mempergunakan software Family Tree Maker yang telah dibahas amat intensif di kalangan para perantau yang aktif di RantauNet, yang menggabungkan ranji adat berdasar sistem kekerabatan matrilineal dengan ranji berdasar ajaran nasab yang diajarkan agama Islam. Diketahui pula rombongan ayah Tuanku Imam Bonjol di Sulawesi Selatan kemudian beranak pinak. Orang Bugis mencatat dengan cermat peristiwa tersebut, dan menyampaikan keinginan agar tali darah antara orang Bugis dengan kerajaan Pagaruyung ini disegarkan kembali.

Keinginan tersebut ditampung dalam susunan kepengurusan Lembaga Kajian Gerakan Paderi 1803-838. Salah seorang cucu Tuanku Imam Bonjol, Hari Ichlas, seorang pengusaha, telah memperoleh kepastian hukum tentang hubungan darahnya menurut garis nasab dengan Tuanku Imam Bonjol, yang selain dikukuhkan dengan sebuah akta notaris juga didaftarkan pada pengadilan negeri dan pengadilan agama.

Sekadar catatan, terdapat perbedaan yang sangat signifikan antara kesimpulan acara bedah buku Dobbin yang sama di Unimed Medan pada tanggal 14 Oktober 2008, yang pada umumnya mereduksi masalah Perang Paderi ini pada masalah ekonomi dan logistik belaka, dan cenderung menyebut Perang Paderi sebagai ‘perang dagang’ dan secara kategoris menyatakan bahwa Perang Paderi bukan ‘perang agama’.

Kesimpulan dari acara bedah buku di Padang ini sangat berbeda, dengan memberikan perhatian pada keseluruhan aspek yang terkait dengan gerakan Paderi , baik aspek politik, ekonomi, sosial budaya, agama, dan militer, yang juga mengandung aspek-aspek baik yang dapat ditindaklanjuti melalui pengkajian yang lebih mendalam serta secara terus menerus.

Menurut Gusti Asnam “Buku karya Christin Dobbin ini menjadi ikon kajian tentang Islam di Minangkabau karena merupakan sebuah hasil studi yang mengkombinasikan sejarah ekonomi, sosial, politik, perang, dan agama, yang sangat relevan” kata Gusti.

Pada acara yang digelar di Gedung Bagindo Aziz Chan sejak pukul 09.00 WIB tersebut turut dilantik pengurus Lembaga Kajian Gerakan Paderi dan pembacaan hasil rumusan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK).

Ketua Dewan Penasehat GEBU Minang dan Penggagas Lembaga Kajian Gerakan Paderi, Saafroedin Bahar, mengatakan Perang Paderi selama ini hanya identik dengan kekejaman. Padahal, menurutnya tanpa Perang Paderi mungkin saja saat ini masih banyak orang Minang yang melakukan tindakan menyimpang seperti sabung ayam.

Lembaga Kajian Gerakan Paderi adalah sebuah organisasi yang digagas salah satunya untuk menjernihkan pemahaman terhadap keseluruhan Gerakan Paderi, termasuk untuk mencegah timbulnya prasangka yang akan merugikan persatuan dan kesatuan bangsa.cr08

Harian Singgalang

 

Sumber: http://pustakamarola.wordpress.com

Tags

You may also like...

One thought on “Ayah Imam Bonjol dari Pagaruyung”

  1. deny says:

    Bgs sekali apa yg di kupas.tp saya ada sedikit pertanyaan.dimana pernah di katakan dari orng tua tua bahwa ada kaitan antara pagaruyung dengan kesultanan sambas.apakah ada benar ada nya.

Leave a Reply

Bangsaku TV

FACEBOOK INIBANGSAKU

TWITTER INIBANGSAKU

<